Wahai Tuhan, betapa banyak Engkau telah memberikan karunia sebelum doa-doa terucap. Betapa pemurahnya Engkau selalu menyediakan makna sebelum imajinasi berubah menjadi kata-kata. Wahai Tuhan yang tiada banding, betapa rahmat itu selalu Kau curahkan melalui sapaan-sapaan yang terlantun, yang terdengar hingga menggetarkan denting telinga itu. Maka, peganglah telinganya dan tariklah mereka ke dalam perkumpulan yang selalu Kau berkahi.

Permainan kata atau retorika sangat dibutuhkan, bukan untuk memperindah estetika di depan kemajemukan, kecuali hanya sebagai wujud kerendahan hati sang pemain kata. Kata laksana manusia yang memiliki otentisitas makna yang menggambarkan maksud dan tujuan dihadirkannya semua itu ke dalam satu perkumpulan yang sama.

Sebagai sebuah ruang kolektifitas, kita harus belajar menyadari bahwa peran utama dari mewujudnya ruang kebersamaan mereka bukanlah andil orang-orang tertentu, kecuali hanya Sang Maha Tunggal. Ada atau tidaknya kebersamaan merupakan segala sesuatu yang telah diberikan “la hawla wa la quwwata illa billah.” Begitupun dengan Selasan, sebagai salah satu ruang kolektifitas sangat diperlukan kesadaran akan kehadiran-Nya.

Akan tetapi sebagai sebuah individu, kita mesti berhati-hati atau lebih waspada terhadap segala bentuk kenikmatan yang membahagiakan diri. Rasa syukur itu hadir setelah kita sadar diri, baik benar ataupun salah, kita selalu memohon permintaan ampunan dari-Nya. Apalagi sebagai individu, kita tidak bisa berangkat atas keinginan diri menuju “perkumpulan yang selalu diberkahi-Nya”. Kita harus berangkat dengan kesadaran “la illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh-dholimin” atau “robbana dholamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin.”

Nampaknya, majelis wirid dan sholawat Selasan sendiri lebih banyak andil dalam spiritualitas diri. Seperti niat keberangkatan Selasan sendiri yang mana merupakan dekonstruksi dan revolusi di wilayah spiritualitas. Dengan panduan yang tidak berubah sedari awal, hal itu tidak akan banyak menambah kapasitas di ranah intelektualitas, melainkan bertambahnya kapasitas ruang hati. Melalui apapun bentuk kata-kata yang menjadi ujiannya, meski kebingungan sering meliputi diri ketika membacanya.

Selasan ke-65 kali ini diadakan di Panti Daruus Sundus, tempatnya Pak Eko sebagai ketua panti tersebut. Begitu pun dengan guliran awal format Selasan yang baru, setelah sebelumnya telah disepakati kalau ada 2 model penentuan tempat acara Selasan, yakni “Ngunduh” dan “Ketempatan”. Begitupun dengan penegasan akad “Kotak Cinta” yang selama ini diputarkan setelah selesai wirid, yang bertujuan sebagai lumbung Maneges Qudroh dengan dasar dhawuh Mbah Nun pada acara “Ajibah Maiyah” 2 tahun yang lalu di Jombang. Jadi, kotak cinta tidak digunakan untuk membantu aktivitas agenda Maneges Qudroh selama ini.

Berikutnya, Mas Dhian sebagai pembawa acara menyampaikan bahwa ada kejutan pada malam hari ini, yakni hadirnya seperangkat rebana baru bagi para pilot Selasan. Benar bahwa selama ini, alat-alat yang dipakai masih sebatas meminjam milik kelompok lain. Pun keinginan memiliki sendiri pun akhirnya terwujud atas dasar inisiasi menyambung silaturahmi kepada dulur-dulur MQ yang berhalangan menghadirkan dirinya dalam kebersamaan. Sekalipun banyak upaya telah dilakukan, akan tetapi kedatangan itu selalu menyapa dari arah yang tidak disangka-sangka.

Namun, jika kembali ke awal tulisan, apakah kita telah berhasil menggali salah satu harta terpendam dengan harap menemukannya? Apabila kebahagian yang hadir menyapa banyak menambah kenikmatan dan ucapan rasa syukur, hingga rasa haru menyelimuti diri. Tidakkah pada saat itu kita mesti banyak merenungkan diri untuk lebih mengenali antara rahmat atau murka. Terlebih dengan menimbang rahmat Tuhan yang sering tersembunyi di dalam hukuman-Nya dan sebaliknya.

Sembunyi bukan berarti rahmat itu tidak menampakkan diri, kecuali hanya untuk menguji manusia-manusia itu sendiri. “Supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih/paling baik amalnya.(67:2) Atau jangan-jangan diri ini ingin lebih nampak ketimbang rahmat yang selalu menyelmuti, sekalipun ia bersembunyi?

Panti Daruus Sundus, 2 Maret 2021