Ngrumat-Ngramut Merapi

Seperti biasanya acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng tidak pernah sepi dari jamaah. Tak terkecuali pada Sibar di Balai Desa Dukun Kecamatan Dukun Magelang pada Kamis malam, 4 September 2018 waktu setempat. Meski jarak tempat parkir yang di-setting panitia menuju lokasi cukup jauh tak mengurungkan antusias jamaah yang berdatangan. Cahaya obor nan artistik sengaja disiapkan di sepanjang jalan dari segala penjuru yang ada sehingga nampak bak bintang-bintang yang temaram.

Ribuan jamaah sudah tumpah ruah berdesakan sejak turun waktu Isya. Para penjaja kaki lima khas masyarakat menengah pun tak ketinggalan meramaikan acara Sibar tersebut. Seakan momen kali ini layaknya Hari raya bagi segenap hadirin yang merindukan Mbah Nun dengan sinau barengnya.

Pada kesempatan ini Balai Taman Nasional Gunung Merapi selaku sohibul hajat mengajak kepada seluruh stakeholder dan masyarakat, khususnya yang hidup di sekitar gunung Merapi untuk berkolaborasi dalam konservasi “Ngramut Merapi”. Ngramut atau Ngrumat merupakan padanan kata yang kurang lebih berarti merawat, menjaga atau menyayangi.

Lau anzalnaa haadzaal qur-aana ‘alaa jabalin lara-aitahuu khaasyi’an mutashaddi’an min khasyyatillahi wa tilkal amtsaalu nadhribuhaa li-nnaasi la’allahum yatafakkaruun(a) menjadi pijakan awal bahwa dulu sebelum manusia diberi amanat oleh Allah, gunung-gunung, bumi dan alam ini lebih dulu menolak untuk mengemban amanat tersebut sebab beratnya konsekuensi di baliknya. Maka hari ini di Jakarta bisa kita lihat bagaimana kebodohan-kebodohan manusia dipertontonkan.

Mbah Nun mengajak masyarakat di sekeliling Merapi untuk mengingat kembali jejak Ki Ageng Mangir yang pernah digembleng oleh Sunan Kalijogo untuk menyebarkan Islam di sekeliling Merapi. “Iki mbiyen okeh Auliya ndek ngisor Merapi kene. Kowe kudu tetep nduweni lemahmu iki! Sebab lingkungan hidupmu adalah pakaianmu. Martabatmu”. Pesan Mbah Nun lugas.

Soal demokratis mbah-mbah kita dulu lebih demokratis. Suku Badui dalam, Suku Amatoa ketika memilih pemimpin, mereka melibatkan hewan dan tanaman saat ‘pemungutan suara’. Sebab mereka adalah mitra bukan bahan eksploitasi belaka seperti saat ini. “Mergo tanduran, kewan, gunung, alam sak piturute kui kakangmu. Ono sak durunge menungso diciptakke”, tandas Mbah Nun.

Melalui tembang Man Taman, Mbah Nun menggaris bawahi soal bangsa Indonesia ini yang sudah kehilangan popoknya. Kehilangan martabatnya. “Lemahmu dudu duwekmu”. Bahkan Negara ini pun tidak jelas milik siapa. Negara dan Pemerintah tidak dibedakan.

Kekalahan di Perang Uhud menyebabkan Rasulullah terluka, sehingga membuat malaikat hendak mengangkat gunung uhud untuk membinasakan kaum kafir jika saja Rasulullah mengiyakan inisiatif malaikat tersebut. Al Uhudu jabbalun yuhibbuna wanuhibbuhu, justru kalimat itu yang Rasullullah katakan. Maka hendaknya di Merapi juga kita perlakukan sebagai saudara kita. Al Merapi jabbalun yuhibbuna wanuhibbuhu.

Menurut Komandan SAR DIY Mas Brotoseno, BPBD dan TNGM adalah lembaga kemanusiaan oleh karenanya jangan berorientasi proyek. Mau bikin simulasi, mikir perhitungan biaya konsumsi dan seterusnya. Di Zona Mitigasi tidak boleh ada praktek-praktek penambangan dengan alasan normalisasi dan macam-macam lainnya. Jika ada, maka perlu dipertanyakan peran BTNGM. Sebab target mitigasi adalah zero accident.

Udara lembah gunung semakin larut malam semakin dingin. Banyak jamaah yang tak kuat menahan buang air kecil. Di sekitar venue terlihat antrian toilet portable cukup panjang. Bahkan Mbah Nun pun sampai ijin ke ‘belakang’ dua kali selama Sibar berlangsung.

Hingga puncak acara hadirin tak banyak yang beranjak pulang. Seakan tak ingin menuntaskan atmosfer kemesraan yang terjadi malam itu. Pakdhe-pakdhe Kiai Kanjeng memuncaki acara dengan beberapa permainan. Jamuran dan tembang-tembang dolanan yang mensimulasikan bagaimana seharusnya kita bekerja sama. Bahu membahu. Kompak satu sama lain dalam tujuan yang sama. Pentingnya kerjasama antara stakeholder dan masyarakat sebagaimana pijakan di awal dalam Ngramut Merapi bersama.

Desa, gunung, dan lestari alamnya selalu membawa kesan dan pesan sendiri bagi siapapun yang bersentuhan dengannya. Berbanding jauh dari bingarnya Jakarta.

(Wahyu Esbe)