Ngenam-nami Manunggaling Manah

Senantiasa mengistiqomahi etos ‘lungguh bareng, rembug bareng, entuk ilmu, entuk sedulur’ dengan berbagai lapisan masyarakat, Maneges Qudroh di hari kelahirannya yang ke 6 ini kembali menegaskan niatnya dalam ‘Nyambung Ilmu untuk Paseduluran’ dan ‘Nyambung Paseduluran untuk Ilmu’. Berbekal rasa syukur atas ridho Allah yang telah meng-isro’-kan Maneges Qudroh sejauh ini, maka ‘bismillah’, acara Milad Maneges Qudroh Ke 6 dihelat Minggu malam, 5 Februari 2017.

Senada dengan usia yang ke enam tersebut, maka penggalian makna Ngenam-nami menjadi nafas pada Sinau Bareng kali ini. Lantas apa makna dari Ngenam-nami? Dan apa yang di-Nam-nam?

Setali tiga uang dengan kondisi komponen kebangsaan yang akhir-akhir ini terancam untuk tercerai berai, maka Maneges Qudroh mempunyai tugas penting yakni Ngenam-nami atau merajut. Merajutkan kembali agar hati kembali bersatu. Bersatu dengan Allah. Bersatu dengan Rasullullah. Bersatu mempererat paseduluran. Juga bersatu dalam memperluas ilmu. Ngenam-nami Manunggaling Manah.

Bertempat di Kompleks Pondok Pesantren Pabelan seakan mengingatkan pada peribahasa Sejauh kemanapun kembara diperjalankan, pada akhirnya harus menilik ke rumah. Untuk apa? Tak lain untuk evaluasi diri, menggali kebajikan. Maneges Qudroh di kelahirannya 6 tahun yang lalu, mengikrarkan diri di Pondok Pesantren Pabelan yang mana ada profil kesahajaan, tak meninggalkan budaya lokal dan terbuka terhadap segala perkembangan. Dan inilah yang selalu dibawa oleh Maneges Qudroh pula. Sekali lagi Maneges Qudroh seakan dipaksa untuk Eling sangkan paraning dumadi.

Manegesa !

                Pukul 20.00 WIB acara dibuka dengan sedalam-dalamnya rasa syukur kepada Allah SWT. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan oleh Mas Fani dari Maneges Qudroh. Jamaah Maiyah dari berbagai penjuru desa sudah mulai memadati lokasi malam itu. Bahkan sedulur-sedulur MQ dari Bandung, Sukabumi, Kebumen hingga Samarinda turut hadir untuk mangayubagyo Milad Maneges Qudroh yang Ke 6 ini. Tak berselang lama acara memasuki sesi berikutnya.

Iki Wis wayahe Cancut taliwondo…, demikian kalimat yang sering digaungkan teman-teman Jodhokemil pada salah satu lagu ciptaanya. Sebagai penampil pertama, vokalis Jodhokemil, Mas Sigit yang interaktif selalu piawai membawa hadirin pada kesadaran-kesadaran atas apa yang terjadi di sekitar kita. Dengan humor sederhana tapi bermakna, Mas Sigit Cs tampil tidak hanya sebagai penghibur, melainkan sebagai sedulur. Sebagai teman yang saling mengingatkan untuk selalu waspada pada keadaan-keadaan zaman yang tidak jelas. Dan malam itu jamaah yang hadir berulang kali memberikan applause, gelak tawa, sekaligus ekspresi bahagia sebagai apresiasi yang lahir dari hati.

Usai sedulur Maneges dari Jodhokemil, sebait parikan disusul arak-arakan tumpeng dan puluhan tampah aneka pala kependem juga pala gumantung meringsek ke area venue, merebut perhatian ribuan pasang mata jamaah yang hadir.

               

Tan dingelmu, Manegesa

                Manegesa ning Kang Murbeng Dumadi

                Ya Allah Subhanahu Wa Ta’ala

                Kang wus jelas, jarene kang minulya

                Yo kang aran Manungsa

                Supaya ugi maneges

                Maneges amrih kamulyaning jati, kamulyaning jati

 

Riuh rendah Sedulur Maneges dari Komunitas Lima Gunung mulai menghipnotis khalayak. Tidak kurang dari 120 personil, sedulur Maneges dari berbagai wilayah tersebut, malam itu menjadi penampil yang ditunggu-tunggu para hadirin. Berbagai tarian mulai dari Soreng, Kuda Lumping, hingga ada Goh Muko yang berwajah garang, benar-benar menjadi suguhan istimewa di hati para jamaah maiyah yang hadir, sekaligus rasa aman pada kelestarian kekayaan budaya Indonesia. Maneges Qudroh sungguh beruntung bisa menjalin pasedulurun kepada mereka.

Tiba pada saat yang dinanti, Sinau Bareng Cak Nun dan Kiaikanjeng dimulai dengan Sholawat kepada Rasulullah. Cak Nun yang nampak segera naik ke atas panggung disambut anak-anak kecil yang berebut mencium tangan Beliau. Virdhian segera saja mempersilahkan Cak Nun untuk mengambil tempat. “Sugeng rawuh Bapak kami, Simbah kami. Guru Kami. Bapak Muhammad Ainun Nadjib. Ini rumah kami Cak, Maneges Qudroh. 6 tahun lalu kami berkumpul di sini dan berjanji untuk tidak akan saling menyakiti ” agak terbata-bata karena menahan kebahagiaan, Virdhian menyampaikan sambutan kepada Simbah. Melaporkan kegiatan MQ selama ini. Sinau bareng mencari ilmu dan paseduluran dalam kesetiaaan, istiqomah dan kesabaran.

Sebagai anak, Virdhian tak lupa mengingatkan bahwa nama Maneges Qudroh adalah pemberian Mbah Nun kala itu. Maka pada kedatangan Mbah Nun kali ini tumpeng dipotong dan dihaturkan kepada beliau. Sekaligus menandai milad MQ ke-6 ini. Suasana sentimentil terjadi ketika tumpeng dipotong oleh Mas Dhida mewakili MQ sebagai anak yang memberikannya kepada Bapaknya yang ditakdzimi. Dan pada kesempatan yang sama ini diserahkan pula Buku bertajuk Ngenam-nami Manunggaling Manah. Sebuah buku yang merefleksikan berbagai pandangan maupun ungkapan para jamaah Maiyah Magelang atas perjalanan MQ selama ini. Selebihnya, Simbah diminta untuk mendoakan Maneges Qudroh.

Sebelum mendoakan, Mbah Nun mengingatkan kembali makna: Maneges Qudroh. Bahwa orang hidup itu memang harus negesi (masdhar) atau Maneges (adverb) dalam seluruh urusan baik individu, keluarga, masyarakat, negara dan seterusnya, selalu memerlukan proses dan upaya untuk maneges. Nah, yang ditegesi oleh teman-teman Maneges Qudroh adalah rukun iman yang ke-6. Yaitu Qudroh. Kehendak Allah.

“Ada kata Qodar, Taqdir, ada Qudroh dan seterusnya. Dalam bahasa arab terdapat banyak variable dalam satu kata. Sebagaimana Islam, salim, salam, salama, silmun, macem-macem. Dan Islam itu bukan kata dasarnya, melainkan nam-namane” tutur Simbah. “Nam-naman iku adonan, racikan. Jadi Islam itu pekerjaan Ngenam, dudu identitas. Dudu lembaga. Sopo ae ngenam urip kanti apik untuk tujuan suci berarti kuwi Islam. Makna Hakikinya”, tambah Mbah Nun menegaskan.

Sedang kata Maneges menurut Simbah dalam bahasa arab itu Tahkiq, dari kata haqqun. kebenaran yang dikenali benar sebagai kebenaran. “Judul iki manunggal karo sing tak batin ro tak pikirke. dadi kowe jan, anakku tenan”, ungkap Simbah.

Mbah Nun menambahkan, ketika Allah mengatakan “Kun!”, saat itulah Allah mengawali Ngenam urip. Allah menciptakan proses Islam. Dan Qudroh itu kehendak Allah untuk diri kita. Pada saat yang sama kita diberi hak demokratis berkehendak sendiri. Dan untuk itu kehendak kita harus yang menyesuaikan dengan kehendak Allah.  “Qudroh itu takdir yang dinamis sesuai update atau kejadian-kejadian mutakhir yang anda alami. Allah berhak mengubah takdirnya kepada anda. Perubahan takdir itu yang bernama Qudroh”, tandasnya.

Puluhan tedho atau nampan berisikan hasil bumi dibagikan pada jamaah yang hadir. Mulai dari jagung, ketela, kacang, pisang dan lainnya disuguhkan untuk dinikmati bersama. Malam itu, suasana kebersamaan menjadi bentuk yang lebih nikmat daripada makanan itu sendiri.

“Yang kita nikmati adalah manunggaling manah kita hari ini. Kalau kita tawaf di ka’bah, apa kita menyembah ka’bah? Kalau kita hormati bendera, apa kita menyembah bendera? Yang kita hormati adalah kemesraan bangsa indonesia yang menyatukan diri di rumah yang namanya Republik Indonesia. Ngono cara berfikire!” kata Cak Nun menyelingi.

Mbah Nun juga menyinggung kesalahpahaman atas makna cinta kepada suatu hal. Cinta kepada apapun harus 100 persen. Cinta kita kepada anak, kepada keluarga, kepada apapun yang memang kita cintai, tidak berarti cinta kita kepada Allah terbagi. Sebab cinta bukanlah hitungan matematis. Cinta kita 100 persen kepada keluarga adalah wujud kita cinta kepada Allah. Meskipun cara mencintai pada satu hal berbeda dengan cara mencintai pada hal yang lain. Selebihnya Mbah Nun mengajak Jamaah bertawajuh memohon doa agar senantiasa mendapat pancaran cahaya dari Allah SWT.

 

Pak Nadjib selaku Tuan Rumah menyampaikan rasa syukur atas acara malam itu. Beliau mengungkapakan bahwa pemilihan tempat ini merupakan pertimbangan karena gedung paling timur adalah perpustakaan sebagai simbol belajar. Sebab dulu Bapak Beliau Alm. KH. Hamam berpesan, bahwa ayat yang pertama itu adalh ‘Iqra’. Semakin ke barat ada halaman luas sebagai simbol pengamalan ilmu. Hingga sampai sisi paling barat ada masjid yang bermakna ibadah. Orang yang berilmu tidak akan lupa beribadah. Lalu ada makam di paling ujungnya. Orang akan mati juga pada akhirnya.

Pada kesempatan selanjutnya, Pak Camat Kota Mungkid menyampaikan selamat kepada MQ, sekaligus menghimbau akan pentingnya persatuan. Beliau berharap agar semua lapisan masyarakat jangan sampai terpecah belah. Oleh karena itu diperlukan perekat. Salah satunya komunitas seperti Maneges Qudroh. Dengan acara semacam ini mampu menggerakkan berbagai elemen masyarakat.

Simbah merespon kegelisahan Pak Camat dengan simulasi dua orang yang saling kenal lalu salah satu diantara mereka ingin memberi modal usaha pada orang yang satunya apakah memerlukan hitam di atas putih atau tidak? Hitam di atas putih itu digunakan karena adanya saling tidak percaya satu sama lain. Maka perlu diketahui bahwa hukum itu bukan sesuatu yang mulia. Dia hanya jalan terakhir. Hukum terpaksa dilakukan karena asumsi dasarnya kamu tidak percaya karena orangnya tidak bisa dipercaya menurut kamu. Indonesia ini asumsi dasarnya semua orang tidak dapat dipercaya. Dan semua hukum itu menganggap semua orang itu tidak jujur.

“Kita sudah terlanjur bilang supremasi hukum. Hukum paling tinggi. Sebenarnya supremasinya bukan hukum melainkan keadilan, moral, kearifan. Kalau terpaksa tidak bisa pakai kearifan, terpaksa tidak bisa pakai moral dan silaturahmi yang baik, terpaksa memakai hukum. Jika hukum tidak jalan juga, Tonyo!. Pakai militer. Kan gitu?” papar Simbah.

Mbah Nun melanjutkan panjang lebar bahwa sekarang ini di Jakarta semua pakai jalan yang paling rendah yaitu hukum. Sedikit-sedikit nuntut. Simbah lalu menyitir ayat Surat Al Hujurat “Wa-in thaa-ifataani minal mu’miniinaaqtataluu fa-ashlihuu bainahumaa…. bil ‘adli wa-aqsithuu innallaha yuhibbul muqsithiin” damaikan dan selesaikan dengan keadilan.

Di Jakarta itu halangannya adalah tidak bisa diselesaikan dengan apik-apikan. Ngapuro-ngapuronan. Hukum harus dijalankan untuk menghasilkan yang menang dan yang kalah. Maka Indonesia ini butuh pertemuan antar orang tua yang berwibawa. Sebab kewibawaan yang dapat mengatasi kekuasaan. Kalau ini tidak terjadi, maka Ahok menang atau kalah di pengadilan sama-sama berdampak buruk sesudahnya.

“Jadi Persatuan dan Kesatuan itu akibat. Bukan sebab. Orang tidak mungkin bersatu kalau tidak berada di dalam keadilan bersama. Orang tidak mungkin bergotong-royong kalau hatinya tidak ikhlas satu sama lain. Maka yang harus dilakukan oleh pembangunan negara saat ini adalah menciptakan situasi silaturahmi, kebaikan bersama untuk membangun situasi satu sama lain yang saling percaya di antara masyarakat. Nanti kalau terpaksa baru hukum”, tegas Mbah Nun.

Satu nomor KiaiKanjeng memberi intermezo. Kuasa dan singgasana mengisahkan tekad kuat Rasulullah dalam mengemban tugas kenabian. Sekalipun segala fasilitas dan kemewahan hidup ditawarkan untuk menghentikan perjuangan, Rasulullah tetap teguh pada jalan perjuangannya. Bahkan andai matahari di tangan kanan juga rembulan di tangan kirinya. Dakwah tidak akan terhenti karenanya.

Wahyu Esbe | MQ

Tulisan Terkait