Nasib dan Kesetiaan Terhadap Cahaya

Catatan Rutinan Maneges Qudroh ke-107

Pada kesempatan ini, rutinan akan diselenggarakan membersamai masyarakat di sekitar tempat tinggal Mas Munir di Dusun Pasuruhan, Mertoyudan, Magelang. Ketika rutinan Bulanan Maneges Qudroh akan diselenggarakan, beberapa seniman lokal berdatangan untuk membantu menata panggung. Karena Mas Munir sendiri merupakan salah seorang seniman musik dan teater di Magelang, yang belum lama ini  baru saja selesai menggelar konser refleksi akhir tahunnya dengan tema “Merajut Bunyi”.

Sinergi yang cukup lama bersembunyi, pada kesempatan ini seolah mulai menemukan kepercayaan dirinya lagi. Hal itu terbukti pada penataan gaya tampilan panggung yang sangat artistik dan unik. Bayangkan saja jika kebersamaan seperti ini dapat terjaga setiap bulannya. Betapa menariknya visualisasi tampilan dan dokumentasi yang cukup instagramable. Setidaknya hal ini akan menjadi pemacu Maneges Qudroh selalu berusahamembersamai dan menjadi ruang bagi siapa saja untuk sinau bareng.

Menjelang Maghrib, persiapan telah selesai. Langit yang mendung menjadi kekhawatiran tersendiri, seandainya langit ingin segera memungkasi kegembiraan yang baru saja terselesaikan dengan guyuran berkahnya. Karena sudah merupakan hal yang umum, jika hujan selalu menjadi tantangan tersendiri bagi para jamaah untuk berangkat ke acara-acara sinau bareng.

Beruntung sampai dimulainya acara, kekhawatiran tersebut tidak menjadi sebuah kenyataan, bahkan hingga acara selesai. Taddarus dalam mengawali acara seperti protes kepada langit yang tersampaikan oleh karena kekhawatiran akan datangnya hujan. Surah An-Nuur yang dilafadzkan oleh salah seorang warga setempat memang tepat untuk mencahayai rutinan pada malam hari ini dengan tema “Jejeg Ajeg Tatag Teteg.”

Kesenian, Nasib, dan Kesetiaan

Setelah taddarus selesai, lantunan shalawat dari adik-adik Qalbun Nada menjadi rayuan-rayuan selanjutnya untuk menodong syafaat Kanjeng Nabi agar acara yang berjalan nanti selalu dilandasi dengan rasa cinta dan kasih sayang oleh karena Rasullullah SAW.

Pak Tanto yang sudah hadir bersegera naik ke panggung  di awal sesi pertama. Beliau menyampaikan beberapa poin penting yang mungkin sudah menjadi permasalahan umum para pelaku seni. Dengan keahlian menganalisisnya, Pak Tanto mengomentari masalah terkenalataupun keberuntungan ketika menjadi pelaku seni. Tentu analisis ini tidak sembarangan, karena sampai sekarang,beliau masih sibuk dengan Komunitas Lima Gunung-nya yang sudah mendunia. Dan, besok Maret atau April agendanya adalah mengisi salah satu kelas di Melbourne University.

Bahkan sampai banyaknya negara yang pernah dikunjungi, Pak Tanto sendiri merasa bahwa Komunitas Lima Gunung ini lebih terkenal di luar negeri daripada di Indonesia. Untuk urusan terkenal, Pak Tanto juga memberikan wejangan ke beberapa pelaku seni khususnya di kota Magelang. Menurut Pak Tanto, masalah terkenal sangat erat kaitannya dengan nasib. Para musisi seni di Magelang menurutnya tidak kalah kualitasnya dengan Didi Kempot.

“Dahulu kira-kira ada 1200 wali, tapi mengapa hanya 9 wali saja yang terkenal, kenapa?” Pak Tanto mencoba memberikan contoh agar jamaah mudah memahami. Karena pada masa itu berada di kisaran abad 15, yaitu masa kolonial Portugis, Belanda, maupun pedagang-pedagang Arab yang banyak naik kapal.

Ada sufi yang sangar (hebat) menurut Pak Tanto, tapi pada masa itu ia tinggal di daerah Gunung, yang sudah pasti tidak pernah ada kaitannya dengan kapal. Maka tidak ada yang mengetahuinya atau menceritakannya karena letak geografisnya. Jadi, Kiai terkenal pun sangat erat kaitannya dengan keadaan zaman. “Saya ini sudah terlanjur kena penyakit Emha Ainun Najib.” Lanjut Pak Tanto. Dan berhubung ini adalah sinau bareng Maneges Qudroh, makanya Pak Tanto bisa berbicara seperti itu.

“Saya dan Lima Gunung akan bubar gasik jika ada cita-citanya hanya tentang terkenal atau menghasilkan duit.” Kata Pak Tanto. Yang diperlukan adalah sebuah strategi. Sebuah strategi yang tentu saja kompatibel dengan zamannya. Pak Tanto pun juga pernah mengalami hal yang serupa dengan para pelaku seni di Magelang selama 30 tahun. Strategi yang dahulu dipakai Pak Tanto pun jika dipakai di zaman sekarang belum tentu bisa kompatibel. Yang terpenting adalah kesetian kepada apa yang kita kerjakan.

Keindahan yang Segera Layu

Pak Tanto pun lebih awal meninggalkan panggung karena ada keperluan yang lain. Berikutnya, Dzikir Munajat Maiyah dilantunkan bersama, dielaborasi dengan shalawat berjanjen yang sudah melekat untuk menyesuaikan dengan masyarakat umum. Kekhusyukan menjadi pemandangan yang mengharukan, sebuah dahaga kerinduan seolah telah tuntas malam itu. Walau meski sekedar menyapa, akan tetapi kehadiran seolah telah mengisi tiap relung hati para perindu.

Perwakilan dari GP Anshor Mertoyudan, Bapak Arifin, lalu Gus Aushofdan beberapa rekan yang lain dipersilahkan naik ke panggung untuk mbebertema Jejeg Ajeg Tatag Teteg. Pertama-tama, sambutan dari wakil masyarakat dipersilahkan untuk merespon acara pada malam hari ini.Ungkapan terima kasih tentunya tak lupa disampaikan kepada seluruh insan yang terlibat pada acara malam hari ini untuk belajar bersama di Desa ini.

Berikutnya, Mas Taufan yang menulis mukaddimah diberikan kesempatan untuk membuka apa maksud dari tema malam hari ini. Fenomena suka menunda-nunda pekerjaan karena terlalu banyak mempertimbangkan sesuatu menjadi permasalahan yang sudah menjalar. Hal ini justru terjadi disaat masyarakat mudah mendapatkan akses terhadap ilmu. Ilmu yang seharusnya membuatnya jejeg ajeg, akan tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Tatag itu tidak memiliki rasa sumelang atau was-was. Waton trabas, atau asal nabrak. Dan akhirnya menjadi sebuah ke-teteg-an atau kekokohan. Mas Taufan menyampaikan jika “salah” adalah hal yang lumrah terjadi kepada manusia. Setinggi-tingginya ilmu yang didapat, tidak dapat bisa dijadikan jaminan bahwa manusia dapat menghindarkan diri dari sebuah kesalahan.

Kemudian, Gus Aushof memberikan respon. Menurutnya, di kalangan santri istilah ini dijadikan sebagai sebuah pondasi. Akan tetapi, ketika Gus Ausof mencoba menanyakan apakah pernah mendengar istilah tersebut dari orang tua, ternyata tidak ada yang merespon. “Mengapa kita Jejeg Ajeg saja tidak tahu?” Gus Aushof menegaskan.

Mas Hasan kemudian menambahkan, bahwa jejeg sudah ada pada ihdinash-shiratal mustaqim. Sedangkan ajeg sangat erat kaitannya dengan istiqamah. Dan, tatag teteg itu sendiri ada pada asma’ul-husnaYaa Qawwiy Yaa Matiin”. Beda lagi dengan Mas Munir, yang masih niteni urutan antara 4 kata yang menjadi tema. Karena, Mas Munir dalam berkesenian hingga bersosial masih merasa terbolak-balik dalam menerapkannya. Setidaknya, ketika beliau belajar menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Malam itu kian bertambah spesial, beberapa tamu dari Simpul Maiyah lain turut menghadiri acara rutinan edisi ke-107. Ada Mas Amin, dan 2 temannya dari Bangbang Wetan (Surabaya), Mas Haq, Mas Wakijo, dan Mas Labib (Gambang Syafaat, Semarang), serta Mas Roni (Maiyah Dualapanan, Lampung). Setelah serangkaian acara di Kadipiro, mereka menyempatkan diri untuk mampir ke Magelang, menyambangi saudara-saudara Maneges Qudroh Magelang.

Tentu, kesempatan itu sangat dimanfaatkan oleh para penggiat Magelang. Mas Wakijo yang sangat otentik dengan shalawatannya di Gambang Syafaat, dimohonkan untuk mempersembahkan 1 atau 2 lagu untuk menghibur para jamaah. Semua bergembira, dan yang penting bahagia seperti apa yang selalu diucapkan oleh Gus Ompong. Semua saling mengutarakan pendapatnya, menambahkan kompleksitas makna disaat pintu mukaddimah dibukakan. Semua saling sinau untuk menyatakan kebenaran, hingga kenyataan terkadang butuh kesabaran.

Pak Arifin menambah lagi makna tentang Jejeg Ajeg merupakan sebuah pekerjaan Allah, dimana Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu tidak berusaha mengubahnya. Jejeg Ajeg adalah suatu hal yang mesti didasari oleh ilmu. untuk melangkah menuju tatag teteg supaya tidak asal nabrak.Jejeg Ajeg menurut Pak Arifin tak lebih dari sekedar ikhtiar, sedang tatag teteg-nya adalah tawakkal hingga berbuah rasa sabar.

Sebenarnya, Jejeg Ajeg Tatag Teteg filosofinya sudah terwakili oleh poster yang terpampang. Bahwasanya, ia adalah sebuah pohong yang menjulang tinggi. Jejeg Ajeg pohon tersebut hanyalah tentang sebuah pertumbuhannya yang mengikuti cahaya. Sedang TatagTeteg-nya adalah sebuah kesetiaan kepada cahaya. Ilmu hanyalah penghias, layaknya bunga yang disaat mekar memberikan keindahan. Tapi keindahan itu tidak abadi karena  suatu saat akan layu, gugur. Akan tetapi jika kemanfaatan ilmu itu digunakan dengan sebaik-baiknya, bukan tidak mungkin sebuah pohon baru sanggup tercipta atas andilnya.

Tak terasa waktu telah melebihi waktu yang telah ditetapkan, shalawat “Yaa Rabbi bil-Mustofa” berkolaborasi dengan adzan dari Mas Munir menandai acara telah mencapai puncaknya. Kemudian, shalawat dan lagu-lagu dari Mas Wakijo mengiringi jumpa kami pada malam penuh hikmah tersebut sembari saling bersalaman.

Magelang, 5 Januari 2020