Ketika akhirat berada di depan, sedangkan dunia berada di belakang. Serasa perjalanan masih sangat jauh dengan minimnya perbekalan. Bahaya itu amat besar seolah ajal begitu dekat. Belum lagi, dengan begitu banyak permainan tipu daya, sanggupkah kita berjalan sendirian?

Kebersamaan menjadi suatu hal yang penting ketika kita merasa mudah khawatir dengan diri sendiri, setidaknya untuk saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya. Kebersamaan itu sendiri diikat oleh kesetiaan. Namun, apakah kesetiaan menjadi suatu yang utama untuk dipelajari di dalam lingkungan kebersamaan formal ataupun non-formal? Atau di kalangan lingkungan yang merasa dirinya pandai?
Kesetiaan sering mewujud dalam bentuk kebiasaan duduk melingkar untuk membahas apapun. Sebuah proses untuk mengasah daya intelektual. meskipun terkadang masih terjebak kepada sosok-sosok tertentu. Bukan kepada ilmu yang disampaikan atau ilmu yang tersirat dalam suasana lingkaran itu sendiri.

Kanjeng Nabi pernah bersabda bahwa menuntut ilmu itu wajib bagi tiap-tiap muslim. Jadi, kerendahan hati sangat diperlukan utamanya kepada ilmu. Jika kesetiaan itu tidak menjadi output utama, kita perlu berhati-hati karena ilmu sendiri bisa menjadi sesuatu yang memabukkan dan mengakibatkan banyak kemudharatan. Na’uudzu billaahi min ‘ilmin laa yanfa’.Kita hanya bisa berlindung dari Allah, atas ilmu yang tidak bermanfaat tersebut.

Kesadaran mencari ilmu sangat diperlukan mengingat perjalanan yang masih jauh dan kita buta tanpa penunjuk ilmu. Sedangkan dimensi ruang dan waktu itu sangat banyak. Di sepanjang jalan itu akan banyak sekali pintu yang harus kita masuki. Dari setiap ruang tersebut pula, kita akan dipertemukan dengan pengalaman yang berbeda. Bukankah pengalaman merupakan guru yang terbaik?

Oleh karena itu, kesetiaan akhirnya menjadi buah kesungguhan salah satunya dalam menuntut ilmu. Tidak ada kesetiaan (keteguhan hati dan pengabdian) tanpa kesungguhan. Dengan berbagai sudut pandang keilmuan dan nasab pengalaman, tentu nilai kesetiaan satu dengan yang lainnya tidak dapat disamaratakan. Lantas atas dasar apa kita sesungguhnya bersetia?
Jika alasan utama kita (maiyah) setia karena dipertemukan di jalan cinta yang sama, kepada apa kita mesti setia? Atau siapa? Karena cinta itu hanya kemunafikan tanpa dibarengi dengan wujud kesetiaan.

Dalam kesempatan rutinan ke-116 ini, mari kita saling belajar tentang kesetiaan. Lalu, bersama-sama NANDUR KASETYAN atau menanam kesetiaan itu, baik untuk komunal dan lingkungan sekitar atau untuk diri pribadi masing-masing. Rutinan akan diadakan besok Sabtu, 3 Oktober 2020. Monggo…