MULAT SALIRO

Ibarat seorang pejalan, kita senantiasa terkotori oleh debu, keringat baik basah maupun kering akibat terik matahari, percik tanah akibat cipratan air hujan sampai terlukanya kulit ari kita karena gesekan dengan benda tajam. Momen untuk melihat seperti apakah aroma kita, seberapa banyak kotoran kita, bahkan luka kita, itulah yang dinamakan Mulat Saliro.
Jika dikaitkan dengan diri, semua berawal dari kesadaran untuk terus menerus mengamati dan menerima sepenuhnya unsur yang ada dalam diri kita, yakni fisik (raga), non fisik (hawa nafsu, pikiran, emosi, ego), dan metafisik yakni jiwa.

Lantas untuk apakah Mulat Saliro itu?
Dalam pandangan Falsafah Jawa Mulat Saliro dapat diartikan sebagai melihat ke dalam diri. Gunanya adalah minimal untuk meringankan gerak langkah kita, menyegarkan pikiran kita sampai dengan mematut matutkan diri untuk persiapan goal tujuan perjalanan kita, yakni selamat sampai di ruang dimana Allah hadir dengan seluruh kesejatian-Nya.

Dari penghantar ini, mari di momentum 8 tahun Maneges Qudroh kita buka sel darah kita, denyut napas kita, hasrat hidup kita untuk bersama duduk dalam satu lingkaran paseduluran guna menanam benih mencintai kesejatian dengan merawat dari apa yang tlah kita miliki ini.
Monggo dirawuhi di hari Selasa, 5 Februari 2019 di Omah Maneges Jumbleng Tamanagung Muntilan pukul 19.45 .