Sore itu, Selasa 23 September 2020 hujan merata di wilayah Magelang dan sekitarnya. Menyisakan genangan sepanjang jalan. Bahkan sejak siang hari mendung sudah menyelimuti alam yang perlahan meredup. Membuat sore kemarin terasa dingin, kabut tipis pun menambah hawa sejuk, semakin syahdu mengiringi waktu surup. Informasi Selasan ke-42 pun tersiar melalui pesan singkat grup whatsapp. Yang mengabarkan bahwa Selasan nanti akan bertempat di Dusun Pletukan, Kecamatan Tempuran atau kediaman Mas Dul dan Mas Mufid.

Dulur MQ terus berdatangan di kediaman Mas Dul dan Mas Mufid. Tempat parkir halaman rumah pun penuh dengan kendaraan. Gerimis sesekali turun mengguyur menemani dulur-dulur sampai ke tempat wirid dan sholawat. Mereka terus berdatangan dengan jaket tebal atau mantelnya karena sebagian wilayah Magelang lainya masih hujan. Alas tikar yang sudah terbentang pun sedikit demi sedikit tampak penuh oleh dulur-dulur yang telah datang. Hal ini membuktikan bahwa dengan cuaca tak menjadi alasan yang menyurutkan mereka untuk bermunajat bersama. Sedang Allah pun tidak pernah lelah menaburi nikmat, bahkan di setiap bulir air hujan yang turun.

Sembari menunggu jamaah lainnya, terdengar live streaming youtube channel Caknun.com dengan tema “Nyenyuwun Vaksin Syafaat” dari sound system yang mengawali diskusi sebelum wirid dikumandangkan. Masih membahas seputar Covid-19 yang mulai dari awal bulan di 2020 ini menghantui masyarakat di Indonesia. Yang setiap hari kasusnya terus meningkat. Sayup-sayup di seberang sana terdengar suara Pak Nevi dan Pak Joko mentadabburi vaksinasi syafaat setelah melakukan wirid dan sholawat bersama. Salah satu poin yang terdengar kurang lebih menyatakan tentang getaran yang dirasakan, lalu sebenarnya yang menyiksa kita bukan covid tapi ketidakmampuan diri. Meskipun, Mbah Nun juga dengan bijaksana menyampaikan bahwa tentang benar atau salah cara dan nilai yang kita pegang terkait covid, tidak dapat dipersatukan.

Setelah mendengar live streaming tersebut, Mas Munir lantas membuka diskusi ringan yang menyebutkan bahwa dirinya juga masih selalu merasa was-was dengan adanya kasus Covid-19 ini. Namun demikian, wirid dan sholawat yang dipanjatkan secara mudawamah (terus-menerus) bermanfaat untuk menghadirkan hati. Hati yang selalu mengingat Allah dan Rasulullah. Disamping imunitas yang harus dijaga, ada iman yang terus ditumbuhkan. Di akhir perbincangan Mas Munir juga tak lupa memberikan saran protokol kesehatan kepada sedulur semua yang selalu datang untuk bermunajat bersama.

Perahu wirid dan sholawat pun siap berlayar bersama. Semua sudah bersiap memegang dayung do’a masing-masing untuk menuju ke satu Dermaga. Dermaga yang nantinya akan mengantarkan ke tujuan. Seperti layaknya Dermaga, hanya pemberhentian sementara. Sedangkan Perahu akan berlayar selamanya sebelum akhirnya mesinya sudah tidak berfungsi lagi. Begitulah wirid dan sholawat akan selalu berkumandang sampai akhirnya satu-satu diri ini kembali kepada sang khaliq. “Shohibu-Baiti” menjadi sebuah jangkar, pertanda wirid dan sholawat berakhir tepat pada pukul 23.00.

Semua memang sudah kehendak-Nya, Seperti Allah yang Maha Berkehendak (Al-Iradat). Tak seorang pun dapat menolak keputusan-Nya. Oleh sebab itu tidak ada kejadian tanpa kekuasan-Nya. Tiada suatu kekuatan pun yang dapat membuat seorang hamba taat kepada-Nya kecuali dengan kecintaan-Nya. Dialah yang Maha Memulai segala penciptaan dan Maha Berkehendak atas apa yang diinginkan-Nya. Memang diri ini hanya bisa menjalani kehidupan yang kita tidak pernah tahu kemana diri ini tertuju. Meskipun kejadian di depan masih sangat gelap, tidak pernah bisa ditebak. Yang berlaku hanya kemauan-Nya. Kita hanya bisa terus berdo’a, berhati-hati dan melakoni sesuai porsi.

Acara malam itu pun ditutup, namun obrolan santai masih berlanjut mengingat undangan Selasan di kehendaki karena Mas Mufid sedang mensyukuri karunia Allah yaitu bertemu kembali dengan hari kelahiranya. Malam semakin larut, sembari menyantap kudapan yang telah disediakan, satu per satu sedulur yang hadir memberi ucapan do’a kepada Mas Mufid. Kehadiran Gus Kholil di tengah-tengah para dulur pun turut serta memberikan manfaat. Para pejalan ini pun tak lupa untuk menimba ilmu bersama. Diskusi dan tanya jawab. Sampai pada akhirnya satu per satu dari kita berpamitan.

Dusun Pletukan, 23 September 2020