MRAJANI

Pemimpin Sejatinya Siap Melayani, Bukan Meminta Dilayani! 

Nampak suasana rutinan kali ini, Sabtu, 2 Maret 2019 tak semeriah bulan kemarin dimana banyak sekali yang ikut serawung demi menyambut acara Milad. Tapi, suasana tersebut bukan menjadi sesuatu yang baru bagi kami. Hagemoni dan antusias terjadi penurunan menjadi hal yang wajar. Ditambah alam langit dan darat yang sedang intim bercumbu dengan frekuensi yang cukup sering membuat faktor tersendiri. Terutama bagi yang belum merdeka dari situasi hujan.

doc : manegesqudroh

Tapi, justru segala kemesraan tak menghalangi kebiasaan Maneges Qudroh untuk menyajikan acara rutinan. Para jamaah tetap hadir setia menemani, walau bukan sekedar untuk mencari ilmu, tapi bisa sekaligus bertemu dulur-dulur yang lain. Apalagi bagi Mas Gianto dkk yang datang jauh-jauh dari Ngablak (daerah perbatasan Magelang-Kabupaten Semarang) untuk bersedia datang ke Omah Maneges, meski harus mengalami ban bocor dan menerobos hujan, hal tersebut bukan menjadi masalah. Justru disitulah terkadang tersimpan banyak nikmat menjadi sebuah cerita. Untuk bisa dibagikan kepada yang lain.

Acara dibuka dengan nderes oleh Mas Verdhian dan Mas Ipul yang mendayu-dayu. Dilanjutkan dengan mendendangkan Munajat Maiyah bersama-sama. Di bulan resolusi rendah dan rawan karena mendekati Pemilihan Presiden ini. Dimana gesekan-gesekan mulai meninggi intensitasnya. Kita justru memilih tema ‘MRAJANI’ yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan hiruk pikuk tersebut. Akan tetapi, di awal acara tetap candaan tentang pemilihan Presiden tak luput dari bahasan. Karena sangat menarik memang untuk menyentil orang-orang yang tiba-tiba sibuk dengan situasi pemilihan. Apalagi, masalah intern tentang Kafir-Non Muslim. Kami justru menyajikan kemesraan di panggung ini. Antara peci Maiyah dan topi Tauhid nampak menjadi pembeda pada panggung kali ini. Bukan hanya itu, NU, Muhamadiyah, HTI bahkan seorang Romo pun sering hadir kesini. Jadi perbedaan bukan lagi menjadi hal yang mesti dibahas lagi disini. Tapi, monggo jika ada yang mau berprasangka!

Disaat semuanya membahas tentang hal-hal hebat, kali ini kita hanya belajar bagaimana mrajani orang lain. Bagimana sih sikap yang benar dalam melayani orang lain? Terutama dalamadat jawa, dimana dalam acara-acara tertentu mesti dibutuhkan sklill tata bahasa krama yang sangat kental. Nah, kita tidak pernah mempelajari hal tersebut. Dalam kurikiulum pendidikan pun, hal tersebut seolah sangatlah tidak menarik untuk menjadi bahan wajib pembelajaran. Padahal, unggah-ungguh dan nilai yang tersimpan dalam cara melayani orang lain sangat memperlihatkan bagaimana kriteria orang tersebut. Orang jawa begitu ngajeni/menghormati bahkan sangat memuliakan tamu. Si pelayan pun tak memandang apakah tamu itu tua atau lebih muda sekalipun, akan dilayani semestinya sebagaimana seorang raja.

Narasumber yang didatangkan pun tak seperti acara-acara pada umumnya. Bukan soerang fuqaha, bukan pejabat pemerintah,bukan motivator ulung. Maaf, tidak ada maksud menyinggung sebelumnya, beliau adalah seorang tukang parkir di depan sebuah Toko Mas di Muntilan. Tapi, malam itu kami sangat belajar banyak kepada Pak Dar dan beliau adalah seorang ulama bagi kami pada malam itu. Dalam khasanah Jawa, semakin tinggi kualitas bahasa seseorang, akan semakin menunjukkan kematangan jiwa seseorang. Karena lewat tutur bahasa itulah kita bisa mengangkat derajat orang lain atau menunjukkan sikap hormat kita. Terlebih sebagai orang jawa, jangan sampai kita kehilangan ‘Jawa’nya kita. Jangan sampai lupa atau bahkan dibikin enggan untuk belajar budaya sendiri.

Namun, apa yang terjadi di zaman sekarang orang-orang justru berusaha ingin terlihat tinggi dibanding yang lain. Mereka berlomba, bertanding untuk memacu kepintaran intelektualitasnya yang dianggap mampu membawanya ke tangga kesuksesan. Nilai andhap ashor mulai hilang, sikap tawadhu’-nya ketlingsut entah kemana. Padahal dalam ilmu jawa, untuk mengukur kehebatan seseorang bukanlah dari sisi kepintarannya berorasi atau seberapa banyak material yang telah tertumpuk, melainkan bagaimana sikap bijaksana dan nilai-nilai sosial yang terwujud dalam perilakunya sehari-hari. Sugih tanpo bondo, digjoyo tanpo aji, dan menang tanpo ngasorake.

manegesqudrohmaret
doc : manegesqudroh

Bahkan manusia sekaliber Kanjeng Rasul, Sang Kekasih Allah, diutus bukan untuk mengajarkan Islam. Melainkan untuk menunjukkan akhlak yang mulia seperti apa. Karena islam bukan sebatas identitas, tapi mencakup keseluruhan perilaku yang mewujud ke akhlak seseorang. Banyak fenomena zaman sekarang, orang begitu rajin sembahyang, tapi sangat minim tumbuh sikap bisa menghormati orang lain. Padahal masih seagama, apalagi kalau beda agama, label ‘kafir’ begitu mudah lantang terucap. Menghormati saja masih ragu apalagi mau tumbuh sikap memuliakan orang lain. Lantas dimana asma cinta dan asih yang diagung-agungkan, yang selalu terucap di setiap awal doa Ar-Rahman dan Ar-Rahim?

Pak Dar mulai mengejawantahkan aturan dilanjutkan dengan mempratikkan cara atur-atur/melayani para tamu. Untuk mengangkat baki yang benar pun terdapat nilainya dalam melayani tamu. Belum lagi cara menyuguhkan juga disesuaikan dengan kondisi tamu yang duduk di kursi atau duduk lesehan, itu juga berbeda cara melayaninya. Tidak hanya latah melayani, Pak Dar yang ternyata juga sering didapuk sebagai pranata acara  dalam acara-acara Dinas Kabupaten pun mengajari tata cara bahasa Jawa terutama Kromo Inggil. Dan kebanyakan apa yang disampaikan Pak Dar menggunakan bahasa Kromo Inggil yang secara tidak langsung menambah kosakata kami yang hadir pada malam itu.

sinoman

Kita berada pada wktu yang terus berkembang, dimana kita semakin banyak diperkenalkan oleh orang. Akan tetapi, terdapat suatu keunikan dimana semakin kita banyak mengenal orang membuat intensitas hubungan kita secara personal menjadi semakin berkurang. Sikap mrajani mulai memudar. Padahal, untuk menjadi pemimpin yang sejati, kita mesti siap mrajani orang lain, bukan malah meminta untuk di-prajani melulu. Mental babu mesti tertanam di setiap diri kita. Karena pada hakikatnya setiap individu akan menjadi seorang pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Jika berbicara mengenai mental, hal tersebut berkaitan seperti sebuah pertanyaan yang dilontarkan Mas Erwin malam itu. Karena mental nantinya juga akan mempengaruhi intonasi kita saat bicara, ndredeg atau tidaknya sikap kita ini juga sangat bergantung pada kesiapan mental. Untuk menjawab pertanyaan ini, Mas Verdhian menyambungkan ke doa Nabi Musa,“Robbisrohli sodri wa yassirli amri wah lul uqdatan min lisani yafqohu qouli.” Sebuah doa dimana semoga Tuhan memberi kelapangan dada, kemudahan urusan, bebas dari kekakuan lidah agar setidaknya menjadikan mereka memahami perkataan yang kita sampaikan.

Pada acara rutinan yang ke-97 ini, sama sekali tidak ada hiburan musik di panggung. Namun, hal tersebut tidak mengurangi keceriaan suasana yang terjadi pada malam itu. Keceriaan tetap tersaji, canda tawa membalut rasa kebahagiaan  untuk tetap saling sesrawungan bersama. Bahkan hujan pun tak lupa sesekali menghibur dengan setia dengan alunan gemercik airnya. Yang pada akhirnya tak lebih seperti nongkrong bersama, ngopi, sembari mencoba mencari ilmu bersama-sama.

doc : manegesqudroh

Sifat orang jawa yang cenderung pendiam dan nriman terkadang menuntunnya ke tempat yang sunyi. Ibarat kata kalau orang jaman dahulu mengibaratkan layaknya seorang pertapa, atau ber-khalwat kalau dalam bahasa Arab. Hingga rasa kesendirian pun tak bisa terhindarkan. Namun, memang Simbah mengisyaratkan jika seseorang akan mengalami keterasingan atau jalan sunyinya sendiri, baik itu sengaja atau memang seperti diarahkan. Karena menemukan buah pemikiran baru di dalam lingkaran maiyah.

“Kalau memang tak bisa kau temukan wilayahku,

Biarlah aku yang terus berusaha mengetuk pintu rumahmu.

Kalau tak bersedia engkau menatap wajahku,

Biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap kepalaku.”

Dalam wilayah Mrajani, kau akan jarang di pandang karena bukan sesuatu yang menarik di zaman now. Bahkan hanya akan menambah pandangan remeh orang lain terhadap kita. Tapi jangan salah, justru diremehken orang lain adalah kesempatan untuk melakukan suatu tirakat yang salah satunya disukai oleh Simbah. Bahkan dalam lanjutan puisinya Simbah menyatakan,”jika kau memerlukan darahku untuk menghapus dahagamu, akan kumintakan kepada Allah yang memilikinya!” Salah satu perwujudan ekspresi atas kerelaannya untuk memberikan apapun demi siapapun atas dasar cinta dan sikap Mrajani beliau kepada Allah.

Tak terasa waktu mesti dipungkasi karena sudah melebihi waktu tengah malam. Namun, pamungkasan acara ini bukan berarti jamaah dispersilahkan pulang, bagi yang masih mau ngumpul dan berbincang sangat diperbolehkan untuk tetap duduk bermesraan dengan yang lain. Shalawat ‘Indal Qiyam menjadi penutup acara kali ini, dilanjutkan dengan saling bersalaman antar seluruh jamaah. Yang menarik, sikap Marajani ini bisa terlihat ketika niteni cara mereka saling bersalaman. Ah, sungguh membahagiakan!

Omah Maneges, 3 Maret 2019