Nampaknya, tidak ada yang tidak bersungguh-sungguh atas niat keberangkatan wirid dan sholawat hingga pertemuan ini kembali diijabah. Selasan telah menapaki minggu ke-39 yang pada kesempatan ini Mas Dani se-Sekawannya menjatahkan diri sebagai tuan rumah. Dengan memilih lokasi di Panti Asuhan Cahaya Umat, Mertoyudan. Di depan sebuah teras yang sudah tertata rapi, dengan tanah lapang luas di depan kami dengan hamparan langit yang cerah beserta kerlipan bintangnya (sebelum mendung) akan menjadi tempat kami bermunajat bersama.

Mesra. Itulah kesan pertama tentang lokasi Selasan kali ini. Jika mata kita ketika bermunajat biasanya terbatas dinding-dinding rumah atau jalanan dan rumah tetangga, namun batasan pandang kami malam ini mengalami perluasan. Hamparan tanah lapang, langit, bintang, pepohonan, bahkan semribit angin yang membawa hawa dingin pun serasa menjadi komposisi yang membalut mesra bersama taburan senyum dulur-dulur yang mulai hadir bergantian. Obrolan santai dengan samping kanan kiri dipadu hangatnya kopi atau teh yang telah tersaji menambah intim kemesraan yang telah tercipta, sebelum beranjak memulai ke acara inti.

Sekitar pukul 21.30, perjalanan ini pun kami mulai. Semua merdeka menata kuda-kuda andalan, baik jasad atau batin dirinya dalam menikmati keindahan pemandangan yang akan dilaluinya. Untuk bersama-sama merapalkan mantra-mantra kemesraan kepada siapapun, utamanya kepada Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan kepada kekasih-Nya.

Dalam rentang awal dan akhir perjalanan munajat, terdapat beberapa spot pit-stop, misalnya untuk menuntaskan dahaga dengan bacaan tasbih. Untuk sekedar mengisi bekal sebelum memulai keberangkatan lagi dengan bacaan tahmid. Atau untuk menghilangkan letih ketidakadilan dengan bacaan takbir. Tidak ada standar kebermanfaatan kecuali kebebasan dalam memetik buah kesegaran yang terkandung dalam “subhanallah wal-hamdulillah wa laa illaha illallah”.

Menjelang sampai di penghujung perjalanan, penerangan sengaja diredupkan sebelum memasuki gerbang “Shohibu-Baiti”. Kita dihantarkan dengan alunan puisi Mbah Nun yang salah satunya menitikan pesan dalam sajak “mesra dengan Tuhan dan kekasihNya, mesra dengan alam dan seluruh penghuninya”. Hingga nantinya akan mengenalkan akan keluasan dan keterbatasan. Yang bersemayam di dalam qalbu kita.

Ya, Tuan Rumahku. Hampir semua menundukkan kepala dalam temaram seakan-akan sedang memohon kepada Mursyidu Imani, Sang Pembimbing Iman. Semua tenggelam dalam kedalaman makna yang tersirat dalam cahaya Matahari ataupun Rembulan yang menerangi jiwa. Sayu-sayu isak tangis nampak begitu jelas meneteskan peluh kerinduan. Meski mata tak mampu memandang, tapi kekuatan lain mampu melihat bahkan merasakan, Ya Qurrotu ‘Aini, Wahai Penyejuk Pandanganku.

Dengan lirih, mantra-mantra itu seperti menyayat-nyayat baju kesombongan diri. Merobek hijab-hijab yang dengan sangat mudah kembali menyelimuti qalbu. Menghancurkan gagahnya kemunafikan kedholiman terhadap diri yang selama ini terpelihara. Bahkan, mencampakkan cinta-cinta yang masih menyimpan tendensi hasrat kerakusan diri. Tiada lagi cinta selain Engkau, bahwa Engkau-lah Pemimpin Hidupku, Yang Memimpin setiap langkah dan segala ibadah ini. Tapi apa yang selama ini telah kita lakukan, Ya Imamu Hayati!

Di akhir perjalanan, serangkaian doa kami panjatkan dipimpin oleh Pak Sholeh. Dan akhirnya, cahaya lampu dihidupkan kembali. Terbukti sudah, mata-mata itu memerah dengan pipi yang sedikit basah karena belum terusap sempurna. Cahaya-cahaya yang sebelumnya berkeliaran hingga saling dipertemukan dalam temaram yang menaungi teras Panti Cahaya Umat, akankah bisa terus menerangi qalbu? Wallahu ‘alam bish-shawab.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.30, tak terasa perjalanan untuk bersama-sama melantunkan wirid dan munajat telah menghabiskan waktu hampir 2 jam. Sajian hidangan dari tuan rumah yang memanggil satu gerobak kupat tahu menjadi penutup kemesraan malam ini sembari saling berbagi cerita kebahagiaan. Berkah berkah berkah…

Panti Cahaya Umat, 1 September 2020