Selasan dalam sebuah catatan

Ada yang sedikit bergeser pada tatanan nilai di tengah-tengah masyarakat selama masa pandemi berlangsung (yang dampaknya sangat terasa). Saling mencurigai satu sama lain, saling berperasangka satu sama lain menjadi kudapan utama di setiap sudut ruang keseharian hidup kita. Semua orang was-was, cemas, bahkan cenderung paranoia. Kesadaran sosial (bermayarakat) dalam masa pandemi baik dalam skala kecil maupun besar  perlahan-lahan mulai kembali, meskipun seharusnya masih tetap berjarak. Upaya pemerintah (dengan anjuran dan peraturan yang berlaku) untuk mengurangi dan memutus mata rantai penyebaran COVID-19 wajib kita apresiasi sebagai bentuk kepatuhan.

Di lain hal, kita, manusia tidak hanya memiliki kesadaran sosial akan tetapi juga memiliki kesadaran spiritual (kesadaran akan sang Maha Pencipta). Pada saat kondisi tersebut (di saat masa-masa pendemi), seakan-akan denyut kehidupan membeku dalam sekian waktu. Ya kehidupan sosial, ya ekonomi, ya budaya bahkan sampai kepada persoalan spiritual. Manusia dibenturkan pada suatu keadaan, yang mana (biasanya) kesadaran ini tergerak dan muncul ketika dalam suatu kondisi sangat terdesak sekalipun. Ada suatu fenomena yang bisa dikategorikan agak konyol, terlalu berani menerima resiko, apatis, ndableg, bahkan cenderung ekstrim (mungkin).

Namun semua asumsi di atas tersebut tidaklah berpengaruh sama sekali. Ada suatu energi yang menggerakkan hati sedulur-sedulur jamaah selasan (wirid dan sholawat) yang terus dan tetap konsisten (istiqomah) selama pandemi, bahkan sampai sekarang di masa new normal  (waras anyaran / yang bisa juga memiliki makna bahwa selama ini kita dianggap belum atau tidak waras). Ketika gelombang teknologi informasi menyelinap di dalam setiap ruang hidup kita, di mana kesadaran sosial, kesadaran akan ikatan emosional batiniah telah tergantikan dan semua itu menjadi “hambar dan kering”. Ruang-ruang perjumpaan (secara physic? Yang semestinya telah bergeser menjadi dimensi ruang antara (semu namun nampak) adalah ruang virtual, meminjam istilah masyarakat kekinian. Kesadaran spiritual yang bersifat personal (terkadang) menjadi terabaikan. Di tengah-tengah kondisi yang gamang, sedulur-sedulur Jamaah Selasan tetap berupaya untuk terus merekonstruksi kesadaran spiritual (sebagai bentuk katresnan kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW untuk lebih dekat kepada Gusti Allah SWT) secara natural.

Tentu saja, hal tersebut dilakukan tanpa dasar dan nilai yang dijadikan pondasi keberlangsungan Selasan. Salah satu contohnya adalah tulisan Mbah Nun dalam rubrik Corona yang ke-53 dengan judul Saldo Spiritual Rakyat Indonesia. Di dalam tulisan tersebut termuat 3 paket yang nomer pertamanya adalah “Kesediaan total melaksanakan perubahan sikap batinnya, pada pikiran dan hatinya, niat dan iktikadnya, terutama meneguhkan keyakinan kepada Allah Al-Muhyi wal-Mumit”.

Hal tersebut tentu tidak dapat diwujudkan dengan sekejapan mata. Butuh proses niat dan sikap rendah hati untuk terus mengolah jiwa. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk menjaga dan merawat. Untuk terus membangun, membangun, membangun dan terus membangun kesadaran akan spiritual yang telah menjadi suatu kebutuhan ruhaniah setiap manusia. Itulah salah satu upaya yang diusahakan dalam Selasan, mencoba untuk merekonstruksi spiritual secara komunal (non-virtual) atau bersama-sama.

Meskipun pada akhirnya, semua akan tergantung pada ayat Allah yang ditulis Simbah pada judul esai tersebut, yakni “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu Al Quran yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, maka gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun”. (Az-Zumar)

                                                                         Magelang, 10 Agustus 2020

                                                                         Bara Purnama