Perjalanan Selasan pada kesempatan ini mempertemukan kami kembali ke home base Maneges Qudroh, yakni Omah Maneges untuk bersama-sama melantukan Wirid Munajat Maiyah, dengan Mas Virdhian sebagai tuan rumahnya. Beliau sebenarnya sudah lama sekali ingin kepanggonan acara Selasan, dan akhirnya baru terealisasi di pertemuan mingguan yang ke-33 ini.

Satu per satu dulur-dulur mulai berdatangan saat waktu menunjukkan pukul 20.30 WIB. Seperti biasa, obrolan-obrolan santai pun menjadi suasana nan hangat sembari menunggu dulur-dulur lain yang belum datang. Terlebih di Selasan ini tidak ada standar patokan waktu dalam memulai wiridan. Angkutan akan memulai perjalanannya ketika dirasa sudah tidak ada lagi yang dinanti.

Fenomena kehadiran jamaah pun mengingatkan salah satu pesan Mbah Nun untuk tidak boleh merasa bangga atas kondisi yang sedang dialami, terutama dalam situasi pandemi yang bisa bermakna rahmat ataupun adzab bagi kehidupan. Dan saat wirid dan sholawat telah berlangsung, masih sama sekali tidak ada rasa bangga, kecuali haru yang bersimpuh rindu terpampang di raut wajah jamaah.

Tidak ada yang sanggup merumuskan patokan bagaimana cara Tuhan mendekatkan diri kepada hamba-hambaNya. Tidak harus melalui huruf atau kalimat mesra yang tertulis dalam buku panduan Wirid Munajat Maiyah. Bukan pula melalui nada-nada yang dinyanyikan secara bersamaan. Semua memiliki porsi yang berbeda terkait cara Tuhan mengajak hambaNya dalam kemesraan menuju ketaatan dan kepatuhan. Maka, sediakah kita berserah diri?

Selasan seolah menjadi kebahagiaan saat bencana belum juga usai. Bisa juga pelarian. Namun apapun itu, tak lantas menjadi alasan untuk berbangga diri atas kenyamanan silaturahmi yang diijinkan, melainkan untuk terus berlatih menahan diri dalam kesabaran. Untuk memberi asupan bagi jiwa-jiwa yang terlamun sepi setelah berjuang dalam urusan nasib dunia.

Dalam Selasan Maneges Qudroh, kesabaran itu terwujud setidaknya dalam laku kesetiaan membersamai satu dengan yang lainnya. Menjelang tengah malam, doa bersama menjadi pamungkas acara malam hari itu, dilanjutkan dengan menikmati bubur hangat yang telah disajikan oleh tuan rumah.

Jumbleng, 21 Juli 2020