Kejutan-kejutan itu terus hadir dalam laku kesetiaan sebagai refleksi atas cinta kami kepada Mbah Nun, Kanjeng Nabi, hingga Gusti Pangeran. Seperti pada Selasan kali ini yang diadakan di Omah Ndeso (kediaman Pak Anang), Sriwedari. Pada mulanya, kegiatan ini tidak ditujukan sebagai sebuah pergerakan massa. Bahkan, kaitannya dengan keistiqomahan penggiat melaksanakan wirid mingguan menjadi tajuk kekhawatiran yang hangat diperbincangkan, “apakah sanggup?”.

Tapi, pertemuan seolah selalu terisi oleh energi yang saling mengisi untuk menjaga keseimbangan dalam lelaku berwirid. Pada kesempatan ini, kami dipertemukan dengan sebuah aliansi yang terdiri dari berbagai ormas islam untuk ikut sholawatan dan melantunkan wirid munajat maiyah. Meraung dalam frekuensi yang sama. Mengaktualisasi diri kami dalam berbagai spektrum warna yang berbeda, meraung menjadi ruang. Ruang yang memanifestasi diri menjadi ruang bagi ruang-ruang warna itu sendiri.

Setelah wirid, kami duduk bersama untuk saling memberikan respon. Yang tidak memungkinkan kami pada akhirnya untuk dapat saling belajar. Beberapa perwakilan dengan jujur menyatakan rasa terharunya atas suasana kemesraan yang tercipta. Dan jika ada keluangan waktu, mereka menyatakan keinginan untuk menghadiri acara seperti ini lagi.

Sedikit kami belajar, bahwasanya perbedaan itu memang harus ada agar kita dapat saling belajar untuk menemukan kesejatian. “wa tawaashou bil-Haq, wa tawaashou bish-shobr.” Saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.  Kami pun meruang di antara hikmah, makna atau mungkin prasangka. Namun satu yang pasti, kami hanya berangkat dengan bekal nilai bahwa segala pertemuan yang terjadi tidak lain tanpa ijin dan kehendak Allah, Tuhan Semesta Alam.

Omah Ndeso, 7 Januari 2020