Suasana hening khas pedesaan pada Selasa, 29 September 2020 itu sangat terasa. Angin semilir berhembus pelan, menyejukan, dari mulai halaman rumah perlahan masuk melalui pintu yang sengaja terbuka sampai terasa ke ruang tengah. Memang tak ada gemerlap bintang atapun rembulan yang menghiasi langit malam itu, bukan karena hujan, hanya saja cuaca memang sedang dirudung mendung.

Meski demikian tidak ada wajah sendu atau pun murung. Terpancar jelas wajah-wajah pencari kebaikan. Beberapa dulur Selasan yang datang sudah duduk bersila dan melingkar. Membuat percakapan atau obrolan yang terkadang memunculkan gelak tawa ringan. Diikuti oleh beberapa dulur lain yang sedikit demi sedikit mengisi kekosongan tikar yang sudah disediakan si empunya rumah. Tentu tanpa meninggalkan protokol kesehatan yang memang sedari awal sudah disepakati untuk ditaati.

Menginjak angka ke-43, Selasan kembali di unduh di rumah Mas Dul atau sering dikenal dengan Mas Entong di Dusun Pletukan, Kecamatan Tempuran. Khususnya dulur MQ sudah pasti paham, bahwa rumah Mas Entong adalah rumah kedua bagi para dulur MQ. Para dulur juga menyebutnya rumah persembunyian, karena memang letaknya yang sunyi jauh dari keramaian. Meskipun niat awal adalah untuk membentuk pasukan wirid dengan berkumpul di hari Selasa dalam setiap minggunya, namun niat utamanya tetap salah satu bentuk manifestasi dari ibadah.

Selasan sudah terpatri di hati para pejuangnya. Jika telah terpatri perasaan cinta, maka akan muncullah kerinduan kepada yang dicinta. Kerinduan kepada Allah dan Rasul-Nya. Semua itu ada di balik cinta dan cinta ada di balik keimanan. Tidak banyak kata-kata dalam kamus kehidupan untuk mengungkapkan kerinduan kepada Rasulullah. Namun, dengan niatan yang begitu jernih dan berbalut keikhlasan. Selasan telah mampu berkomitmen tanpa kesepakatan untuk terus bermunajat bersama.

Di tengah-tengah para jamaah, Mas Sigit mengawali perbincangan. Mewakili dirinya sendiri, dia mengatakan merasakan syukur atas nikmat yang telah dirasakan. Dapat bermunajat bersama kembali di tengah Pandemi seperti sekarang ini. Mas Sigit juga mengatakan, Selasan menjadi sebuah wadah silaturrahim. Pensucian batin dari sifat hasad dan hasud dari diri. Dengan selalu menjalin tali silaturrahim, kita telah berinvestasi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagai mana Mbah Nun juga mengatakan bahwa Silaturahmi bermakna persambungan kasih sayang. Sesuai dengan maknanya, bahwa persambungan (silah) yang dilakukan tiada lain bahwa landasannya harus kasih sayang (rahman). Tak lupa juga berterimakasih kepada Mas Entong yang telah memberikan tempat juga hidangan yang lebih dari cukup untuk menjamu jamaah.

Selasan sendiri utamanya memang wirid dan sholawat. Sebagai tuan rumah, Mas Entong meminta kesediaan para jamaah Selasan untuk Tahlil dan pembacaan Yasin khusus untuk Syaikh Nursamad Kamba. Tepat pada Selasan kali ini, 100 hari Syaikh Kamba telah berpulang ke rahmatullah. Teknis pembacaan Yasin dan Tahlil oleh Mas Virdian yang diikuti oleh para jamaah. Dilanjutkan lantunan Wirid Munajat Maiyah dilafadzkan bersama-sama dipimpin oleh Mas Munir.

Lantunan-lantunan wirid dan sholawat menggerakan hati. Melalui panca indera pendengaran masuk ke dalam telinga dan hati. Sesekali juga terdengar isak tangis membersamai lantunan Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Jika ada dalam kesulitan atau ketakutan, hanya dengan mengingat kalimat ini, insyaallah akan senantiasa dapat menyejukkan hati. Di sana ada Dia, yang tak pernah lelah menolong, merangkul dalam dekapan-Nya, memberikan apa yang dibutuhkan, hingga perlahan melatih diri untuk menjadi sebaik-baik makhluk.

Cukuplah menjadikan Allah sebagai muara atas semua suara hati, atas berbagai macam bentuk rasa syukur, juga akan segala keluh kesah. Cukuplah Allah yang dijadikan tempat perlindungan dan tempat meminta ketentraman jiwa. Karena hanya Allah yang mampu mengangkat keluar dari masalah-masalah yang sedang dihadapi. Karena Allah selalu ada, disini, hidup disini, di relung hati ini.

Hingga dini hari, para jamaah ikhlas berdiam diri, bermunajat bersama. Merajut silah-silah baru agar bangunan Selasan semakin kokoh hingga mampu menjadi benteng diri atas segala dinamika kehidupan dalam kebersamaan kecil ini. Acara pun dipungkasi dengan diskusi. Meski tanpa ada kesimpulan, jamaah mempunyai kesimpulanya sendiri-sendiri. Ada hikmah di setiap perjumpaan. Beberapa mendapatkan rezeki dari silaturahmi Selasan kali ini.

Dusun Pletukan, 30 September 2020