Meskipun harus diundur dari jadwal biasanya, namun antusiasme dulur-dulur maiyah Magelang untuk mendatangi rutinan masih terjaga. Sekalipun hujan angin menjadi tantangan yang harus dibersamai menemani perjalanan dulur-dulur menuju Panti Daarus Sundus, Borobudur.

Pada rutinan ke-122 ini, acara dibuka dengan tadarrus yang dibawakan oleh adek-adek dari Panti (Naja dan Hanafi), kemudian dilanjutkan dengan melantunkan bersama wirid Munajat Maiyah. Karena itensitas hujan yang semakin menurun, dulur-dulur pun mulai berdatangan saat kami bermunajat bersama.

Acara pada malam hari itu dipandu oleh Pak Eko, Pak Adi, dan juga Pak Yadi. Dengan santai Pak Eko mulai membuka acara sinau bareng malam itu dengan melempar-melempar pernyataan ringan mengenai pemaknaan dari “masalah”.

Pak Adi mencoba memberikan perumpamaan-perumpamaan yang sekiranya menjadi permasalahan umum yang sering dihadapi sehari-hari. Masalah itu merupakan keindahan dalam hidup. Ada atau tidaknya suatu masalah juga bisa menjadi indikasi suatu pertumbuhan secara personal ataupun komunal.

Ketika datang sesuatu keadaan yang menjadi beban di pikiran ataupun perasaan, hal itu sering dianggap menjadi masalah. Naluri manusia pasti akan mengajak diri untuk melakukan upaya agar segala beban itu hilang dan kembali menemukan zona kenyamanannya. Akan tetapi, sebagai makhluk berakal yang terus berevolusi, kita tidak mungkin dapat menghindar dari sebuah masalah.

Terlebih, mayoritas dari kita pasti menilai masalah itu sebagai sebuah kesulitan. Ada 2 hal praktis, yang pertama menganggapnya sebagai sebuah tantangan yang akan meningkatkan kapabilitas diri. Atau yang kedua, dengan memegang ayat innama’al ‘usri yusron (bersama dengan kesulitan terdapat kemudahan). Artinya jika kesulitan dan kemudahan itu datang secara bersamaan, apabila yang kita temukan adalah sebuah masalah/kesulitan, berarti kelengkapan sudut pandang diri yang masih belum lengkap untuk dapat mengambil sisi kemudahannya.

Workshop Tentang Masalah

Di sela proses sinau bareng, “The Ark” menyuguhkan hiburan yang menambah warna suasana malam itu. “Kalau ada band bernama Noah, kami adalah Bahteranya.” Canda salah satu gitaris The Ark. Dulur-dulur yang datang terhibur dengan live perform The Ark karena membawakan lagu-lagu yang tidak asing di telinga penikmat musik.

Dengan tema “Masalah” yang diusung, format rutinan kali ini mengalami sebuah kebaruan, yakni dibuat semacam workshop. Dulur-dulur mengelompok berdasarkan usia untuk memetakan masalah yang dianggap wajib dan sunah untuk diselesaikan. Ada yang kelompok pelajar, para pemuda, yang sudah menikah, dan para perempuan/srikandi.

Setiap kelompok diwakili oleh satu orang untuk mempresentasikan masalah yang umum dihadapi di kelompoknya. Semua saling menyajikan hasil diskusi untuk dijadikan bahan pembelajaran bersama. Setiap permasalahan yang diutarakan oleh kelompok yang lebih paling muda, ditanggapi oleh kelompok yang satu kelas berada di atasnya (kakak). Begitu seterusnya.

Kesempatan Memperbaiki Amal Melalui Masalah

Masalah merupakan sebuah keniscayaan bagi kehidupan manusia. Masalah jika diibaratkan sebagai sebuah ujian, maka ia akan memiliki sisi gelap ataupun terangnya. Dalam suatu sinau bareng, Mbah Nun pernah melontarkan pertanyaan, “reaksi seperti apa yang biasanya kita dapati saat ditimpa sebuah masalah?”. Mayoritas yang jawaban berkaca dari pengalaman sudah pasti merupakan sebuah ekspresi keluhan bahkan misuh. “Apa ada di antara kita yang memiliki kebiasaan bersyukur dengan datangnya sebuah masalah?”

Mendalami maksud dari pertanyaan tersebut, kita hanya diajak untuk tidak lupa bersyukur tidak sebatas pada sesuatu yang membahagiakan, akan tetapi juga terhadap masalah yang pasti mengandung tantangan dan kesusahan tersendiri. Bahkan oleh karena masalah itu pula hidup menjadi lebih berwarna dan indah. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya” (Al-Mulk:2). Mentadabburi ayat tersebut, bukankah melalui sebuah ujian sebenarnya kita diberikan kesempatan untuk memperbaikan ataupun menambah amal baik kita?

Tak terasa acara rutinan edisi April pun telah berlangsung menjelang pukul 02.00 dinihari. Mengingat waktu dan harus ingat akan batas, maka acara pun segera dipungkasi dengan lantunan Sholawat Asyghil dan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Yadi.

Panti Daruus Sundus, 10 April 2021