Waktu semakin berlalu, tak terasa wiridan yang coba dibangun kembali telah menapaki episode ke-7. Bertempat di Panti Asuhan Cahaya Umat yang diasuh oleh Mas Dhani, yang merupakan salah satu penggiat MQ, ternyata sanggup menghadirkan otentisitas keindahan suasana tersendiri.

Sama halnya dengan hujan, wirid  pun menjadi hujan bagi sebagian manusia. Kadang disukai, namun tiba-tiba menghilang begitu saja. Apakah hati seseorang juga membutuhkan musim atau cuaca untuk menghadirkan hujan berkah? Kita mesti banyak belajar dari pelangi yang takkan tercipta tanpa adanya hujan.

Kehadiran pun mesti kita pahami setelah memahami apa itu perpisahan. Ya, kita selalu teguh bersyahadat, akan tetapi selalu merasa ketakutan, khawatir, sedih, atau resah atas segala informasi yang masih ghaib. Kita sering lupa makna “bismilahirrahmanirrahim” yang selalu dilafadzkan  tiap kali memulai do’a.

Padahal Allah sendiri selalu memberikan cinta dan kasihNya, hingga selalu sibuk setiap saat. Bahkan dalam salah satu bagian wirid terucap, “Kullama nadaita ya Hu, qala ya ‘abdii ana-Llah”. Setiap kali hatimu memanggil-manggil-Ku dengan cintamu, aku menjawab: “Ya, kekasih-Ku, ini Aku Allah kekasihmu.”

Pernahkah kita sedikit membayangkan cintanya Allah? Bagaimana Allah mampu terus mencinta hambaNya sekalipun mendapatkan balasan yang mayoritas hambaNya hanya berbuat dusta ataupun ingkar? CintaNya adalah cinta yang sejati. Sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan atas hambaNya dan tidak perlu merasa dimiliki oleh hambaNya.

Dan untuk mengenal kehadiran cinta, salah satunya adalah dengan wirid. Karena wirid berfungsi untuk menjaga inkonsistensi pikiran kita yang selalu fluktuatif agar mampu istiqomah untuk selalu berfikir tentang kebaikan.

Panti Asuhan Cahaya Umat, 28 Januari 2020