Bukan menjadi hal yang mengagetkan apabila antusias menghadiri rutinan menurun setelah acara Milad. Karena cerita-cerita seperti itu sudah cukup menjadi trend, terutama bagi para penggiat. Sepertinya bukan masalah kehadiran ataupun eksistensi yang menjadikan acara tetap terselenggara, tetapi karena semangat untuk merawat dan membersamai rumah tang telah dititipkan oleh Simbah. Dan satu-satunya cara menyatakan cinta adalah merawat rumah yang telah dititipkan dengan setidaknya menghadiri acara yang jadwalnya sudah dapat dipastikan setiap bulannya jauh-jauh hari.

Cinta itu sendiri merupakan gelombang kelembutan, tidak nampak jika hanya dilihat dengan mata telanjang. Mungkin pula kehadiran itu tidak membawa raga, melainkan hanya berbentuk gelombang-gelombang cinta yang sangat lembut jika hanya dirasakan dengan panca indera. Gelombang itu ada jika terdapat getaran. Sedang getaran itu timbul jika ada rasa, apapun itu. Dan ternyata, gelombang kehadiran itu begitu banyak.

Taddarus surah Maryam dibacakan oleh Mas Yuli sebagai pembuka acara rutinan yang sudah memasuki putaran ke-109. Surah Maryam ini sempat disebutkan dalam acara Sastraliman hari Kamis malam oleh Mbah Nun di Kadipiro, jadi sepertinya dirasa pas untuk setidaknya menjadi pembukaan awal untuk mengudar kelembutan gelombang.

Setelah pembacaan taddarus selesai, jamaah yang telah hadir diajak bersama-sama melantunkan wirid munajat maiyah. Wirid munajat ini sudah selama 3 bulan terakhir selalu diadakan rutin oleh simpul Maneges Qudroh dengan nama Selasan. Tentu saja, setiap acara Maneges Qudroh yang dipublikasikan di media sosial diperuntukkan untuk umum. Karena rumah yang dititipkan ini sama sekali tidak mengandung eksklusivitas. Semua “saling”, bukan semua “untuk”, dan hal tersebut berlaku dalam ranah apapun terutama perihal keilmuan.

Beberapa penggiat sempat sedikit merasa cemas karena benar setelah pembacaan taddarus selesai pukul 21.00 lebih, tidak hanya jamaah, bahkan penggiat yang hadir pun tidak sebanyak acara rutin Selasan. Namun, ternyata lantunan wirid munajat sedikit banyak telah menyelamatkan dengan seolah-olah memberikan panggilan kepada mereka yang sedang diperjalankan untuk berkumpul dan bermuwajahah bersama di sinau bareng kali ini. Jadi, selama mata terpejam ketika melantunkan wirid, segala kehadiran seperti menjadi sebuah kejutan ketika mata itu terbuka.

***

Termasuk Pak Amron selaku narasumber menjadi salah satu diantara kehadiran-kehadiran di tengah lantunan wirid. Tak menunggu waktu lama, pembacaan mukadimah disampaikan oleh pembawa acara. Intinya, “Nggelombang Diri” ini merupakan sebuah proses pencarian diri atau sinau niteni dan belajar gelombang-gelombang yang mungkin berada di kisaran diri. Selain Pak Amron, Mas Wahyu yang ditugasi menjadi moderator dipersilahkan maju ke depan.

Pak Amron menanggapi uraian prolog acara tersebut dengan menyampaikan sebuah hadits yang menyatakan tentang segumpal daging, dimana jika itu baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Begitupun sebaliknya kepada jasad apabila segumpal daging itu tidak baik. “Itulah qalbu!”

Untuk memahami gelombang pada diri, kita mesti mengenali getaran-getaran yang terjadi pada hati masing-masing. Karena tidak mungkin terjadi sebuah gelombang, jika tidak diawali dengan sebuah getaran. Nggelombang itu sendiri jika diperkecil cara pandangnya seperti proses pencarian di dalam lapisan yang menyelimuti hati, yaitu shodr, qalb, dan fuad. Shodr itu adalah gambaran perwujudan nafsu. Menurut Pak Amron, nafsu sendiri tidak selalu berkonotasi negatif. Seperti dalam ayat inna nafsa la amaratubbisuu’i illa ma rahima Rabbi. Hanya rahmat Allah yang membuat kita mampu menuju kebaikan.

Bagi Pak Amron, forum-forum sinau bareng seperti ini adalah salah satu bagian yang paling bisa dimaknai sebagai wujud rahmat Allah. Lalu, di dalam lapisan kedua terdapat qalbu. Ini merupakan tempat ilmu dan kesadaran yang seharusnya menjadi filter sebelum dirangsang oleh akal. Namun, pada umumnya manusia sering mengabaikan filter ini. Alhasil, ilmu lebih sering memuat tendensi ambisi daripada kesadaran akan rahman dan rahim.

Dan yang terakhir adalah lapisan fuad. Pak Amron mengibaratkan lapisan ini seperti sebuah modem untuk dapat menyingkap sinyal keilahian. Yang memungkinkan hati setiap insan mampu mengakses informasi Allah secara langsung. Termasuk Nur Muhammad, yang merupakan salah satu barokah yang diberikan Allah kepada manusia. “Sangat sulit bagi diri untuk mampu membahas atau mengulik tentang gelombang Nur Muhammad.” Kata Pak Amron. Yang pasti diantara ketiga lapisan tersebut mesti ada hubungan serta keseimbangan lapisan satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan getaran yang baik pada hati.

Contoh ketika mendengar adzan. Dengan kesadaran shodr, adzan pertama didengar oleh telinga dan belum ada kesadaran. Orang biasanya abai terhadap adzan jika hanya memakai shodr. Pada lapisan kedua (qalb), dimana sudah memiliki ilmu. maka tercipta kesadaran, “Oh, sudah waktunya shalat” . Dan ketika sudah menyentuh lapisan fuad, maka kemungkinan yang terjadi, “oh, aku sudah dipanggil oleh Tuhan untuk segera shalat.”

***

Jeda sinau bareng rutinan kali ini diisi oleh Mas Piu dan Mas Mahmud. Mereka berdua membawakan alunan musik tanpa vokal atau kata-kata. Rasanya seperti digiring kembali ke dalam gelombang berfikir yang stabil, setelah sedikit pembahasan sebelumnya mengajak para jamaah untuk sedikit menguras tenaga karena langsung diajak untuk memutar otak bahkan hati.

Mas Piu ini merupakan orang asli Kalimantan Tengah yang sudah lama sekali tinggal di Magelang. Beliau menggunakan alat musik ‘Sape’, yang merupakan alat musik tradisional daerah asalnya. Sebuah alat musik petik seperti gitar, tapi jarak notasi nampak tidak beraturan dan memiliki keunikan sendiri, berbeda dengan gitar pada umumnya.

Mas Adi, seorang guru yang juga menggeliati dunia sastra diharapkan oleh moderator untuk ikut memberikan sedikit tanggapan tentang tema malam ini. Mas Adi pun memberikan tanggapannya dengan menggunakan kisah pewayangan Antareja. Antareja sebagai anak pertama mendapatkan provokasi dari sengkuni, kenapa tidak dirinya yang mendapat kemuliaan terlebih dahulu. Justru adik-adiknya, yakni Gatotkaca dan Antasena yang mendapatkannya. Antareja menghormati adik dan bapaknya, mukti didapatkannya ternyata ketika mendahulukan adik-adiknya.

Antareja pun menurut Mas Adi mendapatkan perang batin yang luar biasa. Bagaimana jalan yang ditempuh menuju kemuliaan yang dikehendakinya. Meski pada akhirnya Antareja sendiri menemukan jawaban bahwasanya anak yang pertama tidak harus dimuliakan. Namun pada saat itu, Antareja kerasukan arwahnya Dasamuka, kemudian dia berontak dan membuat kegaduhan.

Orang biasa tak mampu melihat bahwa Antareja sedang kerasukan. Orang biasa hanya memehami bahwa Antareja melakukan tindak pemberontakan. Hingga akhirnya datang Batara Kresna yang mampu melihat Antareja sedang dirasuki arwah Dasamuka. Singkat cerita, akhirnya roh yang merasuki itu pun akhirnya mampu dikalahkan oleh Hanoman.

Dari cerita pewayangan tersebut, tokoh-tokoh yang ada bisa mewakili perwujudan sifat-sifat manusia pada zaman sekarang. Lalu, kita bisa mengambil nilai-nilai yang tersirat dalam kisah pewayangan. Selain memaknai, tidak ada salahnya pula merangkai sebuah pertanyaan, seperti yang Mas Adi utarakan di akhir ceritanya, “kenapa Antareja bisa kangslupan (kerasukan)?”

Pak Amron pun menanggapi, dengan memberikan pemaknaan terlebih dahulu atas gelombang. Gelombang adalah gambaran dari proses gerakan, bisa vertikal bisa horizontal. Dalam ilmu fisika, terdapat gelombang mekanik ataupun gelombang elektromagnetik. Semua pasti sudah memahami perbedaan-perbedaannya. Salah satunya, bisa nampak, bisa juga tidak nampak.

Apa yang terjadi dalam kasus Antareja, menurut Pak Amron merupakan hal ghaib. Sehingga datanglah Batara Kresna yang memiliki ilmu Kasyaf, dimana apa yang menjadi batin (tersirat) di benak manusia pada umumnya, akan mewujud secara fisik. Pak Amron pun memberikan contoh-contoh kasus yang lain. Kesimpulannya, Pak Amron hanya meminta agar jangan jadikan hakikat sebagai tujuan, tapi sebagai hiburan saja. Karena kebenaran tidak bisa dipaksakan, maksudnya setiap manusia pasti akan berproses menapaki syariat dan tarekat. Jangan alergi syariat karena siapapun tidak bisa lepas dari syariat itu sendiri. Pada kasus ini, Antareja mungkin karena dia sangat fokus, hingga akhirnya justru membuatnya lengah sehingga kangslupan (kerasukan).

***

Memasuki kisaran waktu tengah malam, jamaah pun diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menjanggal. Yang menarik adalah pertanyaan dari Pak Sholeh, tentang gelombang muthma’innah.

Pak Amron memberikan penegasan jika orang akan tetap masuk ke wilayah tarekat dan hakikat. Diri kita terdiri dari ruh dan jasad, salah satu keadaan diri dimana tubuh sedang tidak dalam kendali jasad adalah ketika tidur. Oleh karena itu, Pak Amron menyarankan salah satu usaha yang mungkin bisa dilakukan adalah ketika tidur sembari memutar suara-suara murotal. Ruh dan jasad ini menurut Pak Amron tidak dapat disatukan lebih dari 3 kali dalam 24 jam, maka ngantuk bisa menjadi sebuah pertanda bersatunya dua komponen tersebut. Bukankah tidur juga bisa bernilai sebagai ibadah?

Orang hidup itu bergelombang, kadang naik kadang turun. Kehidupan itu oleh Allah kadang disempitkan juga sebaliknya kadang dibuat longgar. Jalannya hanya satu, yaitu bersyukur. Kita mesti membekali diri dengan sikap kita yang bisa kita tunjukkan kepada Allah, yakni bersyukur , sabar, dan ridho. Setiap orang, siapapun saja pasti dibuat kesusahan sesuai dengan kapasitasnya. Termasuk orang yang sedang sakit pun bisa menjadi cara Allah menyapa manusia.

Ada dosa kita yang tidak bisa diistighfari. Maka sakit itu datang dan ini merupakan bagian dari skenario dari Allah agar manusia bisa belajar banyak beristighfar, baik yang ditimpa musibah atau yang disekelilingnya. Karena bisa jadi sangat berbahaya pula orang yang tidak pernah mengalami sakit. Jadi seharusnya bersyukurlah orang yang sedang mengalami atau sedang diberi nikmat sakit.

Pak Amron sendiri kemudia bercerita bahwa dirinya merupakan salah satu yang mengidolakan Mbah Nun. Terutama mengenai cara Mbah Nun menyalurkan getarannya kepada orang lain atau ngemong. Bagaimana Mbah Nun bisa membawa orang yang sama sekali tidak doyan agama, kemudian bisa membuatnya masuk atau klik. Butuh kemampuan resonansi dan kelengkapan ilmu yang luar biasa agar mampu seperti itu, salah satunya adalah Mbah Nun.

Gelombang itu akan sampai muthma’innah ketika kita pandai-pandai menikmati ketentuan dari Allah. Jika pada ranah gelombang, manusia tidak lagi tawadhu’ terhadap fisik atau seseorang, melainkan melembut dan lebih tawadhu’ terhadap ilmu tersirat yang dipertemukan. Jika identitas itu dibutuhkan untuk mengidentifikasi strata sosial, gelar atau maqom untuk menunjukkan sikap atau adab terhadap perbedaan, lantas apa gunanya mencintaNya? Jika semua berasal dari satu sumber Gelombang, dari satu sumber resonansi atas asih-Nya kepada Nur Muhammad.

Acara pun tak terasa telah menunjukkan pukul 01.00 dinihari lebih. Selingan musikalisasi puisi “Sujud” karya Kiai Mustofa Bisri dibawakan sangat apik oleh Mang Yani, tentu dengan iringan syahdu Mas Piu dan Mas Mahmud. Acara pun lekas terpungkasi dengan menikmati hidangan bersama-sama hingga menjelang pukul 02.00.  Matursuwun atas segala kemesraan dan ilmu yang terbingkai rapi untuk dituju esok, meski kepada entah.

Daarus Sundus, 8 Maret 2020