Kegiatan wirid kali ini dijadwalkan mundur dari jam biasanya karena para sebagian besar jamaah mesti menghadiri pungkasan tahlil di rumah Alm. Bapak Mudjabar. Semua nampak sudah siap apabila rela pulang lebih malam dari Panti pesantren Daarus Sundus demi menjaga frekuensi cinta ataupun asih yang butuh pelipur untuk meluapkannya. Ternyata masih ada yang tumbuh merindu, di antara ilalang nikmat dunia yang selalu saja menjuru pilu.

Jika Maiyah adalah oase bagi kehidupan, laku wirid merupakan bekal untuk menemukan oase tersebut. Kita tidak bakal bisa menyebut oase jika kita ‘merasa’ hidup di dareah hutan yang subur karena kita dapat menemukan banyak sumber mata air. Kita butuh kegersangan cara pandang mengkhalifahi semesta, ataupun kekeringan cara mencinta spektrum kompleksitas kehidupan. Yang akhirnya menumbuhkan dahaga akan rasa asih yang menjadi fatamorgana karena kehidupan mulai penuh sesak oleh kepalsuan.

Dalam kesempatan kali ini, Mas Soni dari Kulonprogo dan Mas Triyono dari Klaten menyempatkan diri untuk mengikuti acara wirid selasan. Dahaga apa yang membuat mereka rela jauh-jauh datang ke Panti Pesantren ini? Perjumpaankah? Lantas jika memang sebuah perjumpaan, bagaimana dengan saudara difabel netra (Mas Fuad dan Pak Toifur) yang juga menghadiri acara wirid kali ini?

Perjalanan dirasa masih sangat cukup panjang, dengan waktu yang siap menebas diri kapan saja. Namun kerena bekal wirid, oase itu kini tak hanya menjadi penuntas dahaga penghidupan yang mulai menyejukkan meski di tengah keterasingan. Menapaki rindu sejengkal demi sejengkal, hingga memuara ke samudera asih, Rahim-Mu.

Daarus Sundus, 21 Januari 2020