Apabla Nabi berkehendak atas permohonan kita, beliau pasti mengijinkan kita untuk masuk ke dalam semestanya. Akan tetapi, apabila permohonan kita serasa belum terlegimitasi oleh syafaatnya, jangan ngeyel dan banyak mengajukan pertanyaan, “Kalau engkau cinta, Mengapa engkau tak biarkan aku masuk? Aku bersedia berada di tepian paling luar dari rombonganmu, karena aku tahu bahwa engkau tidak mungkin tidak memperhatikanku walaupun sedikit saja.”

Dan apabila kita memohon, hal ini tak lantas hanya terwujud dalam aktivitas kita, sebatas ketika melakukan doa. Tapi permohonan ini terwujud di setiap rentang kedua waktu yang kita jalani, di setiap detak nadi yang menghempaskan kesegaran melalui darah-darah yang terus dibiarkan mengalir.

Kepada Tuhan kita bisa menunjukkan diri melalui sikap penghambaan, sementara di sisi lain Tuhan menunjukkan kisi-kisiNya. Jika kita mengaku cinta Allah, kita mesti mematuhi dan meneladani kekasihNya, Rasulullah Saw. Lalu bagaimana upaya kita untuk mematuhi dan meneladani? Selalu mencari pembenaran atas sikap diri, atau berani mengakui kesalahan?

Satu-satunya jalan untuk menunjukkan diri di hadapan Kanjeng Nabi adalah dengan kesungguhan. Kesetiaan pun akan mengikuti karena kesetiaan sendiri bukan sebuah proses, tetapi hasil dari kesungguhan. Kesetiaan yang berproses nantinya akan berbuah hasil, bernama pengorbanan. Utamanya, pengorbanan melawan diri sendiri. Kalau kita bisa menahan segala angkara dan hasrat diri, baru nikmat akan semakin terasa.

Seperti halnya di awal acara Selasan ini telah dijelaskan oleh Pak Sholeh, bahwa konsep ikhlas itu sangatlah penting. Kita sering tidak sadar ketika melakukan ritual permohonan masih banyak membawa banyak tendensi. Bahkan, seolah-olah terdengar seperti ancaman kepada Tuhan. Ibarat anjing yang menghadap agar diberi makan sembari mengibas-ngibaskan ekornya. Bukankah, Dia lebih mengetahui apa yang kita ingingkan? Bukankah, Dia Yang Maha Adil kepada seluruh hambaNya?

Dunia memang penuh dengan dialektika dan retorika, hingga sering dikatakan dinamis. Kita tidak akan bisa memahami konsep Tuhan, kalaupun ada itu hanya sekedar konsep-konsep yang diciptakan oleh manusia yang disepakati banyak orang. Dan Tuhan sendiri yang menanam konsep-konsep dan persangkaan itu kepada para hambaNya. Sedangkan kita tidak pernah bisa melihat Tuhan menanamkan segala konsep tersebut di pikiran kita, akan tetapi kita dapat melihat dampak dari apa yang Dia tanam, tentu bagi sebagian yang mau untuk berpikir.

Layaknya Selasan ke-59 yang terselenggara kembali di Sanggar Soko Papat (kediaan Mas Munir, Dusun Gaduhan, Mertoyudan). Putaran hingga ke-59 ini merupakan upaya permohonan yang dilakukan bersama-sama oleh seluruh sedulur Maneges Qudroh dengan penuh keikhlasan. Kalau diproyeksi lebih luas lagi, bahkan Selasan merupakan salah satu titik kemerlip permohonan di bawah langit maiyah yang terbentang luas.

Kita bisa saja menikmati keindahan itu tanpa melakukan apapun, bahkan dengan kolaborasi antara multitasking media dan daya imajiner yang luar biasa dimanapun. Kita bisa saja langsung menagih syafaat, dan sambat dengan menghadap kekasihNya. Lhoh, katanya Nabi Muhammad Saw tidak tegaan? Berkahlak mulia juga? Tapi, bukankah beliau juga fathonah/cerdas? Tidakkah kita sedikit saja menyadari bahwa kita juga membutuhkan banyak pelajaran?

Padahal kalaupun Kanjeng Nabi melihat kesetian kita, perjuangan kita, segala kesungguhan dan upaya kita, bukan tidak mungkin kalau Kanjeng Nabi mengijinkan kita masuk ke dalam rumahnya. Atau, beliau persilahkan kita berada di lingkaran terdekat dari beliau. Jangan terus memaksa beliau untuk memperhatikan kemalasan dan kurang bersungguh-sungguhnya kita dalam berjuang.

Kita ini sedang memohon, bukannya malah mengacungkan pistol atau nodong minta syafaat kepada beliau. Kita ini sama-sama sedang belajar, bukan sedang saling menggurui seolah-olah kita yang paling mengetahui. Kita ini berjuang bersama menuju kearifan, bukan malah pentas kealiman. Memang siapa kita? Kalau jargon kita ndilalah dibalik sama Kanjeng Nabi, “Gak ada kalian juga gak pathéken!” , misalnya, bagaimana rasanya?

Sanggar Soko Papat, 19 Januari 2021