Allah Swt sudah bekerja, mengatur segalanya. Perjumpaan Selasan ke- 44 di Sanggar Soko Papat, Dusun Gadungan, Mertoyudan pun tidak luput dari kuasa-Nya. Meski acara memang sudah terencana apalah daya manusia tanpa ridho dari-Nya. Selasa, 6 Oktober 2020 para jamaah MQ kembali duduk melingkar untuk mencoba khusyuk bershalawat, melantunkan wirid, memanjatkan doa untuk kebaikan dan keselamatan bersama. Mengingat jiwa manusia yang selalu butuh kepada Allah Swt, wirid dan shalawat ini adalah salah satu upaya untuk terus memohon dan memesrai-Nya. Nikmat Allah tiada pantas untuk didustakan.

Cuaca memang cukup dingin, mendung menggelayut tak ingin pergi, mulai dari pagi sampai tiba waktu malam hari. Ataupun dengan keadaan bangsa yang sedang mengalami pandemi seperti saat ini. Namun tak menyurutkan niat para jamaah untuk memenuhi ruangan yang telah disediakan oleh Mas Munir sebagai tuan rumah. Duduk lesehan, sembari menikmati minuman panas dan perbincangan menunggu jamaah yang masih dalam perjalanan.

Ada pemandangan berbeda pada kerumunan jamaah malam itu. Serangkaian alat teknologi untuk melakukan siaran live streaming sudah terpasang, atas inisiasi dari salah satu jamaah yang terafiliasi oleh lingkaran yang lain. Tentu hal ini menjadi wujud silaturahmi kdari dulur MQ kepada segenap jamaah yang ingin melakukan wirid bersama tanpa dapat berjumpa.

Pukul 22.00 acara dibuka oleh Mas Taufik sebagai pembawa acara, membacakan serangkaian acara wirid dan sholawat. Dilanjutkan sambutan tuan rumah Mas Munir yang mengucapkan salam selamat datang kepada dulur yang berkesempatan bermunajat bersama. Tak lupa Pak Sholeh pun berpesan bahwa Selasan dapat menjadi sebuah energi positif bagi pelakunya. Dia mengibaratkan perilaku positif untuk menuju ke ketaqwaan. Seperti halnya fajar yang menuju ke sifat kebaikan dan menjauhi fuujur atau sifat kebalikanya. Ketaqwaan dapat dilakuan dengan berdzikir, dan berdzikir mengingat Allah Swt diharapkan mampu mewujudkan kejernihan hati.

Dalam perjalan hidup, manusia menghadapi berbagai rintangan seperti kenikmatan dan kelezatan dunia yang dapat menghalanginya untuk mengingat Allah dan menjauh dari kebaikanya. Juga tabiat hati yang rentan, labil. Hati dapat menjadi nglokro atau down dan rapuh. Dzikir menjadi pintu meraih kemenangan terbesar. Ketika kita menghadirkan Allah dalam hati kita. Maka jiwa kita akan tentram, seperti halnya ketika menghadirkan Rasulullah.

Lantunan Shohibu Baiti yang terdengar dan terasa begitu magis, menyayat, mengharu biru saat dilantunkan, menjadi penanda berakhirnya wirid dan sholawat. Mendengar lantunanya, beberapa dari jamaah memejamkan mata, menatap relung hati, nyambung dengan kesadaran diri. Membuat sesiapa yang mendengar mampu meneteskan air mata. Sesekali terdengar nafas yang tersengal karena tak dapat menahan tangisnya.

Malam pun semakin larut. Doa pungkasan di panjatkan. Live streaming dimatikan menandakan wirid telah berakhir. Malam itu sedulur yang hadir kembali pulang ke rumah masing-masing dan mengantongi cahaya fajar yang dapat di petik dari Selasan.

Dusun Gadungan, 7 Oktober 2020