Gemercik bunyi hujan sudah menjadi senandung yang mesra tatkala musim ini menyapa. Menenggelamkan suara-suara lirih yang berbisik menitipkan salam-salamnya kepada Yang dicinta. Menyelimuti senggangnya beranda rumah Mas Mukti tempat diadakan Selasan putaran ke-61. Hingga penantian menjadi harap akan kehadiran rona bahagia yang baru, sekalipun konsekuensi terhadap waktu menjadi sesuatu yang harus siap ditunaikan.

Situasi seperti ini seolah mengajak kita untuk kembali mengingat salah satu landasan ilmu yang menjadi patok bagi rutinitas Selasan, yakni Revolusi Spiritual yang pernah disampaikan oleh Mbah Nun. Terlebih jika dikaitkan dengan laku tarekat dan bisyaroh-nya. Namun tak mengesampingkan pelaku utama “MasyaAllah atas kadar ikhtiar maiyah”. Berarti, berapapun kuantitasnya bukanlah menjadi sebuah persoalan berjalan atau tidaknya revolusi spiritual ini.

Selanjutnya, apakah Selasan sudah memenuhi syarat secara tarekat? Jumlah putaran ke-61 ini apakah bisa masuk dalam kategori totalitas? Lantas, apakah kuantitas ataupun kualitas individu yang diperjalankan dalam gerbong ikhtiar mempengaruhi totalitas laju kereta Selasan? Belum lagi, kekhusyukan massal ketika melakukan amal “Munajat Maiyah” yang selama ini dilakukan, apakah bukan merupakan sebuah bentuk sandiwara?

Apabila yang terjadi sering bersamaan dengan turunnya hujan, jarak yang tidak selalu dekat, ataupun tantangan-tantangan lainnya diibaratkan dengan pertanyaan, sudahkah Selasan sendiri menyiapkan ongkos atau bekal maksimalitas taqwa, sabar, dan tawakkal untuk bisa mendapati jawaban akan pertanyaan tersebut?

Beriringan dengan lantunan Hasbunallah, permohonan akan manifestasi keajaiban tak lupa pula diungkapkan. Salah satu keajaiban tersebut merupakan bait doa, “ad’uuka kulla hammin wa ghammin sayanjalii (Aku menyeru kepadamu agar sudah dan sedihku menjadi reda).”

Kalaupun kesunyian ini merupakan sebuah kesulitan, bukankah pada saat itu pula kami bermunajat, mengingat-Mu, bisa dimaknai sebagai sebuah kemudahan? Apakah arti beban yang ditanggung tubuh melalui segala tantangan ataupun ujian yang datang, dibandingkan beban yang ditanggung jiwa? Itu tidak akan membahayakan kami karena kami-lah yang menghendaki perubahan iman spiritual terhadap diri kami. Dan ketika iman tu tertanam, kami hanya perlu keberanian layaknya para pengikut Nabi Musa as. ketika mendapat ancaman dari Fir’aun, “Mereka berkata: “Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.(26:50)

Bahkan tadabbur ini pun hanya sebagian makna yang tak pernah habis terurai melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Selasan. Sekali lagi bukan karena ketinggian hati, melainkan rutinitas mingguan yang mampu diupayakan pun, tak bisa lepas dari perwujudan segala iradah-Mu. Atau yang bisa dulur-dulur lakukan sebagai wujud pasrah bongkokan. Siapa lagi yang memberi kekuatan hingga mampu melanggengkan perkumpulan seperti ini, kecuali oleh karena Engkau sendiri yang menginginkannya.

Cuaca pandemi yang sedang dialami seolah menjadikan kebiasaan baru di dalam Selasan. Menjadi filter bagi kepercayaan terhadap qada’ atau qadar-Mu. Bagaimana nanti kita akan teruji jika ternyata kita masih belum percaya akan jaminan perlindungan yang Engkau selalu tawarkan. Sedang kebiasaan selalu ragu terhadap tawaran tersebut. Bahkan dengan mengatasnamakan keimanan. Lalu apa arti kepercayaan itu jika enggan membuktikannya? Bagaimana mungkin orang beriman mengaku cinta jika dirinya masih selalu merasa mengorbankan dirinya?

Ketika orang beriman telah mengorbankan dirinya kepada Tuhan, kenapa dia mesti memperhatikan adanya cuaca, bahaya, bahkan tubuhnya sendiri? Ketika seseorang pergi menuju Tuhan, apakah masih berlaku fungsi kaki dan tangan? Sedangkan Tuhan memberimu tangan dan kaki untuk dipergunakan berangkat dari Dia di dalam jalan yang Dia sendiri akan tunjukkan. Lantas, ketika mengetahui akan kembali kepada Sang Pencipta, masih adakah yang bisa menyebabkan luka?‖Masih adakah waktu untuk berlarut-larut dalam duka?

Dusun Pletukan, 2 Februari 2021