Kali ini #OrangMaiyah akan mengenalkan salah seorang yang telah lama membersamai perjalanan Maneges Qudroh. Kalau belum begitu mengenal beliau, orang pasti mudah berprasangka bahwa beliau ini adalah salah satu anggota HTI. Kebiasaan beliau foto dengan bendera panji Rasulullah atau dengan penampilannya yang jenggotan dan cingkrang tak ayal membuatnya sering tersemat label tersebut.

Beliau adalah Eko Mulyono, atau sering juga disapa Eko Darsun. Kata Darsun ini dipakai karena beliau adalah pengasuh Panti Pensantren Daarus Sundus. Tim redaksi merasa coretan dari Mas Eko dengan judul “Mensyukuri Anugerah Maiyah” yang tertulis atas anjuran tahadduts bin-Ni’mah di pertengahan tahun lalu bisa menjadi perkenalan secara langsung dari Mas Eko atas apa yang beliau dapat dari Maiyah.

Semoga apa yang telah tertulis bisa menjadi awal persinggungan untuk saling menyambung tali persaudaraan dan silaturrahmi. Berikut adalah tulisan beliau yang sangat energik:

“Mensyukuri Anugerah Maiyah”

Setiap insan memiliki sejarah hidup yang berbeda, setiap insan berjalan diatas takdir yang telah ditakdirkan Dzat yang menggenggam alam raya ini, selain atas kehendak Tuhan manusia diberikan kewenanganuntuk mengelola hawa nafsu, mengelola anugerah, mengelola bumi serta kehidupan di dalamnya ‘khalifatullah fil ardhi’ tentunya setiap manusia memiliki perjalanan spiritual masing-masing dan sudah seharusnya manusia saling memberikan ruang untuk belajar,ruang untuk berkasih sayang, ruang untuk mencari tujuan hidup yang sejati, serta ruang untuk saling menyelamatkan baik keselamatan kehidupan di dunia terlebih keselamatan kehidupan akhirat.

Hidup yang begitu luas ini mengandung dimensi yang berlapis dan bertingkat ada yang bisa dilihat, ada yang samar, ada pula yang tak terjangkau oleh mata manusia sehingga sedemikian gamblang Tuhan memerintahkan manusia untuk belajar dari buaian sampai sebelum dikubur, agar manusia menemukan kebenaran yang benar menurut Tuhan dan supaya hidup kita tertuntun oleh ilmu yang mengandung cahaya benderang itu, dari nabi ke nabi,sahabat, tabi’in,para wali hingga melalui para ulama kebenaran yang sejati dialirkan dari setiap generasi mengalami zaman yang terus berubah,Tuhan dikenalkan, islam disampaikan, iman ditanamkan, syariat diajarkan, kebaikan-kebaikan dianjurkan.

Kesyukuran yang besar saya persembahkan kepada Allah, atas karunia hidup yang tidak mampu saya daftari satu persatu memang karena demikian  teramat banyak dan luasnya karunia yang dianugrahkan diatas kehidupan saya, salah satunya saya ditakdirkan berada di dalam lingkaran Maiyah meski di lapisan terluar,(jama’ah yang hanya datang di maiyahan ngopi dan pulang dengan membawa anugerah Maiyah ini senantiasa menghadirkan wejangan-wejangan ilmu yang membawa ke dalam kesadaran hidup,menemukan orientasi hidup, membawa kepada tali kesadaran uluhiyah, memupuk mahabbah kepada sumber keberkahan hidup yakni Rasulullah Muhammad bin Abdullah, serta kepada sesama manusia, makhluk dan bumi.

Dengan model sinau bareng saya mampu menemukan kebenaran yang obyektif,di dalam lingkaran maiyah setiap yang hadir memiliki hak yang sama baik hak untuk menyumberi atau pun hak untuk menyaring, menerima dan mengendapkan kebenaran yang diterima, meskipun di dalam lingkaran sinau bareng senantiasa hadir dan dibersamai marja’ Maiyah (Muhammad Ainun Nadjib, Nursamad kamba, Ahmad Fuad Efendy) nuansa demokrasi belajar masih bisa dirasakan, tidak ada kultus individu, tidak ada kebenaran subyektif yang hadir kebenaran-kebenaran yang bersumber dari Allah yang Maha benar yang dititipkan baik melalui jama’ah atau pun marja’ Maiyah

Sedemikian murninya lingkaran maiyah dan ikhlasnya para pejalan maiyah yang terus menabur benih Cinta dan paseduluran, setiap bumi di mana ada orang maiyah secara alamiah menjadi sedulur karena Allah, karena Rosulullah dan karena maiyah.Begitulah nikmat bermaiyah dada kita tidak sempit, fikiran tidak dangkal, hati tidak jahat, jiwa mampu menampung masalah,kuda-kuda batin menjadi kuat, tangan mudah memberi, kaki ringan bersilaturahmi, kita menjadi manusia Cinta dan manusia yang saling mensyurgakan.

Kepada Allah saya bersyukur, kepada para guru di Maiyah saya berterima kasih.

Borobudur, 21 juni 2019

Eko – Daarus sundus