Manusia dan Pemimpin Sepertiga

“DIMESNSI KETERCERAHAN JIWA MANUSIA yang dimaksudkan oleh ‘la yamassuhu illal muthahharun’ itu, kita misalkan ada tiga. Pertama, ketercerahan spiritual. Kedua, ketercerahan mental. Ketiga, ketercerahan intelektual. Produknya adalah ketercerahan yang keempat, yakni ketercerahan moral,” demikian Cak Nun menjelaskan lebih lanjut mengenai enlightment.

“Kita coba langsung saja ke empirisme sosial. Ada manusia atau pemimpin yang memperoleh pencerahan intelektual, pengetahuan dan ilmunya mumpuni, gelarnya sampai berderet-deret, aksesnya besar dan luas sebagai pelaku birokrasi sejarah kehidupan modern, maupun sekurang-kurangnya sebagai narasumber pengamatan. Akan tetapi efektivitas fungsinya bisa mandul, ternyata karena kecerahan intelektualnya tidak didukung oleh kecerahan spiritual dan mental. Pintar, tapi mentalnya bobrok dan spiritualitasnya tak bercakrawala. Sehingga ilmunya berdiri sendiri. Perilakunya, habitatnya, keputusan-keputusan yang dibuatnya, tidak mencerminkan ketinggian dan kecanggihan ilmunya.

Khalayak ramai akhirnya berkesimpulan bahwa semakin banyak orang pinter bukan hanya tidak kondusif untuk perbaikan negara dan bangsa, tetapi ada gejala malah memperburuknya. Dengan kata lain: produknya bukan moralitas kehidupan berbangsa yang baik. Wallahua’lam.

“Ada juga manusia atau pemimpin yang mentalnya bagus, teguh pendirian dan memiliki keberanian kejuangan. Kalau bicara tidak bohong, kalau janji ditepati, kalau dipercaya tidak berkhianat. Tetapi ia juga tidak banyak mampu berbuat apa-apa untuk menyembuhkan keadaan, ternyata sebab pengetahuannya terlalu elementer untuk meladeni kompleksitas keadaan. Langkahnya keliru-keliru, sering naif, dan pada tingkat ketegasan tertentu ia malah tampak sebagai orang brutal, radikal, fundamentalis, ekstremis – justru karena terbiasa berpikir linier dan hitam-putih dalam memahami sesuatu. Keadaan ini tidak ditolong pula oleh potensialitas keterbimbingan spiritual di dalam dirinya. Maka, ia juga tidak banyak bisa menolong perbaikan moral bangsa.”

“Potensi yang ketiga adalah manusia atau pemimpin yang bisa dijamin kejujuran pribadinya, bisa diandalkan kesalihannya, kekhusyukan hidupnya, intensitas ibadahnya. Tetapi ia tidak bisa banyak berbuat untuk pertarungan-pertarungan sejarah yang luas. Ia seperti seorang eskapis yang duduk bersila dan berdzikir di gua persembunyiannya. Sebab ia tidak memiliki ketercerahan intelektual untuk memehami dunia yang dihadapinya, sehingga tidak pula bisa menerapkan kehebatan mentalitasnya, karena tidak ada agenda untuk menyalurkannya. Hasil akhirnya, ia mandul terhadap perjuangan moral sosial.”

“Masing-masing dari yang saya uraikan di atas itulah manusia-sepertiga atau pemimpin-sepertiga. Cerah intelektual thok, cerah mental doang, cerah spiritual melulu. Bangsa kita memerlukan manusia pempimpin yang tidak sepertiga, tetapi utuh satu, meskipun mungkin saja kita harus melewati ‘arisan kepemimpinan sosial’, melewati satu dua pemimpin sepertiga lagi, yang harus dituruti karena masyarakat kita sedang sakaw, dengan tagihan jenis narkoba kelompoknya masing-masing.”

“Yang pasti”, kata Cak Nun, “dari manusia-sepertiga atau pemimpin-sepertiga, kita tidak bisa mengharapkan watak kearifan manusia, kenegarawanan, kematangan sosial, kecerdasan futurologis, serta kepekaan terhadap komprehensi kasih sayang dalam multidimensi kehidupan berbangsa.”

 

Disadur dari Buku Kitab Ketentraman

Oleh Aprinus Salam, M. Alfan Alfian M., dan Wawan Susetya