Hingga pukul 21.00 lebih, suasana tempat akan diadakannya masih terlihat senggang. Dibersamai oleh rintik hujan yang masih nampak enggan untuk segera reda. Di satu sisi, suasana yang sedikit senggang justru bisa menjadi kesempatan untuk lebih mengalami katarsis dan kehikmatan selama bermunajat nantinya.

Selasan pada minggu ke-48 ini kembali bertempat di Dusun Sirahan atau di kediaman Mba Yani. Sekalipun tempatnya sedikit jauh, para pejalan cinta nampak selalu setia denga perjuangannya sebagai bukti kesungguhannya. Bahkan, 3 pemuda pelajar SMA juga beberapa kali terakhir tak pernah absen mengikuti rutinan mingguan ini.

Ketika waktu sudah dirasa terlalu mundur, acara pun segera dimulai. Selama 48 minggu, 2 kali pertemuan terakhir suasana perjalanan wirid munajat sedikit berbeda. Terlebih karena para rois yang biasanya menyupiri perjalanan wirid, kebetulan sedang berhalangan hadir membersamai dulur-dulur  pada edisi wirid kali ini.

Namun, justru karena perbedaan itulah sebenarnya menjadi kesempatan kita melatih diri. Kalau pun bisa, kita mesti banyak-banyak mengalami perbedaan suasana sebagai simulasi untuk terus menjaga ketenangan diri. Meskipun, hal ini hanya berlaku kepada mereka yang selalu ingin memperbaiki diri dengan banyak melihat refleksi diri dengan lingkungannya. Terlebih jika diri menghendaki suatu perubahan terhadap apapun.

Dalam khasanah “Manifestasi Keajaiban”, Mbah Nun menyinggung tentang dua jalan yang menjadi syarat perubahan, pertama dengan min haitsu la yahtasib; atau kedua dengan gagasan, kemauan, dan pekenaan keajaiban dari Tuhan. Oleh karena itu, Selasan memohon perkenaan keajaiban tersebut dengan mengaplikasikan do’a Nadi ‘Aliyyan yang sudah di dhawuhkan oleh Mbah Nun dalam khasanah tersebut.

Tadabbur kali ini menangkap perubahan itu seketika datang setelah do’a Nadi ‘Aliyyan dibacakan, utamanya dalam kalimat kulla hammin wa ghammin sayanjalii (agar susah dan sedihku menjadi reda).  Kebahagiaan itu lantas menyapa dengan suara gelak tawa, meski perjalanan wirid dan sholawat belum usai. Kita mungkin tidak sadar telah memohon sesuatu yang itu memantik sesuatu yang revolusioner, yang kita sendiri tidak memahami, merencanakan apalagi memperjuangkan perubahan dengan jalan min haitsu la yahtasib.

Namun, jika kita melihat kebahagiaan yang datang seketika itu merupakan salah satu bagian keajaiban-Nya, terlebih jika pemicunya dilantarkan oleh suatu peristiwa kesalahan manusia, kita tidak akan menjadikan kebahagiaan itu menjadi suatu yang buruk karena menyalahi adab dikarenakan wirid munajat yang belum selesai. Namun, bukankah kesalahan yang datang tersebut merupakan bagian dari perkenaannya, la haula wa la quwwata illa billahil-‘aliyyiladhim, bukankah gelak tawa tersebut akhirnya menjadi wujud madhharal aja’ib?

Apabila sambaran kebahagiaan itu dilihat sebagai sesuatu yang tidak lazim, kita mungkin saja mengalami “walakinnahum la yasy’urun” atau tidak merasa bahwa kita telah  dipersempit cara pandang atau muatan hatinya sehingga tidak sadar telah meremehkan Tuhan yang sangat mungkin dengan sangat cepat mengubah keadaan. 47 pertemuan sebelumnya tak bisa menjadi ukuran bahwa kita tetap bisa menjaga suasana kekhusyukan seperti biasanya.

Dan ini baru di wilayah Selasan, bagaimana jika itu terjadi dalam skala ruang yang lebih besar? Besar harapan jika setitik manifestasi keajaiban di Selasan ini bisa diproyeksi ke dalam ruang-ruang yang lebih besar yang pemetaan kemungkinan-kemungkinannya semakin lebih besar. Dan beruntungnya kita diberikan kesempatan untuk evaluasi melalui kebahagian yang menyapa. Terlebih jika kita selalu merasa baik-baik saja dan tidak merasa suatu peringatan apapun dengan isyarat keadaan hingga menjadi suatu pengalaman, “berkat kedunguan kolektifnya yang berlangsung terlalu lama dan melewati batas waktu” kata Mbah Nun.

Perjalanan Wirid Munajat pun tetap diberi kekuatan hingga mencapai pungkasannya dengan bersama-sama melantunkan Shohibu Baiti ketika waktu menunjukkan dentingnya menjelang hampir tengah malam. Sembari menikmati hidangan yang telah disajikan oleh Mas Edi dan Mba Yani, nampak dulur-dulur mulai merespon dan saling niteni kebahagiaan yang tetiba menyambar di tengah perjalanan tadi.

Dusun Sirahan, 3 November 2020