Pada perhitungan angka, ketika sudah bergulir dari angka satu atau siji  menuju angka sembilan atau sanga–yang menjadi titik puncak perjalanan berarti harus bersiap dan menyiapkan diri untuk kembali kepada kesadara Asal-usul diri, Ya Awwalu wal Akhiru. Atau ketika kita berpijak pada titik mana saja dalam proses perjalanan hidup, selalu berada pada kesadaran nol, meniadakan diri kecil sampai batas tertentu, sehingga yang Ada hanya Tuan Tanah Bumi dan Langit.

Ketika Allah menjadi pusat dan inti kesadaran kita: pada setiap niat, langkah serta tujuan, maka Allah turut menentukan setiap dialektika peran dan kehadiran kita di bumi. Sampai pada kehadiran zaman yang memaksa kita untuk hadir dan berperan pada zaman dholuman jahula sekarang ini.

Kita coba membaca kode kelahiran dulur Maneges Qudroh yang ke-sanga atau sembilan dari Allah melalui Al-qur’an, setidaknya kita punya sangu titik pijak dan sikap apa yang harus kita lakukan pada zaman dholuman jahula ini. Ketika kita membaca surat ketiga (Ali-Imran) ayat ketiga: Dia menurunkan Al-kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.

Mentadabburi kode Allah pada surat ketiga, ayat ketiga yang jika dikalikan akan berjumlah sembilan atau sanga, tepat pada jumlah putaran kehadiran dulur Maneges Qudroh saat ini. Pada ayat tersebut setidaknya kita bisa mentadabburi bahwa sebenarnya Allah sudah menurunkan Al-Qur’an sebagai bekal dan pedoman hidup kita menghadapi zaman dholuman jahula.

Mbah Nun punya perspektif lebih utuh pemahaman mengenai Al-Qur’an. Bahwa keutuhan Al-Qur’an itu terdiri dari sepertiga pada mushaf, sepertiga pada alam dan sepetiganya lagi pada diri kita sendiri. Tinggal bagaimana kita meramu ketiga Al-qur’an itu untuk dapat menjadi Khalifah di bumi. Mentadabburi setiap ayat yang datangnya dari alam, sejarah peradaban, pengalaman, dan mushaf sebagai titik akhir legitimasi jawaban dari setiap pertanyaan zaman yang kita jalani.

Karena Maiyah tidak mengajarkan kita lari ke bilik sunyi, kehutan atau gunung, dan mlungker di pelukan Sang Tuan Tanah. Maiyah mengajarkan kita tidak melompat kedepan hakikat ruang dan waktu. Jamaah Maiyah menyantuni proses kenyataan di ruang dan waktu, betapa pun sakitnya. Jamaah Maiyah memijakkan kakinya di bumi, mandi keringat dunia bersama saudaranya-saudaranya.

Sugeng ambal warsa dulur Maneges Qudroh. Terus berproses memagelangi Indonesia untuk saling mengamankan dan menyelamatkan satu sama lain. Menjadi pemantik lahirnya cahaya hidayah Allah yang masuk ke pori-pori kesadaran kita. Sehingga kita termasuk kaum yang mencintai Allah dan Allah mencintai kita. Wa rabbun ghafur.

Dari saudaramu Yang Dinanti-nanti Muncul dari Timur (Bangbang Wetan).

Amin Ungsaka-