Sembilan atau Sanga (Songo- dalam bahasa Jawa) merupakan angka yang cukup unik dan penuh teka-teki dalam khasanah kehidupan. Bisa mulai kita tilik kembali seperti dalam hal kenapa seorang Ibu mengandung sang anak selama 9 bulan? Kenapa wali yang teramat terkenal dan ditakdzimi di Jawa itu berjumlah sembilan hingga kemudian disebut walisongo? Kenapa bilangan tertinggi itu ada pada angka 9? Akankah angka 9 merupakan puncak pencapaian untuk kemudian kembali meng-nol-kan diri hingga bisa menjadi satu kembali, Nyawiji?

Maneges Qudroh pada usianya yang ketujuh telah mendapatkan lambaran berpijak yang langsung disampaikan oleh Simbah Guru, Mbah Nun dengan pertanyaan mendasar kenapa harus ada Maiyah? Siapa yang membuat Maiyah? Apa itu Maiyah? Apa bedanya dengan beragam bentuk perkumpulan dalam masyarakat yang lain? Kenapa semakin banyak orang yang berkumpul pada setiap momen Maiyahan padahal acara berlangsung bahkan hingga menjelang shubuh? Apa yang mereka cari?

Maiyah terus istiqomah menjadi hipotesis-hipotesis baru atas ribuan tanya jamaah akan segala masalah setidaknya selama 25 tahun terakhir di Indonesia bahkan di sudut dunia yang lain. Lewat metode Sinau Bareng, ia terus berjalan menghidupi malam-malam di belahan bumi Nusantara maupun penghujung dunia yang lain. Maiyah tetap teguh mengupayakan jawaban-jawaban dan mewaspadai kembali setiap kata sehingga ia selalu dinamis dan terus mengaliri waktu.

9 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Maneges Qudroh (MQ) untuk terus maneges dalam berproses. MQ terus bermetamorfosa mengupayakan jawaban-jawaban atas kegelisahan dulur-dulur. Pun MQ juga masih setia dengan Janji awal persaudaraannya di Gedung Mirota Pabelan pada 5 Februari 2011 lalu, `Semoga di dalam lingkaran kita, tidak ada kesalahan niat, kekotoran batin, kedangkalan pikiran, apapun saja yang membuat Muhammad menitikkan air mata atau bahkan membatalkan kasih sayangnya kepada kita.`

Ratusan frame yang telah tercipta dalam kenangan akan terus berlanjut. Sebab MQ akan terus menjadi Rumah, menjadi tempat pulang dalam mencari dan merangkai bagian mozaik dari diri kita yang hilang. Dengan kekhasan warga Magelang, srawung dan saling asih asuh, maka tagline “Wahana bersama menanam kebaikan untuk saling menguatkan. Bersama siapa saja mau bersama”, akan terus mengakar dan mewarnai simpul ini. Sugeng Ambal Warso Kaping 9 Maneges Qudroh, Berkah di Bumi, Berkah di langit.

26 Januari 2020

-Nafisatul Wakhidah-

Baden Württemberg, Jerman