Maneges Kapitu

Untuk kali keduanya secara ‘kebetulan’ momen milad Maneges Qudroh mendapat kanugrahan yang tak terkira. Bagaimana tidak, setahun yang lalu tepat pada Milad MQ yang keenam kesediaan Mbah Nun membersamai sudah menjadi hadiah tersendiri bagi rutinan Maneges Qudroh. Dan kini di usianya yang kapitu lagi-lagi Maneges Qudroh sebagai simpul Maiyah Magelang yang masih belia mendapat kesempatan ditemani Mbah Nun kembali.

Layaknya anak yang mendapat kabar akan dikunjungi Bapaknya yang lama tak bersua tentu membuat sang anak tak sabar menumpahkan kerinduannya. Maka sejak berhari-hari sebelum agenda rutinan kali ini dihelat, seluruh penggiat Maneges Qudroh ‘cancut taliwondo’. Meski tak bermaksud berlebihan namun segala persiapan diupayakan agar kerawuhan Mbah Nun tidak lewat begitu saja tanpa kesan.

 

Al Fatehah (Pembuka)        

Meng-‘al fatehahi’ malam penuh keberkahan Milad MQ kapitu ini Pak Sholeh bersama Mas Ari menggemakan ayat-ayat suci Al Qur’an agar rahmat dan ridhlo Allah senantiasa membersamai sepanjang jalannya acara. Bahkan lebih dari sekedar itu.

Disambung dengan Munajat Maiyah yang dilantunkan bersama-sama sedulur rebana Gondosuli dan jamaah, acara Milad malam ini tentu tak melupakan wirid-wirid Sholawat yang mana tetap senantiasa menghadirkan Rasullulah sebagai entitas dari segitiga cinta di antara kita dan Allah.

Di awal session salah satu penggiat simpul Kenduri Cinta yang menyempatkan datang dari Jakarta, Mas Fahmi memberikan kesan dan pertanyaan terkait kegiatan Maneges Qudroh selama ini. Pak Dadik selaku wakil MQ yang sudah bersama mas Fahmi pun memberikan sekelumit gambaran bahwa yang menjadi ruh keistiqomahan MQ salah satunya ialah budaya ‘kampung’.  Sebab secara geografis sosiologis memang MQ sendiri hidup di tengah harmonisasi antara denyut nadi masyarakat tradisional dan urban. Gotong royong dan kekeluargaan. Sehingga hingga di usianya yang ke tujuh forum ini masih mampu dikelola dengan asas kekeluargaan

Sebagai contoh dalam melakukan kegiatan majelis diskusi maupun agenda-agenda lainnya, segala bentuk ubo rampe selalu tersedia atas kerelaan sumbangsih dari warga Maneges Qudroh sendiri. Mulai dari makanan,  tratag, sound dan lain sebagainya selalu dapat diupayakan atas dasar sikap gupuh, ewuh. Bahkan tak jarang saling berebut sodaqoh untuk memback-up satu dua hal kebutuhan yang harus diusahakan.

Meski cuaca sedikit hujan, jamaah yang hadir masih terus berdatangan. Pukul 22.00  tepat Mbah Nun selaku Guru sekaligus Bapak telah tiba untuk membersamai acara. Kang Eko serta merta memberikan waktu dan tempat bagi Simbah untuk memberikan landasan-landasan berfikir diskusi malam ini.

Mbah Nun yang merasa mongkok atine karena bisa ‘nyicil utang’ menemani MQ  meski baru bisa terwujud pada tahun yang ke-tujuh ini. Memberi pointer di awal Simbah menukuil ayat Subhanal ladzi asra bi’abdihi lailan minal masjidil haraam ilal masjidil aqsal ladzi barakna haulahu linuriyahu min ayatinaa, innahu huwas sami’ul bashiir. Yaitu tentang perjalanan. Perjalanan MQ yang mana telah mampu beristiqomah. MQ yang  tidak bergantung pada apapun kecuali Allah. Simbah pernah mbombong bahwa MQ ini memiliki kemandirian yang luar biasa. “Maneges Qudroh itu tidak peduli ada Saya atau tidak. Tidak meminta-minta Saya untuk hadir. Dan itu sodaqoh yang luar biasa”, terang Mbah Nun. “Maneges itu sesuatu yg kemaren belum nyata menjadi nyata. Menegaskan”, tambahnya.

Mbah Nun lantas membari simulasi-simulasi terkait keadaan sekarang ini. Kemudian terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan pada jamaah. “Orang berkumpul itu biasanya karena apa?” Jamaah menjawab keuntungan, kepentingan.  “Sedang kalian mencari apa?” riuh rendah jamaah menjawab ruhani. Cak Nun hanya memberi sedikit clue bahwa maiyah ini tempat mencari jawaban karena tidak ditemukannya jawaban di tempat mencari jawaban yang lain.

Sedangkan dari Gus Sabrang memberi tanggapan terkait sindiran beberapa orang cendikia yang pernah mengkritik soal maiyah. Gus Sabrang mengelaborasi dengan pemahaman bahwa bentuk itu adalah cara, hipotesa untuk memecahkan masalah. Salah satu mengapa maiyah itu ada karena mencoba menjawab masalah yang ada di Indonesia sebagai hipotesis. Bentuknya itu tidak penting, yang penting tujuannya. Tidak harus seperti Ormas, parpol dan sebagainya. Dan maiyah mencoba dari arah yang berbeda.

Innallaha la yanzuru ila suarikum wa-amwalukum wa-lakin yanzuru ila qulubikum wa-a’malikum. Allah itu tidak melihat wajahmu, rupamu. Tapi hatimu. Niatmu. “Wis to sing penting nandur, koe ra gawe panganane! Iyo ra?”

Soal tahlukah yang artinya kehancuran, Allah mengatakan bahwa Allah tidak menganiaya hambanya. Kehancuran karena manusianya tidak mau diatur. “Angger nek kowe gelem tawasuth (sikap tengah atau  moderat –red), ga gumunan.” Yang kamu lakukan tadi itu apa, apakah kamu hancur? Jangan pakai cara pandangmu. Jangan membayangkan kesuksesan itu harta benda. Dan kehancuran itu sebaliknya.

“Wala taisau, nek putus asa dunia rapopo. Tapi jangan putus asa dari rahmat Allah. Misalnya anda sudah mentok pada suatu hal. Ya sudah kalau memang sudah tidak mampu. Tapi setelah itu ada koma. Yaitu berharap kepada Allah.” Jelas Cak Nun penjang lebar.

La tastaslimu!

La tastaslimu! Sebuah kalimat yang Simbah dapatkan tanpa sengaja dari status Rampak putranya. Sebuah kalimat yang jarang dipakai tetapi ternyata memiliki arti ‘jangan menyerah’.  Dan malam itu dicoba untuk dielaboarasi oleh Mbah Nun.

Beberapa kata kunci malam ini yang dipaparkan Mas Sabrang. Satu, angon. Dua mencari apa yang benar bukan siapa yang benar. Ketiga, minimal kita menjadi hipotesa yang tidak menambah masalah, kalau bisa menjadi solusi. Keempat, jangan menyerah. Dan yang terakhir adalah keseimbangan.

“Jangan menyerah untuk menyerah kepada Allah! Sebab tujuan kita itu menyerah kepada Allah.“ Tegas Cak Nun menanggapi pertanyaan jamaah soal perbaedaan antara menyerah dan tau diri. “Tergantung tujuanmu. Misal kamu lari dari serangan karena tujuanmu untuk hidup. Berarti kamu tidak menyerah untuk hidup.“

Melengkapi paparan-paparan, Cak Nun menjelaskan melalui terminologi Sabil, Syariat, Thoriq, Siroth. “Sabil  itu tujuannya. Jalannya itu syariatnya. Itupun ada rukshoh. Kalau Thoriq itu kreatifitas cara kita menempuh jalan. Sedang siroth, adalah presisi gerbang yang kita cari.“ Sedang Gus Sabrang memberi garis bawah. Untuk tujuan, kita harus fanatik. Tapi cara yang kita tempuh bisa fleksibel.

Terakhir sekali sebelum acara dipungkasi. Di era teknologi informasi saat ini Mas Fahmi mengajak seluruh jamaah maiyah untuk senantiasa membiasakan budaya riset. Salah satunya tidak mencari informasi yang hanya disukai saja karena fanatik pada satu hal. Atau mencari informasi yang buruk saja terhadap sesuatu yang dibencinya. Dan pada akhirnya kalau bisa kita yang menjadi sumber informasi yang baik.

Di akhir acara penampilan kolaboratif Pak Ida Cs membawakan musikalisasi puisi yang indah. Ditingkahi hujan yang cukup deras jamaah tetap bertahan hingga akhir. Mbah Nun menutup acara dengan pemotongan tumpeng sebagai rasa syukur atas perjalanan MQ yang telah sejauh ini. Diiringi lagu Hasbunalloh, nasi tumpeng diedarkan ke jamaah untuk dinikmati keberkahannya bersama-sama.

Omah Maneges, 5 Februari 2018

 

 

Tulisan Terkait