Sepertinya kami merasa masih belum bisa mandiri, sehingga membutuhkan kebersamaan. Sepertinya kami juga tidak begitu cerdas, sehingga dibutuhkan catatan-catatan kecil untuk mempermudah mengingat kembali. Sepertinya, kami mungkin memang benar-benar terasing hingga kami membutuhkan ruang yang sanggup menampung rasa keterasingan itu sendiri.

Kurang lebih seperti itulah subjektivisas salah seorang jamaah memaknai perjalanan Selasan yang sudah menapaki minggu ke-34. Pada kesempatan kali ini Selasan bertempat di rumah Mba Yani, Sirahan Salam, yang sudah dua kali menjadi tempat Selasan. Lokasi yang termasuk jauh ternyata tetap mendapat ijinNya untuk saling bersilaturrahmi dan saling membersamai menyatakan rindu yang tertahan.

Kami seperti tidak memiliki tenaga melawan untuk membuat peubahan, kecuali pasrah. Kami tidak sanggup untuk banyak berbicara karena kesempitan cara pandang dan masih dangkalnya pemahaman kami atas sesuatu yang bernama masalah. Kami hanya sanggup memendam rasa dengan level keimanan yang serendah-rendahnya. Bahkan, Selasan ini merupakan salah satu pintu memasuki ruang “biqalbihi” atau silahkan sebut saja Majelis Biqalbihi.

Membosankan? Sudah pasti. Untuk terus menjaga asa sampai minggu ke-34 hanya ber-wirid dan sholawatan pasti akan mengalami ujian. Salah satunya yakni naik turunnya kenikmatan. Dan seolah kami mendapat jawaban terkait kenikmatan tersebut dalam Tetes “Iman yang Mendalam” oleh Cak Fuad yang terposting di hari berikutnya. Dan kami masih merasa berada di posisi “menyembah Allah di pinggiran.”

Namun, hal itu ternyata mendapat respon yang kontras ketika mendengar salah satu sedulur yang banyak menghabiskan waktu di luar negeri dan kebetulan semalam, sedulur kita tersebut memiliki waktu untuk ikut Selasan. Menurutnya, Selasan menjadi oase yang menentramkan batin ditengah hiruk pikuk keduniawian. Semacam terapi atau mungkin bisa dibilang restart untuk kembali menyegarkan proses spiritualitas.

“Memasuki dimensi yang berbeda” imbuhnya. Seakan melepas sejenak pakaian yang dianggap prinsip kehidupan. Cita-cita, tujuan, keinginan, beban pribadi, semua hilang. Hingga tersisa rasa tiada cinta selain Allah dan Rasulullah.

Acara berakhir sekitar pukul 11 malam. Dilanjutkan dengan makan bersama yang telah disajikan oleh tuan rumah, sembari saling bertukar lisan satu dengan yang lainnya.

Sirahan, 28 Juli 2020