Kita hidup di zaman yang terkepung oleh rasa paido. Bisa jadi orang maido karena hal ini menjadi efek akan banjir ilmu dan informasi yang menghanyutkan. Di lingkungan maiyah sendiri, istilah โ€œMaido Khasanahโ€ sering kita jumpai.

Selama ini, maido sering kita maknai sebagai kata yang cenderung memiliki konotasi negatif. Maido sering mewujud di dalam sikap ketika kita ngeyel, muring, ataupun misuh. Sikap ini secara tak sadar mengajak kita untuk melepaskan amarah yang mungkin sedang atau sudah beberapa waktu tertahan.

Maido sendiri sebenarnya diperlukan karena di setiap lingkaran kebersamaan kita pasti mengalami fenomena ini. Maido bisa bersifat kritik sebagai sebuah jalan untuk mencari pembuktian untuk menapaki kebenaran bersama. Yang menjadikannya buruk adalah ketika adu argumentasi atau perdebatan baik di permukaan atau sembunyi-sembunyi kita kehilangan sikap rendah hati.

Ketika maido merupakan sebuah pilihan, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Terutama terkait tentang sebab-akibat yang terjadi ketika kita mengambil sikap ini. Dan perihal ini erat kaitannya dengan perjalanan lanjutan pada dua edisi rutinan sebelumnya. Ketika kita berani mengambil kesungguhan dan berlanjut mencoba memegang kesetiaan, pasti akan banyak benturan-benturan yang akan kita temui.

Semakin berkembangnya zaman, kita justru semakin mudah terusik oleh keadaan. Terlebih jika sesuatu yang kita anggap benar secara ilmu yang didapat seolah ditenggelamkan oleh derasnya arus-arus kebenaran yang menghanyutkan. Padahal, kedamaian itu hanya seperti sambaran kilat dalam rentang perjalanan yang penuh dengan sendau gurau ini.

Yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai kita terjerumus dalam golongan rojulun laa yadri wa laa yadri annahu laa yadri. Karena orang pada golongan ini yang justru lebih banyak maido karena sering merasa paling benar. Kalau menurut Mbah Nun orang golongan ini memiliki tipikal merasa menang ketika kalah dan ketika dihina, ia justru merasa mulia.

Maido pun terkadang menjadi pengingat diri. Karena pada sejatinya kita selalu memiliki alarm yang bersembunyi di dalam diri yang membuat kita seolah selalu mendapatkan pengawasan serta peringatan. Dengan kata lain, maido ini bisa kita temukan tidak hanya dalam ruang kebersamaan, dengan diri sendiri pun kita sering mengalami hal tersebut, terlebih dengan nafsu yang selalu melekat dalam setiap insan.

Lalu bagaimana maido ini pada akhirnya dapat diartikan sebagai sesuatu yang hasanah atau baik? Dengan banyak membuat breakdown terkait hal-hal yang membuat maido, bisakah kita menjadikan sikap maido ini menjadi suatu jalan ibadah, utamanya dalam hal muamalah menuju mahabbah? Mari bersama-sama kita belajar Maido Hasanah dalam rutinan Maneges Qudroh edisi ke-118 pada tanggal 7 November 2020, bertempat di Omah Maneges, Jumbleng, Tamanagung, Muntilan. Monggo!

NB: Dimohon untuk tetap mengikuti protokol kesehatan pada saat acara.