Madrasah Diniyah dan Cinta-Nya!

Barisan para penjajak makanan beserta bazar stand-stand dari PKK daerah setempat menyambut jamaah yang hadir untuk mengikuti acara sinau bareng edisi ke-4068 di Dusun Bandung, Mertoyudan, Magelang. Indonesia Raya beserta Yaa Al-Wathon dari perkumpulan ibu-ibu Muslimat ikut memeriahkan pembukaan acara sibar dilanjutkan dengan qiraah dari adek-adek dan Khotmil Qur’annya.

Setelah pembacaan tahlil dan kalimatul thayibah oleh sesepuh setempat, pukul 21.44 Mbah Nun mulai menaiki panggung. Ya, lebih larut dari biasanya dalam acara sinau bareng. Disamping rangkaian acara dari panitia sendiri yang mungkin tampak cukup padat.

La yastawi ashabun nari wa ashabul jannah. Ashabul jannati humul faizun, penggalan surat Al-Hasyr 20 ini menjadi gelaran ilmu yang akan diudar oleh Mbah Nun mulai dalam perjalanan ngelmu malam ini. “Ora podo wong neroko ro wong suargo. Sing bathi ya mesti wong suargo. Ayo dewe goleki bareng-bareng bengi iki.” lanjut Simbah. Sepertinya mudah, namun apa yang kita anggap mudah belum tentu kita dapat istiqamah melakukannya.

Njenengan niki ting ndonya ngumbara nopo manggon?” Sontak para jamaah menjawab “Ngumbara! ” Nah, suatu saat kita pasti akan mudik ke jannah. Bukankah kita hidup di dunia ini untuk mengembara, bukan hanya sekedar manggon/menetap?

Tema malam hari ini adalah Tasyakuran Khataman Madrasah Diniyah Hidayatussibyan. Beberapa dari adek-adek Madrasah yang tampil tadi sebagian mendapatkan legitimasi berupa lembaran ijazah yang menandakan bahwa ia telah khatam dalam menempunh satu jenjang di pendidikan Madrasah tersebut.

Mungkin banyak yang masih belum mengenal apa itu Madrasah Diniyah. Mbah Nun sendiri menceritakan sedikit sejarahnya sebelum narasumber yang lain menambahkan. Menurut Mbah Nun, jauh sebelum kemerdekaan madrasah diniyah ini sudah ada. Model pendidikan yang diterapkan di Madrasah Diniyah sendiri mempunyai khasnya tersendiri. Jadi, Simbah mengutarakan pada jamaah bahwa meskipun tidak ada nama Indonesia pun tetap ada madrasah ini, kan?

Pekerjaan madrasah ini adalah pekerjaan yang terus berlanjut. Simbah berharap agar Model seperti Madrsah Diniyah ini selalu mantap dalam menjalani mode pendidikan ini. Tema ini adalah inti dari segala acara sinau bareng karena ini adalah pendidikan yang akan selalu ada terus menerus tak terpengaruh situasi apapun.

Jika nanti semua ini mengarah kepada keuntungan, kita mesti mengingat jika untung itu sendiri belum tentu bermakna sebagai rizqi, karena rizqi itu urusan Allah kepada kita. Asalkan kamu punya daya juang dalam melakukan pekerjaan dan tidak usah minder. Nanti resikonya allah pasti memberikan rizqi. Nah masalahnya sekarang sudah banyak yang kehilangan kepercayaan atas rizqi dari Allah.

Pesantren ini (madrasah diniyah) adalah model pendidikan yang tradisional menurut Simbah dan sangat penting. Selanjutnya Mas Helmi diberi kesempatan untuk menambahkan karena telah meneliti secara khusus tentang Madrasah Diniyah ini. Menurut Mas Helmi, Madrasah Diniyah sekarang kurang dikenal daripada pondok pesantren. Boleh dikatakan madrasah ini tidak ada target formalnya. Gelar ataupun wisuda baru ada setelah pengaruh pendidikan modern. Model madrasah diniyah ini adalah pendidikan yang paling awal, sebelum masuk pengaruh model pendidikan barat yang dibawa oleh Belanda. Mungkin madrasah diniyah akan menjadi model utama pembelajaran di Indonesia kalau masyarak dan sistemnya tak terpengarub oleh apa yang dibawa dari barat.

Di sisi lain, pesantren itu dulu kebutuhan masyarakat memurut Pak Muzzamil. Dimana pada zaman dahulu banyak model-model pendidikan semacam ini yang dilakukan oleh para priyayi baik di padepokan, mushola atau masjid sebagai tempat pembelajaran mereka. Semua bisa membentuk tempat ini tanpa perlu legitimasi formal disaat pendidikan sudah menjadi suatu kebutuhan pada saat itu.

Mengapa pendidikan itu sangat penting? Disini Mbah Nun menjelaskan dengan mengambil surat Al-Qashah ayat 77, yang tadi malam di tadabburi oleh Simbah dengan makna dalam rangka engkau berjalan mencari jalan rumah (akhirat) kamu jangan sampai lupa pada nasibmu di dunia. Jadi kita mesti bisa memprioritaskan dari pilihan-pilihan yang mesti kita hadapi. Mana yang urusan akhirat dan mana yang urusan duniawi.

Misalnya, seperti ketika kita datang pada malam acara malam ini. “Sing marakke dewe nglumpuk kan khalayanmu tentang aku. Aku bukan siapa-siapa dan tidak punya kuasa apa-apa. Jadi tidak ada dimanapun di dunia ini yang bisa mengumpulkan manusia sebanyak ini kecuali  ajibah/keajaiban dari Allah akan seberapa pentingnya pendidikan itu seolah-olah mereka memanggilmu. Disaat bisa saja, kalau bukan ada yang menarikmu kesini, mungkin kegiatan yang sifatnya duniawi lebih akan menybukkanmu malam ini.

 Acara sinau bareng malam ini terasa sangat cepat. Hamparan langit temaram berhiaskan rembulan dan bintang ini pun langsung menjadi atap ruang pembelajaran pada malam yang berangsur mengembun ini. untuk menghangatkan suasan pun Simbah mengajak para adek-adek Madrasah untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Dengan dipimpin langsung oleh Mbah Nun sendiri yang menjadi Guru dibantu oleh Mas Doni. Mas Jijit yang biasanya sangat menghibur dalam segmen ini nampaknya sedikit mengalami cedera pinggulnya sakit. Semoga beliau bisa segera comeback fit 100% secepatnya, Amiin.

Pertama, mereka disuruh melafalkan huruf-huruf hijaiyah yang berkharokat dhomah, kasroh, maupun fatkah. Yang kedua, menyanyikan alfabet dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, huruf hijaiyah, serta aksara jawa. Ampuhnya, mereka sanggup dan mampu

 Dan yang ketiga, mereka langsung ‘tempur’ bersama para jamaah dalam menyanyikan lagu Shalatullah, Yaa Thayyibah dan Lir-Ilir yang biasa ditampilkan Kiai Kanjeng. Meski awalnya belum terbiasa, tapi sekali dua kali kesalahan meraka langsung mampu menyaingi para jamaah yang notabene lebih berpengalaman meski temponya dipercepat dan secara acak bergantian menyanyikan identitas lagunya. Simbah sangat menyanjung mereka suatu saat mampu memimpin dunia dengan skill seperti ini, meski awalnya juga agak membuat Simbah sedikit kesuh karena kurang tegas.

Dengan keahlian seperti itu dan dengan bimbingan yang tepat dari orang tua. Bukan sebuah keniscayaan jika adek-adek ini suatu saat mampu menjadi pemimpin. Hanya saja masalahnya sekarang orang tua sering memberi pendidikan dan menyekolahkan anak-anaknya agar mereka bisa sukses dimana sukses menurut mayoritas orang tua sekarang banyak yang mengartikan kekayaan ataupun kekuasaan. Bukan untuk setia dan istiqamah terhadap proses. Malam hari ini Mbah Nun berkali-kali berpesan, “sing penting koe fokus ro penggaweanmu lan karo opo sing mok senengi.” Pak Muzzamil sedikit menambahkan dengan mengambil ayat ihdinash-shiratal mustaqim yang selama ini dimaknai tunjukkan aku jalan yang lurus. Padahal tepatnya bukan itu menurut beliau, melainkan, melainkan jalan yang istiqamah.

Tapi sebelum melakukan istiqomah tersebut, ada baiknya kita memiliki landasan nilai yang cukup kuat. Disini Mbah Nun menyampaikan bahwa nomer satukanlah rahman rahim, maka Allah akan memudahkan jalanmu. Selain itu kenapa rahman-rahim mungkin lebih karena situasi konflik yang terjadi dimana-mana terlihat seperti sudah hilang buah makna dari rahman-rahim itu sendiri, yaitu cinta dan welas asih sesama. Semua pihak merasa paling istiqomah tapi kehilangan cinta sebagai dasarnya, akhirnya mereka mudah berebut kebenaran versi mereka masing-masing. Selain itu, mereka terlalu mudah mudah merumuskan neraka ataupun surga, disaat ada cara lain untuk lebih utama merumuskan kebahagiaan bersama dalam kasih sayang Allah.

Dan acara ini berlangsung sebagai suatu bukti cinta Tuhan atas Madrasah Diniyah ini hingga akhirnya bisa mengumpulkan para Al Mutahabbina fillah di lapangan ini. “Bagaimana mungkin indonesia hancur jika rakyatnya mampu seperti ini (berkumpul bersama dalam kemesraan sampai larut malam)?” ungkap Cak Nun. Tuhan itu terlalu sayang kepada Indonesia sehingga sangat sulit bagi kelompok-kelompok luar untuk menghancurkan Indonesia. “Islam itu rahmatan lil’alamin. Kalau bukan rahmatan lil’alamin itu berarti islam cap apa?” sambung Pak Muzzamil.

Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 01.00 yang menandakan acara mesti segera dipungkasi. Terlebih untuk menghormati para jamaah yang masih melakukan perjalanan jauh dan masih menunaikan ibadah sahurnya. Shalawat narriyah dari adek-adek dilanjutkan do’a dari Pak Muzzamil menutup acara pada malam ini dengan penuh hikmat.

Magelang, 16 Mei 2019