Ruwah merupakan salah satu tradisi budaya peninggalan para pendahulu kita. Tentu kita tidak asing dengan kata ruwah itu sendiri, apalagi menjelang momentum bulan puasa tiba. Karena ruwah merupakan salah satu ritual penghormatan terhadap arwah para leluhur, yang bentuk ataupun aplikasinya bisa berbeda di tiap wilayah.

Sedangkan tradisi itu lambat laun terkikis oleh kemajuan zaman. Meskipun tidak menghilangkan, akan tetapi budaya untuk ngrumat kebudayaan sendiri mulai tidak menarik seiring dengan selera zaman yang lebih banyak menawarkan kenikmatan nyata daripada ekspertasi diri. Orang mulai terbiasa berpikir praktis daripada memilih pendalaman arti yang lebih ruwet/rumit.

Kita hidup pada masa kecanggihan berpikir yang bukan lagi merupakan sesuatu yang awam. Namun beriringan dengan itu, lelaku menjadi mulai kehilangan tempatnya. Padahal sudah menjadi hal yang umum bahwa “ngelmu iku kelakone kanthi laku”. Apa baiknya sebuah ilmu apabila hal itu tidak menjadi sebuah laku diri? Apa baiknya sebuah ilmu apabila tidak dapat memberikan manfaat kepada lingkungan atau setidaknya pada diri sendiri?

Sudah dapat dipastikan ilmu itu akan hilang atau lenyap. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kita perlu mengulik lagi betapa banyaknya manfaat atau keutamaan saat kita mempelajari lelaku. Begitu melimpah ruahnya kenikmatan yang tersaji apabila kita ikut ngrumat tradisi atau kebudayaan yang semakin terkikis oleh kemajuan zaman.

Mbah Nun pernah berpesan bahwa semakin kita bisa menarik mundur sejarah kebelakang, maka lesatan pandang kita akan meluncur lebih jauh ke depan layaknya anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Dengan menyambut ruwah yang akan datang, harapannya tema ini bisa menjadi momentum untuk lebih memperkaya ilmu diri sehingga nantinya bisa lebih subur dalam nggayuh setoran amal kebaikan kita pada Allah Swt.

Selain dari itu, ruwah juga bisa menjadi pemantik dalam mencari sangkan paran diri dan peneguhan kembali konsep innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang patut dipertandingkan, kecuali berlomba dalam kebaikan dalam mengetuk pintu rumah-Nya. Dan ketika kiita sudah banyak mengingat dan banyak menyebut asma-Nya, tidak lebih yang kita dapatkan kecuali ketentraman hati.

Monggo, bagi dulur-dulur yang ingin mencari sesuatu yang akan dilimpahkan? Ataupun tidak menutup jalan bagi yang hendak melimpahkan? Mari kita bersama-sama ngonceki tema “LIMPAH RUWAH” yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Maret 2021, pukul 20.00 WIB, di Omah Maneges, Jumbleng, Muntilan, Magelang.

NB: Dimohon bagi dulur yang hadir untuk tidak lupa terhadap protokol ketaqwaan dan kesehatan.