“Kupluk Lusuh” (1)

Launching website Maneges Qudroh dan Omah Maneges

Dalam upaya mengeksiskan diri di dunia nyata maupun maya, alhamdulillah bulan Mei ini Majelis Ilmu dan Paseduluran Maneges Qudroh resmi memiliki website. Harapan ke depan Maneges Qudroh atas website barunya adalah semakin teroganisirnya segala kegiatan maupun khasanah-khasanah maiyah dalam bentuk dokumentasi yang terpublikasi. Khususnya khasanah-khasanah di wilayah Magelang dan sekitarnya.

Setia dengan tagline “Lungguh bareng, rembug bareng , entuk ngelmu, entuk sedulur”, Sabtu malam minggu pertama bulan Mei kali ini Maneges Qudroh memulai acara dengan latunan ayat suci Al Qur’an. Suara merdu Mas Fani membawa Surat Al An’am sebagai pengantar diskusi malam itu.

Sholawat Wulidal Huda dari Pebelan juga turut menghantar hadirin untuk segera Lungguh bareng dan tadabbur bersama dalam forum kali ini. Dengan personel yang sudah sepuh-sepuh, mereka tetap semangat menguri-uri sholawat. Berdasarkan pernyataan mereka, Sholawat yang mereka bawakan merupakan upaya pelestarian sholawat jawa yang diwariskan dari Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

g1

Mas Eko membuka diskusi dengan mengajak hadirin untuk membaca Al Fatehah. Membuka wacana pesantren tradisional, Mas Eko memberi gambaran sepintas tentang keberadaan pesantren tradisional yang masih eksis di dusun-dusun. Di antaranya kemandirian-kemandirian yang dihasilkan pesantren-pesantren tradisional, sehingga santri lulusan pesantren tersebut hidupnya luwes ketika sudah di masyarakat. Misalnya saja, angon bebek tetapi punya santri 40. Ini lebih nyata manfaatnya ketimbang bikin partai tapi nyatanya untuk memperkaya diri sendiri.

Di sesi awal, forum digunakan untuk menginformasikan perkembangan website dan hujan lebat maiyah melalui media sosial. Dari Mas Wahyu menyampaikan bahwa dengan website barunya, Maneges Qudroh membuka seluas-luasnya untuk masyarakat maiyah magelang untuk berkontribusi bagi perkembangan website selanjutnya. Mas Khoirun juga mengutarakan panjang lebar soal Medsos MQ. Untuk Media Sosial Mas Khoirun membuka peluang juga bagi sedulur-sedulur Maneges agar ambil bagian.

Mas Helmi dari Progres Kadipiro yang alhamdulillah rawuh, memberi respon yang positif atas launchingnya website Maneges Qudroh dan Media Sosialnya. Setelah beberapa waktu lalu memberi workshop penulisan, kedatangan yang kedua membersamai Maneges Qodroh kali ini Mas Helmi berbagi beberapa hal terkait konten penulisan. Baik di web maupun media lainnya. Dikatakan Mas Helmi, sebagaimana yang sering Simbah sampaikan bahwa tujuan kita menulis itu sebenarnya adalah supaya kita sendiri tidak hilang ingatan. Tidak kehilangan jejak yang kita lakukan. Sehingga, kita, anak cucu kita, keluarga kita tidak kehilangan keris. Atau sebagai pusaka yang tidak bisa dibantah lagi kelak. Sehingga mengingat manfaat dan urgensinya hal tersebut, harapan ke depan sedulur-sedulur maiyah bisa terpanggil untuk tujuan-tujuan di atas. Baik itu berupa tulisan, dokumentasi gambar maupun publikasi-publikasi lainnya.

Setelah panjang lebar  berdiskusi terkait diresmikannya website Maneges Qudroh, acara dilanjutkan dengan prosesi ngeslupi Omah Maneges yang baru saja selesai dibangun. Prosesi diawali dengan kirab tumpeng dari halaman menuju Omah Maneges. Diawali dengan Nasi Tumpeng yang ditandu 4 orang dan empat orang lainnya di belakang membawa masing-masing 1 tampah sego megono. Di depan, salah seorang memimpin jalannya tumpeng pelan-pelan sembari memercikkan ‘air suci’ kepada hadirin. Ini merupakan perlambang rohmah dan barokah yang semoga senantiasa terlimpah kepada siapapun yang bersinggungan dengan Omah Maneges.

g2

Backsound ‘Wirid Penjagaan’ aransemen Mbah Nun dan Kiaikanjeng mengiringi ritual tersebut sebagai simbol pengharapan sedulur-sedulur MQ agar Omah Maneges mampu terjaga keistiqomahannya dalam mengusung misinya sebagai pusat kegiatan dan apapun saja yang terkait dengan permaiyahan di Magelang khususnya.

Omah Maneges tersebut memakan waktu satu bulan dalam proses pendiriannya. Atau tepatnya dimulai pada Kamis Pahing, 6 April 2016 – 6 Mei 2016 atau 28 Jumadil akhir sampai Jumat Legi, 28 Rejeb 1949 Kalender Jawa.

Masuk pada khasanah ‘Kupluk Lusuh’, Mas Verdhian membuka cakrawala dunia pesantren tradisional dengan kisah-kisah sederhana di lingkungan pesantren. Dimana pesantren tradisional khususnya di tlatah Magelang masih banyak menggunakan metode-metode lama yang sampai sekarang tidak bisa dirusak sistem pembelajaran modern. Sebagai contoh, pembelajaran kitab kuning yang harus ngabsahi. Padahal untuk belajar, sekarang banyak buku-buku juga ada google yang menawarkan dengan mudah untuk membaca apa saja. Tapi mengapa hingga kini di pesantren tradisional masih bertahan sarung, kuplukan, ngabsahi kitab kuning, juga pembelajaran utawa iki iku, masih eksis sebagai metode pembelajaran yang digunakan.

Salah satu tamu yang hadir malam itu, Pak Chalim diminta Mas Verdhian untuk berbagi pengalaman terkait dunia pesantren salaf. Pak Chalim adalah seorang petani yang juga guru mengaji di kampungnya dapat dikatakan punya pengalaman hidup di lingkungan pesantren salaf cukup lama. Sebab selama di pondok dulu beliau lebih sering melakukan pekerjaan di ‘belakang’. Misalnya ngliwet, mencuci. Sebab beliau didaulat untuk berkhidmat menjadi khadimnya pak Kiai. Dan itu merupakan salah satu khasanah sendiri dari dunia pesantren salaf yang masih berjalan.

Menurut pak Chalim, podok pesantren salaf memang mendidik santri-santrinya untuk

menjadi orang yang kendel (berani-red) dalam hal apapun termasuk ekonomi. Yang penting mengaji, ekonomi jangan dipikir dulu. Mendapat pekerjaan atau tidak itu urusan rezeki Gusti Allah. Sebagaimana pesan Kiainya dulu, menjadi santri itu hatinya harus punya keyakinan bahwa soal ekonomi itu mudah. Yang pokok sebelum bekerja itu harus dijalani dengan senang terlebih dahulu. Dan ternyata meskipun dari pondok tidak dibekali cara mencari uang, alhamdulillah sampai hari ini tetap ada jalan rezeki. Sehingga pada akhirnya menjalani hidup menjadi kendel.

Selain itu termasuk pesan-pesan Bu Nyainya yang banyak terbukti arif dan bijaksana ketika di kemudian hari berbaur di masyarakat. Ojo sok seneng ngambus bandhane tanggane (jangan suka mencium harta tetangga), Ojo sok seneng ngambus pangkat derajate tanggane (jangan suka mencium pangkat tetangga), Ojo sok seneng ngambus gembuse tanggane, (jangan suka mencium ‘barang’ istri tetangga). Maksudnya kurang lebih, jangan iri terhadap harta tetangga, jangan iri jabatan tetangga, dan menjaga diri dari wanita yang bukan haknya. Dengan itu semua Pak Chalim menjadi bersahaja, misalnya saja jika kemudian di masyarakat disebut Kiai ia tidak bangga, namun jika tidak disebut ia tidak kecewa. Sebab itu semua bukan tujuan utama.

Berbeda dengan Verdhian yang notabene juga pernah nyantri. Mas Verdhian bercerita ketika dulu nyantri banyak hal yang dialaminya. Gudhiken, kukur-kukur, pakai heroichin, yang itu benar-benar melatih kesabaran juga. Termasuk bagaimana survive-survive kecil yang lazim dilakukan seorang santri. Seperti memanfaatkan baju-baju kotor yang dimasukkan dalam sarung untuk kemudian dijadikan bantal. Bahkan Simbah Ainun Nadjib sendiri dulu banyak sekali melakukan hal demikian. Beliau pernah bercerita, dulu ketika mondok sering memungut sisa-sisa odol santri yang lain untuk dikumpulkan. Hasilnya beliau hemat beli pasta gigi untuk waktu yang lama.


Bersambung bagian 2.

Tulisan Terkait