Kiranya waktu sudah memasuki masa injury time saat poster mulai dipublikasikan siang hari untuk rutinan Bulan November kali ini. Bahkan, Mukaddimah baru di posting sore di hari yang sama tepat sebelum diadakannya rutinan pada malam hari. Tentu hal ini akan menjadi sebuah permasalahan bagi yang mempermasalahkannya. Namun berbeda bagi mereka yang telah muthma’innah, seolah mereka berkata “ada tiadaku semata-mata miliknya jua”. Jika di-translate mungkin bisa bermakna ada tiada Majelis Paseduluran ini (Meneges Qudroh), semata-mata miliknya (Tuhan) jua.

Manusia tidak mesti disuapin terus-menerus. Mereka mesti belajar untuk dilatih sesekali mencari sesuapan itu seiring dengan bertumbuh dewasanya mereka. Manusia berada di arena yang berbeda meski berpijak di atas bumi yang sama. Manusia pun pasti berjuang dengan niat yang tidak bisa disamakan meski di bawah keteduhan payung cinta yang sama. Oleh karena itu, kemandirian ber-independensi diri seharusnya mulai di-refresh ulang setiap saat untuk memahami apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing, terlebih melihat kodrat yang telah diberikan sebagai manusia, sebagai insan kamil, sebagai ahsanu taqwim.

Malam telah larut dan gerimis mulai menyambut di sekitaran Panti Asuhan Daarus Sundus yang akan menjadi tempat dilaksanakannya rutinan yang ke-105, dengan tema Kumandanging Berjanjen. Satu demi satu jamaah mulai berdatangan. Saling salam dan berbincang menjadi suasana awal perjalanan malam ini dengan hiasan tawa lepasnya sembari menunggu kedatangan yang lain. Layaknya sebuah angkot yang sedang ngetem di teriminal, mulainya acara pun menunggu jumlah yang dirasa telah pantas untuk berangkat memulai perjalanannya.

Bacaan tawassul dan wirid akhir zaman pun menjadi bahan bakar semangat bermaiyah malam ini. Sebelum melanjutkan dengan Berjanjen, pembelajaran tentang Berjanjen ini sedikit diudar meski istilah tersebut sudah pasti tidak asing bagi semua yang telah hadir. Karena Berjanjen itu sendiri sudah biasa dilantunkan baik di acara kelahiran, khitanan, ataupun pada bulan-bulan Maulud seperti sekarang ini. Bahkan, suara sayu-sayu berjanjen dari desa sekitaran Panti pun juga sudah terdengar sedari tadi.

Kita perlu mengetahui tentang pentingnya membaca sholawat dan melestarikan adat mauludan di masyarakat, yang kini mulai tergerus dengan pemahaman atas ketidaksetujuan dengan budaya tersebut. Dengan tetap memegang teguh cinta segitiga antara hamba, Allah dan Rasulullah, semua yang dilakukan dalam mauludan tentu memiliki harapan agar hatinya terus tekoneksi dengan Kanjeng Nabi. Termasuk apa yang telah Maneges Qudroh selenggarakan pada malam hari ini.

Berjanjen ini sendiri sebetulnya adalah salah satu amalan yang bisa dibilang sedikit mudah. Berbeda dengan wirid-wirid lain yang lebih membutuhkan tingkat kekhusyukan ataupun konsentrasi tertentu. Berjanjen ini sifatnya lebih luwes. Jika kita sering mengikuti acara-acara seperti berjanjen ini, maka kita akan banyak sekali melihat pemandangan ibu-ibu dengan selimutnya sampai dengan mata kantuknya, meski ketika mendadak terbangun langsung bisa nyetel dengan bacaan yang sedang terlantun.

Berjanjen, sebuah sholawat karangan Syaikh Abdul Jalil Ar-Barzanji pun mulai dikumandangkan bersamaan. Sekitar setengah jam lebih para jamaah nampak khusyuk menghayati dengan mata terpejam. Lalu dipuncaki dengan berdiri bersama melantangkan asyroqolan/mahalul qiyam. Meskipun terkesan bengak-bengok, tapi ada getaran-getaran tertentu seolah Rasulullah hadir dalam suasana yang syahdu. Manusia mesti belajar eling lan waspodo, serta siaga terhadap apapun yang ditempakan kepadanya, dan pada malam hari ini setidaknya kita belajar untuk terus gondelan klambine Kanjeng Nabi.

Belajar tidak terbatas dengan tujuan sekedar utuk memahami suatu ilmu. Namun jika belajar adalah tentang perjalanan, tentang membuka pintu ilmu yang lain, maka hal itu akan menghasilkan keluasan. Baik tentang cara berfikir, memposisikan hati, pun cakrawala cinta. Salah satu hasilnya adalah “dilenturkan hati kita.” Kenapa lentur hatinya? Agar mendapati hati yang saling ikhlas untuk terus membersamai dan tumbuh dalam payung cinta di jalan yang sama.

Bebek Sadegan dari sedekah salah satu penggiat sudah tersaji untuk mengeti kepulangan ayahanda beliau (khususon Al-Fatihah). Kumandangin berjanjen kali ini adalah salah satu wujud akan kumandangin hati untuk menegaskan cinta dan menuntaskan kerinduan yang telah terpendam, baik kepada yang telah berpulang, kepada Al-Mursyid, kepada Rasulullah SAW, bahkan kepada Allah SWT. Kebersamaan pun lantas menutup sempurna rangkaian acara pada malam hari ini, terkhusus dalam bulan kelahiran Muhammad bin Abdullah, Sang Kekasih dari Sang Maha Asih.

Dalam suasana maiyah, apapun dapat tertampung dalam kebersamaan. Seperti apa yang dikatakan oleh Mas Dhian, “Bermaiyahlah dengan dasar ikhlas dan dalam rangka membangun katresnan dengan kanjeng nabi ,sehingga fisik akan mudah dan ringan hadir dalam lingkaran jasadiyah paseduluran dan disaat itulah kita akan panen buah keberkahan dari silaturahmi dan majelis ilmu.”

Magelang, 3 November 2019