Kembang Sembilan Rupa, Nyawiji Menuju Sang Aji

Sembilan

***

padu warna

menyaji diri

hati berdetak

hari berderak

langkah bergerak.

mendesak batas pengungkungan

melesak jarak

melipat ruang

hingga diri baik tercermin

ini bukan lagi senandung

apalagi cuapan tanpa arti

tapi,

kami adalah bunga

yang mencoba menyisir gelombang kepenatan ruang

memutar aroma

memantulkan indah-Nya

kami tlah sembilan

sembilan jua kelopak merekah

harum menebar pesona

***

Puisi di atas sengaja kubuat dalam rangka melahirkan harapan yang kucoba kugelindingkan menjadi bola salju untuk kuhadapkan pada kalian, wahai para jamaah maiyah Magelang, Maneges Qudroh.

Hari ini, 5 Februari 2020 adalah hari kegembiraan dimana Maneges Qudroh genap berusia 9 tahun. Kegembiraan seperti sebuah hari raya sebagai puncak untuk berkomplentasi diri, merenungkan diri akan arti kehadiran Maneges Qudroh, dibandingkan dengan perbedaannya kala Maneges Qudroh tak pernah ada dan dilahirkan di dunia ini.

Kembang Sembilan Rupa

Kembang sembilan rupa biasanya adalah dikaitkan dengan aktivitas ritual mandi kembang.

Ritual mandi kembang menurut Islam sendiri tidaklah hal yang musrik. Mereka yang beranggapan musrik, berarti mereka adalah tipe orang yang tidak bisa berpikiran jernih. Ritual mandi kembang yaitu rutinitas supaya tubuh bersih dan wangi, dan dulu karena pada waktu itu belum ada sabun, maka bunga beraneka warnalah yang mereka pergunakan untuk menyeka tubuh.

Pada sastra kitab klasik, telah dijabarkan oleh Jalaludin as Suyuthi, mengenai makna filosofis dari ritual mandi kembang kecuali mengakibatkan daya, bunga memiliki ciri aroma enak yang tercium serta bentuk dan warna yang indah yang akan memberikan perasaan nyaman bagi siapapun.

Bunga atau kembang memiliki daya vibrasi yang bisa membuat medan daya tubuh jadi stabil, sampai sistem pencernaan tubuh bertindak dengan benar.

Manfaat mandi bunga akan demikian dirasa jika seseorang tengah mengalami perasaan gelisah dan tertekan. Sebenarnya tidak peduli pagi, siang, sore bahkan malam, seseorang tetaplah mampu menyerap daya positip yang didapat dari bunga-bunga itu. Oleh karenanya sebagian orang jaman dulu sering kerjakan ritual mandi kembang 9 rupa untuk membebaskan jiwa-jiwa yang terganggu ketentramannya, karena jika seseorang terganggu, bakal terganggu juga.

Dalam hal ini, Maneges Qudroh diharapkan dapat hadir sebagai penenang jiwa, sebagaimana perihal kembang 9 rupa sebagai bahan mandi kembangnya orang-orang di sekitar kita.

Berkembang 9 Rupa Untuk Nyawiji

Maneges Qudroh sebagai sebuah ruang diharapkan mampu untuk terus berkembang ke 9 anak ruang, yakni 8 arah mata angin : Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utara, Timur Laut ditambah 1 ruang yakni ruang ke dalam diri.

Dari sini harapan ke depan di usia 9 tahun ini, Maneges Qudroh mampu berkembang ke segala penjuru, baik di luar maupun di dalam dirinya.

Sebagai catatan (dan ini yang tlah ditempuh) untuk mencapai itu semua adalah dengan meniadakan diri.

Muhammad Nursamad Kamba dalam tetes tentang peniadaan diri menerangkan bahwa manusia, dengan keunikan dan potensi-potensinya yang dahsyat, oleh Tuhan dikehendakkan menjadi otak dalam segala aktivitas alam semesta.  Untuk tujuan itu, Tuhan memberi petunjuk dengan jalan tauhid.

Istilah “tauhid” berasal dari bahasa Arab, yang berarti menyatukan, memadukan, dan mengintegrasikan. Manakala manusia memiliki kemampuan tauhid, maka ia berhak mengontrol alam semesta atau menjadi khalifah. Menjadi asisten Tuhan. Namun, untuk meraih kemampuan tauhid, manusia harus menyatukan diri dengan Tuhan. Hanya satu jalan menuju kebersatuan dengan Tuhan, yakni jalan peniadaan diri.

Nyawiji, Menjadi Sang Aji

Peniadaan ego untuk meleburkan dalam arusnya tentunya akan mengendapkan inti dari segala inti hidup untuk kemudian menjadi sosok Sang Aji.

Dalam glosarium ada dua pengertian dari kata sang aji.

Yang pertama ditulis sangaji (tanpa dipisah) yang berarti (jawa) baginda raja.

Yang kedua ditulis terpisah Sang Aji yang berarti sosok profil seseorang yang berguna.

Penulis sebetulnya lebih cenderung arti sang aji yang kedua, yakni yang berguna atau istilah familiarnya ‘migunani’.

Apapun dan siapapun dalam sebuah kehadiran akan diukur dari jawaban sebuah pertanyaan, ‘migunanikah selama ini?’

Sedemikian juga dengan Maneges Qudroh, puncak kontemplasi perjalanan 9 tahun ini sudahkah migunani, bermanfaat, bahkan pertanyaan ‘sadis’nya adalah sudah menemukan perbedaannya-kah antara ada Maneges Qudroh dan tidak pernah ada Maneges Qudroh?

Saya tidak akan menjawabnya tentunya, karena disini kapasitas saya adalah sebagai salah satu yang dikaruniai oleh Allah SWT untuk ikut membersamai keberadaan Maneges Qudroh. Jadi tak etis jika saya menjawab ‘ada, banyak sekali’ atau ‘tak ada sama sekali’. Tapi paling tidak dari sini saya harus terus ikut merumuskan pencarian formula agar keberadaan Maneges Qudroh menjadi Sang Aji bagi lingkungan sekitar kita.

*

Dirgahayu Maneges Qudroh.

Hernadi Sasmoyo Aji

(Fighter Pilot Rumah Sastra Langit Timur)