Ada yang menarik dalam Selasan edisi ke-57 di kediaman Mas Munir Syalala atau tepatnya di Sanggar Soko Papat. Tepatnya kehadiran orang-orang yang sudah lama membersamai Maneges Qudroh dan juga beberapa dulur yang baru pertama kali datang ke Selasan. Selain itu, hadir juga Habib Ahmad dan Gus Hamid dari Pekalongan. Tentu saja, kehadiran ini menjadi berkah tersendiri bagi Selasan.

Dalam mata air maiyah, sebelum menapaki Al-Mutahabbina Fillah (hamba-hamba yang saling mencintai karena Allah semata), terdapat istilah Al-Muthahharun (hamba-hamba yang disucikan oleh Allah) dan Al-Muhtadin (hamba-hamba yang diberi hidayah oleh Allah). Dalam Selasan, hingga putaran ke-57 kita selalu merajut dan menguatkan ikatan cinta kepada Allah dan kekasih-Nya melalui lantunan wirid dan sholawat.

Begitu pun dalam Selasan, jumlah kehadiran tak menjadi perbedaan. Tiap minggu semua kembali fitrah atau nol sebelum menahan diri hingga diperjalankan kembali. Semuanya sama-sama disucikan dengan datangnya niat. Semua juga mengalami proses dikuatkan melalui hidayah atau tercahayai sebelum akhirnya dipertemukan. Sekalipun tanpa hubungan darah, kita akhirnya menyatu menjalin ikatan persaudaraan karena saling mencintai di jalan cinta yang sama.

Lantunan perjalanan wirid dan sholawat hampir selalu sama, hanya saja di setiap putaran selalu ada suasana yang berbeda. Habib Ahmad dengan yang berpenampilan nyentrik dengan potongan mohawk-nya, menyampaikan bahwa dirinya setidaknya mendapati 3 hal dalam kesempatan membersamai Selasan. 3 hal yang sangat luar biasa yang jarang didapati beliau.

Begitupun dengan apa yang disampaikan oleh Gus Hamid sesudahnya, dengan menegaskan apa yang sudah disampaikan oleh Bib Ahmad, bahwa salah satunya dalam suasana seperti ini pasti kerwauhan Kanjeng Nabi, keluarganya, atau para kekasih Allah. Gus Hamid juga menyampaikan bahwa keadaan pada saat wirid dan sholawat itu seolah-olah kita sedang dipamerkan atau dibanggakan oleh Allah kepada para penduduk langit.

Oleh karena itu, dalam masa pandemi seperti ini. Hal yang dilakukan seperti bermunajat yang dilakukan secara kontinuitas menjadi obat paling ampuh dalam menolak balak. Karena menurut Gus Hamid sendiri dalam doa-doa atau syair yang terlantunkan dalam munajat Maiyah ini, tak diragukan lagi ketulusan dan rasa cinta yang dipersembahkan oleh setiap sedulur yang hadir dalam Selasan. Meskipun, dengan chasing atau penampilan apa adanya. “Jangan lihat pecisnya, jangan lihat chasing-nya!” pesan Gus Hamid.

Bahkan, di akhir kata-katanya, Gus Hamid menyampaikan bahwa dirinya sedang berada dalam komunitas yang dzauqiyah. Adz-dzauq menurut Al-Ghazali merupakan kehadiran hati ketika seseorang berdzikir kepada Allah secara terus-menerus, dan buah dari dzikir itu akan menghasilkan cita rasa spiritual (dzauq) paling dalam di tengah kesadaran tertinggi.

Kelanjutan proses dzauq dan bagaimana kondisi rohani seseorang yang larut didalamnya, tidak dapat ditangkap melalui kata-kata. Dulur-dulur yang merasakannya pasti tahu. Dan mereka yang belum merasakannya pasti belum tahu. Menurut para ahli tasawwuf, dzauq merupakan gerbang utama untuk memperoleh pengetahuan langsung tentang Allah dan dari Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Acara Selasan pun akhirnya ditutup sekitar 00.30,  setelah semua dirasa telah cukup menyampaikan rasa cintanya. Semoga cita rasa spiritual yang didapat tidak lantas membuat diri menjadi bangga seolah-olah kita selalu mendapat pembelaan dari-Nya dan tetap menyatu membangun nuansa dzauq bersama-sama dalam Selasan.

Sanggar Soko Papat, 5 Januari 2021