Kita tidak akan pernah bisa menyangka bertemu dengan siapa dalam sebuah tempat yang menjadi ruang bagi siapapun di dalam maiyah. Dalam potret ini, sebuah kisah menarik datang dari seorang pejalan maiyah bernama Antonius Sunarko, atau biasa dipanggil Koko oleh dulu-dulur MQ lainnya.

Koko ini diberi keistimewaan oleh Gusti Allah dengan bentuk fisik yang berbeda dari manusia normal pada umumnya. Koko tetap bekerja setiap harinya sebagai pedagang penthol kuah di daerah Muntilan. Meski dulunya Mas Koko ini juga pernah beberapa kali kesempatan masuk dalam TV maupun layar lebar ketika tinggal di Jakarta sekitar tahun 2000-2007.

Sekarang kendaraannya dimodifikasi khusus agar mampu menunjang mobilitasnya sehari-hari. Etos semangat bekerjanya sangat luar biasa dan keistimewaan yang diberikan kepada Koko ini seharusnya mampu menjadi pembelajaran bagi yang merasa normal pada umumnya.

Namun siapa sangka, beliau yang sudah melebur di dalam Maneges Qudroh selama 3 tahun, ternyata memiliki keyakinan sebagai seorang pemeluk agama Katholik. Koko pernah berujar, “keyakinanku memang masih Katholik, tapi aku menemukan beragama itu justru ketika aku berada disini (maiyah).” Lalu dia menambahkan bahwasanya di maiyah, dia menemukan kemesraan yang sampai sekarang belum dia temukan di tempat lain.

Meskipun dulu-dulur lain sering mengolok-olok bentuk fisiknya, namun itu tak membuat Koko sakit hati karenanya. Justru momen-momen itulah yang sangat dirindukan ketika berkumpul dalam lingkungan maiyah menurut Koko, khususnya kepada dulur-dulur Maneges Qudroh. Karena telah terjalin ikatan persaudaraan dan kedekatan batin antara satu dengan yang lain. Koko menganggap lingkaran paseduluran ini sangat perhatian terhadapnya.

Meski beragama non-Muslim, namun beliau sangat rajin ikut wirid dan sholawat yang akhir-akhir ini giat diadakan oleh Maneges Qudroh. Bahkan sebelum acara, dulur-dulur yang lain mengingatkan nanti ketika pas bacaan syahadat, suaranya tolong dikeraskan sembari bercanda.

Aku ki mongkok (trenyuh) karo dulur-dulur ning kene. Aku (dengan keterbatasan fisikku) sing raiso ewang opo-opo tetep disopo dan ditompo koyo ngene. Bahkan wingi pas acara (Milad #9tahunMQ) malah nganti diundang maju ning panggung. Mongkok aku!” kata Koko dalam evaluasi panitia setelah Milad selepas acara wiridan di Sirahan, kemarin (11/2).

Ya, kita semua saling berbagi cerita dalam rangka tahadduts bin-Ni’mah. Semoga kepada Koko alias Antonius Sunarko selalu diberikan keselamatan, kesehatan, serta selalu dalam naungan barokahNya. Al-Fatihah.