Kewarganegaraan Ganda (1)

Ajining Diri

Paseduluran yang dibangun di Maiyah agaknya bukanlah sebuah kata-kata belaka. Buktinya malam minggu 3 September 2016, serombongan dulur Maiyah Kidung Syafaat benar-benar menegaskannya dengan bersilaturahim pada acara rutinan Maneges Qudroh putaran kali ini.

Bukan perkara mudah, sebab mereka datang berombongan tak hanya bermaksud mengikuti diskusi kali ini. Melainkan untuk turut berkontribusi menyumbangkan karya musik juga sholawatan melalui media musikalitas mereka. Semuanya diniati bersama untuk berkorban harta jiwa dan waktu dalam upaya cinta dan mengharap ridhlo kepada Allah, Rasulullah dan sesama mahkluk-Nya.

mqan

Sebagai moderator, Mas Sigit menggugah kesadaran dulur-dulur maiyah untuk mencari terlebih dahulu apa yang harus disepakati untuk dikedepankan pada diskusi Maneges Qudroh malam ini. Mas Sigit mencoba menyitir teori dialog dari Cak Nun. Dimana dialog merupakan kebebasan individu bertemu dengan kebebasan individu yang lain di saat  masing-masing individu menjalankan kebebasannya. “Dalam diskusi harus ada pernyataan dan pertanyaan”, tambah Mas Sigit mengajak hadirin untuk aktif dalam diskusi.

Gayung bersambut, Pak Dadik memberi pernyataan tentang Kewarganegaraan dunia dan akherat yang melandasi tema malam ini. Yaitu bahwa kita sebagai manusia hendaknya bisa memiliki esensi sebagai warga negara (mahkluk penghuni-red) yang baik, baik dunia maupun akherat. Sebagaimana Rasulullah yang telah memberikan contoh bagaimana menjadi ‘warga negara’ dunia sekaligus akherat dengan baik.

Mas Hariyanto turut mengawali diskusi dengan mengingatkan kembali makna dan tujuan pengajian yang selama ini kita lakukan. Apakah sebagaimana umumnya dimana pengajian yang berawal dari kata kaji. Kajian. Atau berangkat dari kata ‘aji’. Yang mana setelah pengajian ini semua yang hadir dalam forum memperoleh satu tingkatan aji. Bisa satu tingkatan bertambahnya pengetahuan. Bertambahnya energi hidup, atau peningkatan apapun yang sifatnya individu. sifatnya anfus.

“Selama ini orang selalu membuat definisi perubahan sosial. Semua bicara ‘kita harus melakukan perubahan kondisi Indonesia saat ini. Kita harus melakukan perubahan sosial. Kita rombak tatanan-tatanan saat ini’. Seakan-akan itu semua wajib dilakukan. Tapi yang dirubah apanya. Mulai dari mana dulu? Teori yang bagaimana yang harus digunakan?” Mas Hariyanto kembali menegaskan.

“Dari sana kemudian banyak perubahan perubahan dilakukan oleh sekelompok tertentu terhadap suatu kelompok masyarakat yang lain. Lembaga yang kuat melakukan program-program kerja terhadap suatu masyarakat untuk melakukan pemberdayaan. Itu teori-teori  yang ada saat ini. Sehingga banyak perubahan-perubahan yang dimulai dari sesuatu yang abstrak dan tidak riil wujudnya.”

Mengutip firman Allah Innalaha la yughayyiru ma bi qoumin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim, Mas Hariyanto menjabarkan, “menariknya Allah mengawali dengan kata Qoumin (kaum). Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum. Allah tidak akan merubah Indonesia, Allah tidak akan merubah Magelang. Syaratnya berikutnya Allah tidak menyebut Qoum lagi melainkan anfus. Sampai dengan masing-masing diri, masing-masing warga, anggota, atau individu dalam suatu kaum melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri.”

Selanjutnya Mas Hariyanto menekankan, “Maka mau bicara revolusi, reformasi seperti apapun, tidak akan merubah apapun kalau tidak ada orientasi bahwa perubahan terjadi dimulai dengan perubahan terhadap anfus, terhadap diri sendiri. Dan yang kita lakukan sekarang ini semata-mata untuk itu. Bukan untuk merubah Indonesia atau Magelang. Tapi merubah awak. Meningkatkan ajining diri. Sehingga kita ridhlo terhadap kahanan. Ridhlo kepada Allah.”

Pak Ilyas dari Salatiga yang turut hadir menyambung terkait perubahan yang disampaikan Mas Hariyanto. “Hidup sekarang ini kan dikepung semua masalah-masalah sosial. Maka jika tidak siap untuk perubahan-perubahan terhadap diri sendiri yo angel. Sehingga untuk melakukan perubahan diri sendiri di tengah kepungan-kepungan masalah sosial saat ini dibutuhkan perkumpulan-perkumpulan semacam ini. Makanya perkumpulan semacam ini tidak populer kan?”

“Jadi coba untuk masing-masing belajar memperbaiki diri kita sendiri. Meskipun dalam proses belajar itu jujur kita sekarang ini dikepung sekian banyak masalah. Akan tetapi dengan kepungan masalah itu kalau kita bisa belajar benar-benar, maka kita bisa menjadi paling kuat daripada rakyat manapun.” Imbuh Pak Ilyas.

Sementara dari Mas Helmy memberi sambungan dengan berangkat dari kata aji di awal. Sehubungan dengan tema kewarganegaraan, secara umum dimana mana-mana konsep warga negara tentu yang dimaksudkan adalah warga negara yang baik. Perkara baik yang bagaimana itu lain masalah. Bisa baik sebagimana yang dikehendaki oleh negara. Bisa baik menurut nilai-nilai yang disepakati oleh para filsuf. Atau baik menurut apapun.

Mas Helmy kemudian berpendapat, “Secara umum bisa dikatakan untuk menjadi warga negara yang baik itu tidak akan tercapai kalau kita tidak punnya aji. Sebagaimana orang kalau sudah punya kesadaran akhlak, tentu Insya Allah secara hukum baik. Meskipun tidak banyak hafal pasal-pasal hukumnya. Pararel dengan yang disampaikan mas Hariyanto, bahwa apabila kita mulai dengan membangun aji maka sudah tentu akan menjadi warga negara yang baik. Tinggal bagaimana mencari terapannya. Entah itu perilaku di jalanan. Ketika berurusan dengan birokrasi dan sebagainya.”

“Salah satu tanda warga negara yang baik adalah dia menjalankan fungsinya sebagai warga negara. Mereka punya kemampuan untuk mengorganisir diri, berkelompok, melingkar dan berbicara hal-hal yang berkaitan dengan negara. Baik itu kebijakan publik. Polesei-polesei pemerintahan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Dan cara membahasnya pun dilakukan dengan baik. Tidak metoto-metoto. Tidak penuh kutukan-kutukan.” Papar Mas Helmy melengkapi narasumber yang lain.

Mas Helmy menggarisbawahi lagi bahwa ketika kita membahas konsep Warga Negara, maka kita harus tau bagaimana refleksi menjadi warga negara itu terhadap diri sendiri. “Sebagaimana yang kita lakukan dalam acara semacam ini, ini telah membuktikan bahwa sebagai warga negara yang baik kita sudah turut andil menjalankan fungsi warga negara itu. Dan inilah yang disebut ruang publik.” pungkasnya.

Selanjutnya Mas Sigit mempersilakan dulur-dulur Kidung Syafaat mempertunjukkan kreatifitas mereka. Satu rangkaian sholawatan mereka bawakan dengan apik. Muhammadun basyarun lakal basyari mengingatkan kembali kepada jamaah semua bahwa Muhammad itu manusia tetapi bukan sembarang manusia. Dialah permata di antara bebatuan.

bersambung….

Tulisan Terkait