Jika ada ibu-ibu diantara 1 atau 2 perempuan yang selalu setia menemani setiap acara sampai selesai lewat tengah malam bahkan pagi. Beliau adalah Ibu Siti Nurchamidah atau lebih sering disapa Bu Nur. Atau karena kedekatan kami dengan beliau, anak-anaknya justru malah sering marabi Nissa Sabyan karena keceriaannya terutama ketika sesi foto-foto.

Sementara itu, di setiap lingkaran-lingkaran yang diadakan oleh Maneges Qudroh, hampir sudah dapat dipastikan salah satu di antara mereka ada Ibu Nur. Dengan sedikit catatan tentu dengan suaminya, yakni Pak Dadik, seorang sastrawan yang sedang beralih hobi menjadi seorang youtuber dan akan sangat memungkinkan untuk berbicara khusus tentang beliau di lain kesempatan. Perjalanan Bu Nur ikut maiyah bukan main, belasan tahun bermaiyah dari wilayah Barat sampai ke wilayah Timur sudah menjadi perjalanan meencari ilmu yang tidak asing bagi Beliau.

Dalam banyak perjalanannya tersebut, Bu Nur pernah sekali bercerita sangat ingin sekali ke BangBang Wetan, Surabaya. Namun, karena segala keterbatasan keadaan yang menjadi halangan, Bu Nur akhirnya sedikit mengurungkan niat untuk bisa bermaiyah di Bangbang Wetan. Akan tetapi, karena keinginannya yang kuat serta tidak ragu akan konsep “min haitsu la yahtasib”, beliau akhirnya diperjalankan ke Surabaya.

Tidak hanya tentang maiyah, yang terakhir beliau sempat bercerita tentang hobinya memelihara bunga di rumah. Pada suatu waktu, ketika Bu Nur bertamu ke salah satu teman suaminya, beliau melihat bungan yang begitu memikat hatinya. Tak mungkin beliau meminta kepada si Empunya bunga tadi. Usaha mencari bunga tersebut di setiap toko penjual bunga pun tak kunjung mendapat hasil. Hingga pada akhirnya, ada seseorang yang tak dikenal mengirimkan bunga yang diinginkannya tersebut ke rumah. Tentu, begitu gembiranya Bu Nur setelah mendapatkan keinginannya, meski penasaran dengan siapa yang mengirimkan bunga tersebut.

Bisa dibilang, Bu Nur ini merupakan salah seorang yang menjadi sosok dibalik terbentuknya Simpul Maiyah Maneges Qudroh ini bersama rekan-rekan yang lain. Makanya tidak salah pula jika tersemat kata “ibunya MQ” pada beliau. Meski usia nampak tak lagi muda, namun semangat ataupun jiwa Ibu Nur ini tak menunjukkan kerentaannya dan selalu konsisten untuk membersamai perjalanan Maneges Qudroh.

Tak mudah dengan usia yang sudah tidak lagi muda masih memiliki semangat seperti para anak muda untuk terus dapat duduk melingkar bersama. Terlebih dengan ilmu yang tentu sudah banyak dimiliki, akan tetapi masih menjaga sikap kerendah-hatian untuk terus ikut belajar bersama tanpa pernah ada rasa menggurui, hanya hadir dan mendengarkan. Ya, seperti seperti seorang ibu yang sedang terus mengawasi anak-anaknya tumbuh bersama. Matursuwun, Ibu!