Kesadaran Ber-Evolusi dalam Muamalah

Memasuki musim hujan yang semakin intim, terkadang menjadi kendala tersendiri bagi manusia sebagian. Jika mengingat hujan, saya hanya teringat pesan Simbah, bahwa ketika hujan, masih banyak celah udaranya daripada air yang berkucuran. Dan dari sekian banyak tetes-tetes hujan yang mengenai tubuh kita, yang sudah pasti membawa rahmat dan berkah bagi kehidupan, terdapat salah satu tetesannya yang mengandung keistimewaannya tersendiri. Hujan bukan suatu halangan atau sesuatu yang mesti dihindari, melainkan hujan juga perlu dibersamai.

Tanah masih setengah basah di halaman Rumah Mba Yani, tempat akan diadakannya majelis ilmu rutinan ke-106 Maneges Qudroh di Dusun Sirahan ini. Dengan hiasan jejak kaki para saudara yang telah lebih dulu beranjak, nampak masih belum banyak yang hadir di dalam. Sepertinya menunggu sudah menjadi sebuah rindu sekaligus jemu bak jam karet yang semakin pegas.

Seolah tersulut rasa resah menunggu kawan-kawan yang tak kunjung datang, “Habis ini dibuka saja yaa…” kata Mas Dhian segera berinisiatif untuk lekas memulai acara. Sembari menghabiskan sisa rokok yang masih menyala, silau kuning putih susul-menyusul terlihat semakin mendekat, menjadikan teh dan kopi yang sudah setengah hangat seolah kembali hangat.

Mas Fajar mengawali acara dengan mukadimah serta mewakili jamaah yang hadir untuk berterimakasih kepada Mba Yani dan sekeluarga yang telah mensedekahkan tempat dan pasugatan untuk melingkar dalam rutinan kali ini. Selanjutnya Mas Dhian menyambung dengan sedikit melambari dengan cerita awal mula perjalanan simpul Maneges Qudroh hingga menginjak usia yang ke-9 sekarang ini. Tentu segala suasana telah dialami selama perjalanan, pasang surut jamaah yang hadir sudah menjadi hal yang sudah dapat dititeni. Yang pasti, harapannya lingkaran seperti ini tetap terjaga keistiqomahannya sebagai refleksi atas cinta kepada Mbah Nun, khususnya di wilayah Magelang.

Oleh karena itu, majelis ilmu dan paseduluran ini salah satu visinya adalah sebagai medan juang untuk merajut titik-titik yang masih belum tersambung, mempertemukan nilai-nilai yang masih berdiri sendiri, serta memakrifati pandangan-pandangan yang masih banyak mengandung kegelapan.

Acara pun dilanjutkan dengan pembacaan wirid munajat maiyah bersama-sama, sebagai wujud sapaan kami kepada penduduk langit atupun segala makhluk semesta raya. Kemudian, dari tema yang telah diposterkan, yakni tema “Muamalah Zaman”, Mas Dhian pertama-tama memberikan kemerdekaan kepada teman-teman yang hadir untuk menanggapi sembari menggulirkan mikrofonnya. Namun memegang mic itu sendiri sepertinya masih nampak sebagai sebuah hukuman daripada kekuasaan.

Mas A’am yang pertama kali menerima ekstafet pun memberikan kesempatannya kepada Mas Hammam, salah satu temannya yang diajaknya dan kebetulan baru pertama kali hadir ke acara rutinan. Setelah sedikit perkenalan, Mas Hammam sedikit menceritakan pengalamannya bertemu maiyah lewat youtube, yaitu ketika Mbah Nun mengisahkan salah satu kisah Nabi Musa ketika berobat. Lalu beralih ke Mas Saeful yang bercerita ,meski baru saja lulus dari sekolah menengah kejuruan bidang multimedia, beberapa usaha pernah digelutinya, dari usaha ternak lele hingga usaha produksi tahu, yang masih dirasa gagal. Dari pengalaman itu Mas Saeful menjadi terusik dan mulai mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu muncul di benaknya, “apa sih bakatku?”

Pak Dadik kemudian ikut memberikan respon mengenai bakat, yang dalam agama islam sering dikaitkan dengan fadhillah atau keutamaan. Tentu antara bakat dan fadhillah ini tidak sama maknanya. Hanya saja menurut Pak Dadik, seorang sastrawan sekaligus ketua Lesbumi di derahnya ini mengungkapkan bahwasanya bakat itu terus diasah dan berkembang. Sejalan dengan kondisi zaman yang terus mengembangkan kompleksitas permasalahannya. “Apa menariknya jika kita mengetahui bakat kita? Jika hal itu pada akhirnya hanya akan menjadikan diri stagnant.”

Beda lagi dengan pendapat yang diuraikan oleh Mas Arif Sulaiman, bahwa bakat hanya andil 1%, selebihnya merupakan laku tirakat dan tapa brata dengan keuletan terus-menerus untuk berusaha untuk ‘bisa’. Kerana menurut Mas Arif, keadaan sekarang ini tak jauh berbeda dengan apa yang di sekitar masyarakatnya ketika diberi informasi peluang usaha, yang cenderung memilih skema bukti – percaya – bertanya cara – baru memulai. Bukti kesuksesan lebih diutamakan daripada proses perjuangan membangun atau memulainya.

Baru separuh lahap, siomay disantap nikmat oleh teman-teman, Pak Sholeh menyahut menambahkan tentang golongan manusia menurut Imam Al-Ghazali yakni permutasian cara mengerti dan kesadaran diri. Karena hal ini sangat berkaitan erat untuk mengetahui posisi pemahaman diri tentang suatu ilmu dan memudahkan pengaplikasiannya. Sehingga, harapannya kita tidak kebingungan menappakkan langkah kaki kedepan.

Sangat disayangkan ketika sebuah potensi diri dicari dengan mengedepankan pengetahuan dan konsep, kemudian meyakini bahwa akan menemukannya jika tidak dibarengi dengan sikap aplikatif, Mas Adi Suryo mengingatkan kita seyogyanya untuk tidak ragu-ragu untuk segera memulai berspekulasi untuk mencobanya.

Qahirun ‘Ala Ibadihi

Gus Aushof yang kebetulan hadir malam itu tergelitik oleh tema dengan mencoba melontarkan asumsi cara pandang kepada jamaah, “zaman menciptakan muamalah, atau sebaliknya?” Jika dari mukadimah disampaikan bahwa dalam bermuamalah yang menjadi inti pembelajaran bukan mengenai baik dan tidak baik karena hal tersebut hanyalah ahwal dan bisa berubah menurut waktu dan tempat. Lantas sanggupkan zaman menciptakan muamalah? Yang ada zaman seperti ini adalah hasil dan manifestasi dari cara mengaplikasikan ibadah muamalah itu sendiri.

Ironisnya, di lingkungan kita yang menjadi tolak ukur seseorang beragama dinilai dengan ibadah mahdhoh yang dilakukan. Bagaimana sembahyangnya, puasanya, cara berpakaiannya? Tentu hal tersebut tidak salah jika menilai dari apa yang tampak. Tapi, Rasulullah menyampaikan ajaran bukan hanya tentang agama, akan tetapi lebih cenderung lebih banyak mengajarkan akhlak yang baik. Dan inilah tantangan bagi generasi pembaharu, bagaimana dirinya sanggup menjadi ruang bagi ragam budaya dan aliran yang sangat kompleks.

Kemudian merespon tentang Pilihan 3 Daur dari Mbah Nun, dengan sudut pandang bahwa dari tiga pilihan tersebut tidak harus dipilih salah satu, Gus Aushof mengilustrasikan bahwa Revolusi spiritual sebagai hilir, revolusi sosial sungainya, hingga sampai berhulu ke revolusi kultural.

Kita butuh kesadaran akan suatu kekuatan yang menggerakkan dengan menempatkan revolusi spiritual sebgai hilir. Bahkan, yang dibutuhkan sebenarnya apakah hanya sekedar revolusi. Ataukah kita membutuhkan evolusi?  Tentu saja semua akan kembali kepada pribadi masing-masing sesuai dengan jalan perjuangannya. Sekali tidak ada benar-salah, atau baik-tidak baik jika segala apa yang kita lihat sebenar-benarnya telah menjadi kehendakNya, yang telah menyatu dalam aliran sungai kehidupan. Sesuai dengan pelaku yang masya’Allah dengan kadar ikhtiar maiyah, yang mencoba menapaki Allah Qahirun ‘alaa ibadihi.

Tak terasa acara sudah berlarut begitu lama, hingga mesti segera dipungkasi. Mas Munir pun mengajak jamaah untuk bersama-sama melantunkan shalawat ‘Indal Qiyam sebagai penutup kemesraan malam hari ini.

Magelang, 8 Desember 2019