Di dalam lingkaran perhatian antar sedulur Maiyah yang terikat dengan Maiyah pada malam minggu pertama ini secara kebetulan berbarengan dengan 2 acara lainnya. Selain rutinan MQ, ada acara di Gubug Kebon atau tepatnya di daerah Dawung dan Pondok tempat Gus Aushof di daerah Salam. Tentu saja masing-masing memiliki kemerdekaannya sendiri untuk memilih acara mana yang akan dihadirinya. Toh, kalau hanya sambung berkah paseduluran, masih ada acara Selasan ataupun M3 di setiap minggunya yang masing-masing acara memiliki konsep khasnya tersendiri.

Dan pada kesempatan kali ini, para sedulur yang berkesempatan hadir dalam rutinan bisa didefinisikan sebagai salah satu wujud lingkar pengaruh. Yaitu pengaruh atas dasar cinta yang sama sehingga diperjalankan dan diperjumpakan antara satu dan yang lainnya. Untuk saling mengenal atau bertukar sapa apabila sudah lama tak berjumpa. Terlebih dalam situasi pandemi yang banyak mengajarkan kita semua untuk lebih menahan diri, terutama atas keinginan-keinginan untuk saling bertemu.

Rutinan yang sudah diperjalankan hingga mencapai putaran ke-119 di Panti Cahaya Ummat ini terlaksana bukan atas keinginan individu-individu tertentu, melainkan tak lebih dari kebutuhan untuk terus mencari ilmu di setiap ruang kebersamaan. Bahkan, ruang sinau bareng ini tak mungkin diijinkan terlaksana apabila Sang Maha Bijaksana enggan untuk berbagi pengetahuan-Nya, yang bisa saja dititipkan melalui orang-orang tertentu yang hadir melingkar ruang kebersamaan ini.

Malam hari ini setidaknya kita dipertemukan dengan para pejuang ilmu. Para pejuang yang dirinya membutuhkan kebersamaan untuk dapat saling mengngatkan dan saling memberi nasihat untuk menapaki keindahan. Dan keindahan itu sangat identik dengan cinta yang hadir. Hanya saja, ilmu yang dirasa sudah banyak didapat tidak membuat pandangan semakin luas untuk menangkap rahmat yang tersebar, namun justru mempersempitnya. Kita tidak sadar telah menciptakan dunia atas dasar prasangka, tak terkecuali tehadap keindahan dan cinta. Prasangka-prasangka yang akhirnya menjadi ide untuk diusung menjadi tema rutinan ke-119, yakni “Sawang Sinawang”.

“Bukan Fastabiqul Haq, melainkan Fastabiqul Khoirat.”

Acara diawali dengan pembacaan Kitab Al-Qur’an oleh Mas Dhian sekitar pukul 21.00, yang kemudian dilanjutkan dengan beberapa wirid dan sholawat.diiringi oleh beberapa pilot/pemain rebana. Suasana maiyahan atau sinau bareng pun muai terbangun. Suasana sinau bareng di tempat umum yang selama masa pandemi ini tidak bisa didapati, setidaknya sedikit terwakilkan dengan alunan nada atau musik yang identik dengan maiyah, yang mampu sedikit mengurangi kerinduan yang terpendam sebelum datang ke rutinan ini.

Mas Taufan sebagai pembawa acara membuka dengan memberikan sapaan-sapaan atas dulur-dulur yang telah hadir. Kemudian dilanjutkan memberi sedikit penjelasan terkait dengan “Sawang Sinawang” yang dijadikan tema pembelajaran malam hari ini. Sebelum menjelaskan, Mas Taufan mencoba untuk menegaskan, “Apakah ada tema-tema yang selama ini ditampilkan dalam rutinan ini, belum atau tidak pernah disampaikan oleh Mbah Nun? Terus apa tujuannya kita berkumpul disini kalau hanya remidi atau mengulang?”

Mas Adi sebagai moderator menambahi dengan banyak menyampaikan contoh-contoh tentang sawang-sinawang. Bahkan beliau juga menceritakan bagaimana kalimat-kalimat bijaksana ini sering didapati di jalan raya, utamanya di bagian belakang bak truk. Mas Adi mencoba masuk melalui pertanyaan yang tertulis di akhir mukadimah “apakah kita bisa mengendalikan prasangka yang terlintas begitu saja? Kalaupun segala bentuk prasangka itu sebatas ‘sawang sinawang’, apakah itu bisa dijadikan parameter kebenaran?”

Sebagai orang jawa, kita memiliki istilah ngelmu iku kelakone kanthi laku. Dalam mencari ilmu kita sering merasa telah mengetahui, namun rasa mengetahui akan ilmu itu tidak akan melekat sebelum menjadi sebuah laku atau aktualisasi diri. Ilmu itu mungkin saja sama, namun rasa mengetahui dari tiap-tiap individu itu memiliki cita rasa yang berbeda. Rasa juga sulit didefinisikan menjadi satu pemahaman. Akan tetapi, yang terjadi rasa itu sering dipaksakan sama. Dari rasa yang telah dimiliki pasti akan menghasilkan prasangka ketika menapaki waktu menunggu diterima atau tidak, terlebih karena telah dibekali oleh ilmu yang dirasa dudah didapati. Hal ini sangat umum terjadi pada manusia karena sejatinya kita adalah makhluk sosial.

Mengingat apa yang telah diberikan oleh Mbah Nun, bahwasanya beliau pernah berpesan bahwa hidup itu hanya urusan haq dan dhon. Sedangkan kebenaran tiap manusia itu berbeda-beda. Orang tidak boleh berdebat dalam kebenaran, kecuali dalam konteks akademis dan keilmuan. tapi tidak boleh dalam budaya silaturahmi. Haq itu bukan milik manusia. Allah Swt. tidak pernah menyuruh kita untuk mempertandingkan kebenaran, akan tetapi Allah Swt. menyuruh kita untuk berlomba-lomba menciptakan kebaikan.

Dan pesan dari Mbah Nun yang disampaikan dalam majelis ini, setidaknya menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Mas Sigit sebelumnya, yakni apakah kebenaran atau prasangka itu bisa tidak tercipta dan ditujukan kepada diri sendiri? Kalau dalam maiyahan sering kita dapati “bukan fastabiqul haq, melainkan fastabiqul khoirat.”

Merubah Rahmat Menjadi Berkah

Di sela-sela acara sinau bareng, Mas Sigit sebagai pentolan group musik Jodhokemil mengisi hiburan rutinan ke-119 dengan berbagai lagu yang sangat identik dirinya, salah satunya adalah lagu yang berjudul Daun-daun Berguguran. Bahkan khusus edisi ini, Mas Sigit pun menciptakan sebuah lagu dengan judul “Wang SInawang”. Tentu saja kalau bukan ahlinya, akan sangat sulit untuk mencoba menghidupkan suasana kembali dari fokus menjadi sebuah kegembiraan bersama.

Karena banyak dulur-dulur yang sesekali hadir dalam acara ini, Mas Dhian kemudian mencoba untuk memperkenalkan dan menyambungkan tali silaturrahmi dari banyak jamaah yang datang. Mencoba untuk merajut paseduluran sesuai dengan tagline Maneges Qudroh sendiri sebagai sebuah Majelis Ilmu dan paseduluran. Ada mas To’ing mewakili teman-temannya yang mana mereka masih pelajar SMA, dan rasa kangen menjadi niat keberangkatan hingga akhirnya dapat berkumpul dalam rutinan MQ. Ada Mba Sarifah, seorang ibu asli Bangka Belitung yang sekarang tinggal di Magelang, yang juga merasa nyaman dalam forum silaturrahmi ini. Lalu ada Lek Trip bersama teman-teman Gerbang, Mas A’an dan Mas Muji. Kemudian hadir juga Mas Yadi dengan teman-teman Samusa.

Semua saling memberikan respon, tanggapan, bahkan ilmu yang dibagikan dalam suasana pembelajaran kali ini. Dalam maiyah kita sering mendapat pelajaran, bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, dalam majelis seperti ini sangat dibutuhkan sikap kerendah-hatian untuk bersedia dan belajar untuk mendengarkan siapapun yang sedang berbicara. Karena rahmat Tuhan bisa dititipkan melalui kata-kata yang sedang disampaikan oleh orang yang kita anggap belum memiliki kapastias ilmu dengan diri sendiri.

Seperti apa yang disampaikan oleh Pak Yadi bahwa maiyah adalah medan juang, bukan debat apalagi eksistensi. Seharusnya kita memiliki inisiatif untuk dapat mengambil sekecil-kecilnya manfaat dari apa saja yang ditemui. Perjumpaan merupakan salah satu rahmat, dan syukur kita bisa berlatih untuk dapat mengubah rahmat menjadi berkah. Karena berkah pun tidak selalu manjadi milik orang yang memimpin doa, bisa jadi keberkahan justru datang melalui salah satu jamaah yang ikut meng’amin’i doa-doa yang dilantunkan bersama-sama.

Kepastian Allah Swt. itu pasti, sedangkan kepastian manusia adalah ketidakpastian. Semua itu sawang-sinawang dan kebenaran hanya milik Allah Swt. Sekitar pukul 00.30 acara dipungkasi dengan “Indal Qiyam” dan hening mendalami lagu “Shohibu Baiti” yang diputarkan dalam suasana temaram. Sesekali suara rintihan dan sesenggukan itu terdengar tak bisa menahan peluh yang bercucuran. Lantas terbesit suatu harapan, bahwa semoga rutinan awal tahun ini menjadi pondasi yang baik untuk mengarungi tahun 2021 dengan penuh keselamatan.

Panti Cahaya Ummat, 3 Januari 2021