Maneges itu artinya mewujud menjadi nyata. Yang sebelumnya belum ada menjadi ada, yang sebelumnya belum dilakukan kemudian dilakukan. Itulah Maneges. Sunnatullahnya kambing adalah makan rumput, kemudian bertambah berat badannya, sampai besar. Ketika kambing berusia 3 bulan kemudian dijual di pasar, itu adalah qudroh.

Kiranya teman-teman di Maneges Qudroh perlu mengingat kembali pesan-pesan dari Mbah Nun pada milad Maneges Qudroh yang ke-7 tahun 2018 lalu. Malam itu, di tengah guyuran hujan, Mbah Nun dan Mas Sabrang turut mangayubagya pada ulang tahun Maneges Qudroh. Momen yang sangat membahagiakan tentunya bagi teman-teman Maneges Qudroh saat itu.

Diantara pesan dari Mbah Nun saat itu adalah bahwa kita perlu menemukan pijakan yang tepat kenapa saat ini ada Maiyah dan kita merasa betah di Maiyah? Padahal sudah ada Islam, di dalam Islam sendiri kita mengenal ada NU, Muhammadiyah, Persis, LDII, MTA, Sunni, Syi’ah, FPI, dan lain sebagainya. Mengapa harus ada Maiyah? Kita harus menemukan jawaban dari pertanyaan dari Mbah Nun ini.

Kemudian, siapa sebenarnya yang mendirikan Maiyah? Kemudian siapa yang memiliki Maiyah? Andaikan Maiyah harus ada pemimpinnya, siapa kira-kira yang layak menjadi pemimpin di Maiyah? Atau jika kita berkaca pada NU dan Muhammadiyah, siapa pengurus-pengurus Maiyah, mulai dari Pusat sampai daerah? Apalagi saat ini Simpul Maiyah sudah berjumlah lebihd ari 60 titik di berbagai daerah. Ini belum termasuk lingkar-lingkar Maiyah yang juga secara rutin berkumpul di beberapa tempat.

Bisakah kita semua membayangkan, seandainya Maiyah mengikuti arus mainstream, menjadi Ormas atau setidaknya Partai Politik. Kita sudah melihat bagaimana kekuatan massa Maiyah hari ini, bukankah itu sudah mencukupi untuk menjadikan Maiyah ini sebagai sebuah entitas padatan yang baru di Indonesia?

Andaikan demikian, maka Koordinator Simpul Maiyah adalah para Pengurus Pusat Maiyah. Teman-teman akan melihat Mas Sabrang sebagai Pimpinan umumnya, kemudian ada saya, Mas Rizky, Mas Hari dan Mas Khumaidi yang duduk di jajaran Pengurus Pusat Maiyah. Kemudian teman-teman di Simpul Maiyah juga menjadi pengurus daerah, betapa mainstream­-nya Maiyah. Alhamdulillah, kita tidak melihat itu semua dalam dunia nyata.

Kalau skala pertanyaan Mbah Nun diperkecil lagi dalam lingkup Maiyah, maka kira-kira akan menjadi seperti ini; Untuk apa ada Maneges Qudroh? Kan sudah ada Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta dan Bangbang Wetan? Dari Magelang ke Yogyakarta juga jaraknya tidak terlalu jauh, setiap tanggal 17 bisa secara langsung Maiyahan di Mocopat Syafaat. Jadi sebenarnya untuk apa bikin Maneges Qudroh? Dan pertanyaan ini juga bisa berlaku kepada teman-teman Simpul Maiyah yang lain yang baru lahir.

Jawaban yang tepat tentu saja hanya bisa dijawab oleh teman-teman Maneges Qudroh sendiri. Mampu bertahan hingga 9 tahun bukan perkara mudah. Dan setiap Simpul Maiyah, selain mempunyai keunikan dan otentisitasnya masing-masing, tantangan yang dihadapi juga berbeda. Adalah sebuah anomali jika kita melihat situasi mainstream hari ini. Kok ada anak-anak muda yang mau merawat forum seperti Maneges Qudroh ini?

Saya sendiri saat ini aktif di Kenduri Cinta, di Jakarta. Bukan perkara mudah mengelola Simpul Maiyah di Ibukota. Jakarta adalah kota metropolitan dengan segala dinamikanya yang sangat kompleks. Para penggiatnya adalah para pekerja yang mayoritas juga perantau dari daerah. Jamaah yang datang juga lebih beragam lagi. Mengelola forum diskusi di Jakarta, tidak mudah. Sangat berbeda situasinya dengan yang dirasakan di Padhangmbulan atau Mocopat Syafaat, misalnya.

Bahkan, banyak mereka yang datang ke Kenduri Cinta tetapi tidak mengenal apa itu Maiyah? Entah kita akan memaknainya sebagai hal yang positif atau negatif. Tetapi itulah kenyataannya. Banyak dari mereka yang datang di Jumat kedua setiap bulannya di Taman Ismail Marzuki tidak mengenal luasan peta Maiyah. Bisa jadi, mereka juga tidak mengenal Maneges Qudroh.

Apakah mengelola Simpul Maiyah yang lebih kecil dari Kenduri Cinta itu lebih mudah? Belum tentu. Saya sendiri juga belum tentu mampu jika harus mengelola Simpul Maiyah seperti Maneges Qudroh. Dan pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa karena kita ada di satu tempat, maka kita akan memiliki tanggung jawab di tempat yang kita diami. Bisa jadi, kenapa teman-teman di Muntilan memutuskan bersepakat untuk melahirkan Maneges Qudroh dan merawatnya adalah karena keterpanggilan hati mereka bahwa di Muntilan perlu entitas lain yang harus mewarnai selain entitas yang sudah ada.

Di Reboan Kenduri Cinta, sering saya menyampaikan kepada teman-teman penggiat KC, bahwa masing-masing individu mengikatkan diri di Maiyah. Ya, mengikatkan diri, kita tidak diikat oleh siapapun. Kita tidak diikat oleh Mbah Nun, kita tidak diikat oleh Koordinator Simpul, kita sangat merdeka di Maiyah. Tetapi, kita yang mengikatkan diri di Maiyah. Seperti apa ikatan kita terhadap Maiyah, itu menjadi tanggung jawab masing-masing.

Ada yang mengikatkan diri dengan benang bola, ada yang mengikatkan diri dengan senar pancing, ada juga yang mengikatkan diri dengan tali dadung yang kuat. Semua tidak bisa diseragamkan, semua berdaulat, semua berhak menentukan sendiri kekuatan tali untuk mengikat. Tali yang kita ikatkan di Maiyah itu yang kemudian menentukan seberapa kuat daya tahan kita untuk bertahan di Maiyah. Para penggiat Maneges Qudroh pasti mengalami, ada mereka yang dulu aktif, sekarang sudah menghilang entah kemana. Itulah dinamikanya. Dan sekali lagi, yang mempengaruhi daya tahan kita semua untuk tetap berada di Maiyah adalah tentang seberapa kuat tali yang kita ikatkan. Dan jangan lupa, tidak ada satupun yang melarang kita untuk pergi dari Maiyah. Kita semua merdeka di Maiyah.

9 tahun Maneges Qudroh usianya hari ini. Apakah akan berlanjut menginjak ke angka 10, 11, 12 dan seterusnya? Itu semua bergantung pada bagaimana teman-teman penggiat Maneges Qudroh. Jangan tanyakan lagi tentang istiqomah. Sangat tidak etis mempertanyakan tentang istiqomah kepada sebuah forum yang sudah berusia 9 tahun. Bukankah perjalanan 9 tahun ini adalah bukti dari keistiqomahan itu sendiri?

Selamat ulang tahun, Maneges Qudroh. Salam hormat kami dari Jakarta. Tabik!