‘Kembali’ ke Jombang

Tidak ada ungkapan yang paling indah selain rasa syukur atas nikmat persaudaraan yang terjalin tanpa syarat. Sebagaimana Ihtifal Maiyah yang akan segera dihelat 27 Mei 2016 ini. Term Ihtifal yang bermakna saling berkumpul kali ini bukanlah sekedar ajang reuni ataupun saling bertatap muka. Apalagi perayaan yang sarat dengan kemeriahan. Melainkan momentum untuk perenungan juga rasa syukur atas apa yang didapati Jamaah Maiyah hingga saat ini. Wa bil khusus Maneges Qudroh.

Senada dengan pencarian Maneges Qudroh akan sangkan paraning dumadi, momentum Ihtifal Maiyah ini agaknya menjadi kesempatan berharga bagi Maneges Qudroh untuk menemukan cikal bakalnya. Betapa tidak, sebab Maiyah tidak bisa lepas dari peran Simbah Guru Muhammad Ainun Nadjib. Dan itu artinya Maiyah tidak bisa lepas juga dari sejarah Beliau sendiri. Salah satunya adalah asal muasal kelahiran, masa kecil, juga keluarga Beliau di Menturo, Sumobito, Jombang.

Sementara di lain hal, event Silaturahmi ini merupakan wujud kesungguh-sungguhan persaudaraan yang telah dibangun sesama Jamaah Maiyah selama ini. Atau lebih tepatnya persaudaraan kita semua sebagai mahkluk ciptaan Allah. Sehingga bukan hanya karena Allah, melainkan persaudaraan ini juga untuk Allah. Fi wa lillah.

Maka berangkat dari itu semua, rombongan Maneges Qudroh berupaya memperjalankan dirinya untuk sowan ke Jombang pada kesempatan emas ini. Dengan menempuh jarak ratusan kilometer, Kamis malam pukul 21.00 WIB rombongan Maneges Qudroh meluncur ke lokasi Ihtifal Maiyah. Dalam jumlah pasukan dua puluhan lebih, kami berangkat ‘kembali’ untuk menemukan sangkan paraning dumadi.

Simbah sering mengutip, “man arofa nafsahu faqod arofa robbahu”, (barangsiapa mengenal dirinya, maka sesungguhnya akan mengenal Tuhan-Nya). Oleh karenanya kedatangan Manages Qudroh ke Menturo adalah dalam upaya mengenali dirinya. Dengan kembali ke Jombang ini, Maneges Qudroh berharap menemukan titik awal nilai-nilai Maiyah keluar dari rahimnya. Sehingga Maneges Qudroh semakin mampu menyadari tanggung jawab yang harus dipikulnya ke depan. Sehingga pada akhirnya dapat mengenal Tuhan sebagai pemilik segalanya.

Ada yang demikian spesial pada helatan Ihtifal Maiyah tahun ini. Dimana momentum silaturahmi ini bertepatan dengan hari kelahiran Simbah yang ke 63. Namun demikian perlu digaris bawahi bahwa acara ini bukanlah semata-mata sebagai perayaan atas ulang tahun Beliau. Seperti yang pernah disampaikan Kiai Tohar (Toto Raharjo) bahwa dalam maiyah tidak mengenal tradisi tersebut. Akan tetapi sebagai rasa syukur atas itu semua, salah satunya adalah dengan menggelar acara ini sebagai perenungan kita semua Jamaah Maiyah Nusantara. Bukan sebagai pelampiasan dengan perayaan yang meriah.

Tentu tidaklah mudah apabila pada kesempatan kali ini sebagai Jamaah Maiyah untuk memberikan persembahan kepada Beliau atas usianya yang sudah sepuh. Sebab sejatinya apapun yang hendak kita persembahkan tidak akan pernah dapat membalas jasa-jasanya atas lautan ilmu yang telah diberikannya. Beliau telah membuktikan ketulusanya untuk mendidik kita semua mulai dari menyuapi, mengupaskan buah, hingga memberikan pisaunya kepada kita agar kita dapat mandiri. Mandiri berfikir, mandiri bertindak, sehingga kelak kita benar-benar menemukan kedaulatan masing-masing. Tentu dalam wilayah baik, benar dan indah.

IMG-20160527-WA0031

Barangkali melalui momentum Ihtifal Maiyah ini, Maneges Qudroh sebagai simpul muda dari Magelang dapat terus berupaya untuk tahu diri. Meneguhkan kembali untuk siap berusaha keras meneruskan cita-cita Beliau sebagai bentuk terimakasih atas jerih payah Beliau yang telah menunjukkan beda mana cahaya mana kegelapan.

Sekitar pukul 8 pagi setelah sebelumnya rombongan Maneges Qudroh menyempatkan diri mampir ke Ponpes Tebuireng, akhirnya tiba di lokasi Ihtifal Maiyah. Dan sebagai ahklak yang baik sedulur-sedulur dari Magelang tak lupa membawa sedikit buah tangan berupa sayur-mayur dan buah- buahan. Harapan sedulur Maneges agar pada kesempatan kali ini dapat berbagi sekaligus mendapat keberkahan dari Allah.

Dan setibanya di kediaman Beliau, sedulur-sedulur Maneges Qudroh segera bertabarukan berdoa untuk ahli kubur di makam yang ada di area kediaman Simbah Muhammad Ainun Nadjib. Makam tersebut tidak lain adalah makam dari orang tua Mbah Nun
berikut kakek neneknya. Semoga Beliau sekeluarga selalu dalam Ridho Allah dan senantiasa diliputi keberkahan dunia akherat.

IMG-20160527-WA0027

Dalam rasa syukur kepada Allah kami siap mereguk cinta bersama sedulur-sedulur Maiyah Nusantara.

Jombang, 27 Mei 2016

 

Tulisan Terkait