Tak terasa waktu cepat berlalu dan telah tiba saatnya jadwal rutinan bulanan. Berbicara tentang waktu yang cepat berlalu, kita pasti sering mendengar gombalan sejoli yang sedang kasmaran bagaimana mereka gak peduli lagi terhadap waktu yang terus berdenting bahkan dunia yang terus berputar, karena terbuai dalam nuansa “dunia” serasa milik berdua.

Waktu yang serasa cepat berlalu karena terlalu menikmati perjalanan, bisa menjadi sebuah peringatan untuk lebih berhati-hati dan bermuhasabah diri. Apakah porsi cara menikmati keadaan itu sudah tepat? Atau, apakah sudah kita banyak melibatkan peran Tuhan? Atau jangan-jangan kita termasuk golongan orang-orang yang sedang dibombong?

Maneges Qudroh sendiri telah diberi nikmat untuk lebih didekatkan, baik secara waktu, jarak, kerinduan, keistiqomahan bahkan cinta satu dengan yang lainnya, melalui Selasan yang sering diadakan setiap minggunya. Jika yang dirasakan hanya semakin cepatnya waktu berlalu, jangan sampai hal tersebut membuat kita terbuai layaknya sejoli yang sedang kasmaran. Bukan “kepada-Nya”, tapi masih karena ada-Nya”.

Tema ringan tersebut akhirnya berhubungan dengan tetes “Percaya (kepada) Tuhan” oleh Syaikh Kamba yang diposting di hari yang sama. Ruang diskusi kecil tersebut menjadi salah satu obrolan ringan salah satu lingkaran sembari menunggu dimulainya acara rutinan Bulanan yang ke-115 di Omah Maneges. Ya, acara ini diselenggarakan tepat sehari setelah Hari Raya Idul Adha. Meskipun tensi berpotensi meninggi karena overload dengan daging kambing, sepertinya itu tidak terlalu mempengaruhi karena sudah terlatih dan banyak muthma’innah dengan tahu dan tempe.

Sebelum acara dibuka, bacaan ayat suci Al-Qur’an dilantunkan indah oleh Mas Yuli sebagai alas yang akan menampung sajian ilmu pembelajaran malam ini. Kurang lebih setelah 20 menit, Mas Taufiq sebagai pembaca acara lekas membuka acara sekaligus menyapa saudara-saudara yang telah hadir. Dan juga tak lupa untuk mengingatkan bahwasanya dalam masa pandemi ini, kita jangan pernah merasa mampu dan aman ketika berkumpul, namun alangkah baiknya kita merasa diperjumpakan dalam sebuah pertemuan yang tentu banyak mengingatkan tentang pencipta-Nya.

Mas Taufiq kemudian mempersilahkan Pak Adi sebagai moderator yang artinya memegang kemudi kendaraan sinau bareng malam ini. Dengan tema Kembang Jagat yang sedikit disampaikan sebelumnya oleh Mas Taufan, bahwa mampukah kita sebagai manusia yang tercipta lemah mampu memikul amanat yang Gunung, Lautan, bahkan Langit pun enggan untuk memikul amanat tersebut.

Berhubung ada tamu spesial yang datang menyempatkan diri jauh-jauh dari Eropa, Mba Nafisatul Wakhidah, maka Pak Adi mempersilahkan Mba Nafis terlebih dahulu untuk sedikit memberikan cerita ataupun pengalamannya. Mengingat  waktu beliau yang tak bisa membersamai sampai selesai karena keesokan paginya sudah harus berada di bandara.

Respon pertama yang disampaikan Mba Nafis adalah sangat luar biasa, terlebih tentang pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Maneges Qudroh sendiri dibalik layar tentang bagaimana bisa dalam kondisi demikian MQ masih bisa tetap berkumpul, meluangkan waktu untuk lungguh bareng, sinau bareng  sekalipun rumahnya jauh antara satu dengan yang lainnya. Selain bahagia, Mba Nafis mengungkapkan rasa syukurnya juga karena telah diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dalam rutinan MQ ke-115 ini.

Mba Nafis kemudian menceritakan banyak pengalamannya kepada sedulur-sedulur yang hadir. Bahkan, cerita dan pengalamannya sudah tertulis dalam beberapa artikel yang dimuat dalam caknun.com sebagai ibu informasi Maiyah. Pasti banyak sekali ilmu yang tersirat dari apa yang disampaikan oleh Mba Nafis.

Orang Tua Sebagai Pahlawan

Selingan musik akustik dari Jodhokemil memberikan warna tersendiri pada malam hari itu. Ketika sinau ada kungkungan situasi yang secara tidak langsung mengajak kita untuk memperhatikan pembicara, namun disaat alunan musik akustik dari Jodhokemil melantun, seolah pikiran seketika diajak untuk merasakan kebebasan dan menikmati proses relaksasi alam pikiran. Yang semakin menambah indah perjalanan kebersamaan saat itu.

Pak Adi mengatakan bahwa mulanya tema Kembang Jagat ini dipilih memang dalam rangka Agustusan yang identik dengan kepahlawanan. Kembang jagat ini sendiri  mengarah pada makna kepahlawanan, sekalipun pahlawan itu tidak hanya terbatas pada hal yang berkaitan dengan merebut kemerdekaan sebuah negara. Minimal, Pak Adi menegaskan setidaknya kita mampu menjadi pahlawan bagi keluarga.

Mba Nafis kemudian merespon sosok pahlawan tersebut dengan mengarahkan kepada orang tua. “Orang tua adalah pahlawan bagi kita semua.” sambungnya. Bagi, Mba Nafis sendiri yang sudah menjalani kehidupan di Eropa, dengan perbedaan culture dan kebiasaannya, Mba Nafis memaknai pemandangan yang kontras itu dengan rasa syukur karena telah lahir sebagai orang Indonesia. Yang menurutnya masih sangat menghargai orang tua, tidak hanya sekedar ngajeni tapi berada pada level diatasnya.

Kembang itu sejatinya tidak terlepas dari keindahan. Kembang akan menjadi indah saat dirinya mekar. Andaikan kita bunga, bunga seperti apa yang kira-kira cocok sesuai dengan kebiasaan yang kita lakukan? Apakah menjadi bunga yang memberikan keindahan, atau menjadi bunga yang mengotori keindahan? Laku kita selama ini seperti apa? Adakah cara kita mengeluarkan potensi dan menjadikan diri sebagai kembang jagat? Mas Sigit Jodhokemil mengajak jamaah untuk mengaktifkan pikiran dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tadi.

Istafti Qalbak (Bertanya Kepada Hati)

Di tengah-tengah acara, lantunan Wirid Munajat Maiyah juga dilafadzkan bersama-sama dipimpin oleh Mas Munir. Beberapa waktu lalu, terpantik makna kata Majelis Biqalbihi yang identik dengan Selasan MQ. Dengan segala keterbatasan sarana dalam mengubah suatu keadaan, begitupun dengan penuh sadar mengukur kadar kualitas iman yang masih serendah-rendahnya. Hal yang paling bisa dilakukan melakukan revolusi spiritual. Mencoba untuk terus meningkatkan iman, mbatin lewat wirid dan sholawat yang berkesinambungan.

Mba Kiki selanjutnya ikut memberikan respon, bahwa menurut beberapa filsuf, manusia bisa disebut sebagai jagat kecil yang menampung jagat besar. Jagat kecil yang diberikan amanat tersebut memiliki lebih dari akal, namun juga diberikan hati nurani. Manusia memiliki potensi banyak lupa akan jati dirinya sendiri yang mulai terjajah oleh budaya. Padahal untuk menjadi kembang jagat, menurut Mba kiki kita tidak bisa meniru orang lain. Melainkan kita harus mampu menjadi kembang yang memiliki keindahan tersendiri.

“Bagaimana kita bisa menjadi kembang jagat, sedang kondisi mayoritas orang disini sedang dalam fase kembang kempis?” tiba-tiba Mas Sigit Jodhokemil merespon diikuti gelak tawa saudara-saudara yang lain seolah rasa yang terpendam telah terwakilkan oleh celetukan Mas Sigit.

Mba Kiki yang notabene seorang penyair dan dulunya pernah ikut bergeliat di Gambang Syafaat ini memberkan tanggapan atas apa yang disampaikan oleh Mas Sigit. Menurutnya,  kita bisa menjadi kembang sesuai dengan kapasitas dan posisi kita masing-masing. Kembang itu bisa dipergunakan dan akan bermanfaat, tentu tergantung oleh faktor pendukung di sekililingnya. Sebagai contoh, adakah tumbuh bunga mawar di daerah kutub?

Kembang juga tidak hanya bisa dilihat secara fisik, karena semakin maju perkembangan zaman, orang-orang akan semakin menemukan kemudahan dalam memanipulasi wujud, rupa, bahkan keadaan. Belum tentu kembang yang menampilkan rona keindahan memiliki banyak kandungan madu layaknya kembang yang tampak biasa-biasa saja. Pada akhirnya semua tergantung kepada faktor sekeliling yang akan memanfaatkannya. Bagi seorang pembudidaya madu, bunga mawar tak terlalu penting. Akan tetapi bagi penjual bunga untuk ziarah dan jasa rangkaian bunga, bunga mawar akan memiliki peran yang sangat penting.

Pertanyaan datang dari Pak Adi kepada Mba Kiki, “untuk melihat lebih jauh, karena terkadang indah belum tentu menyimpan banyak madu. Bagaimana? Terutama terkait dengan untuk menjadi kembangnya jagat”

“Melakukan usaha spiritual ataupun dengan tarekat-tarekat tertentu.” Jawab Mba Kiki.

Sakjane dewe ono per-kembang-ane ono gak to?” sahut Mas Sigit.

Tentu saja jika berbicara terkait perkembangan sesuatu, sebelumnya kita harus memastikan tolak ukur apa yang dipakai. Agar tidak terjadi mispersepsi atupun miskonsepsi. Terlebih jika dikait-kaitkan dengan perkembangan spiritual. Manusia memang punya naluri akan sebuah pengakuan/eksistensi. Apabila secara materi sudah langsung di K.O, secara keilmuan langsung mendapat tamparan back hand, akhirnya yang paling bisa dieksiskan hanyalah sisi spiritualitasnya.

Mba Kiki kemudian melanjutkan bahwa mungkin karena ndableg,lantaskita semua diberi Covid untuk meningkatkan kesadaran, melatih ketulusan dan kelembutan, hingga benar-benar menciptakan kedekatan kita dengan Sang Maha Pencipta. Kita sudah banyak diberikan waktu untuk beruzlah untuk banyak bermuhasabah diri. Ketika kita sedang dalam kebingungan, kita telah mendapat sangu istafti qalbak (tanyalah kepada hati). Bahwa semua jawabannya sudah ada di dalam diri. Hanya saja, sebenarnya hati kita telah tertutup oleh selimut-selimut nafsu yang berlapis.

Kemudian respon terakhir datang dari Mas Muchlis, yang banyak menimba ilmu maiyah di Kenduri Cinta. Menurut Mas Muchlis, Kembang dengan keindahannya sehingga menjadi pusat perhatian. Itu masih relatif dan wajar. Mengambil pesan yang pernah disampaikan oleh Mas Sabrang, Mas Muchlis menyampaikan bahwa manusia itu adalah titik tengah alam semesta dengan berbagai macam simulasi jarak dari yang terdekat hingga yang terjauh.

Setelah puisi “Kembang Jagat” dari Pak Dadik dibacakan oleh Mba Kiki, waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam. Dari banyak yang telah disampaikan, Pak Adi mengambil poin dengan mengajak sedulur yang lain untuk menjadi kembang bagi lingkungan kita. Dengan berbekal keikhlasan, karena menurut Mbah Nun dalam memberikan manfaat setidaknya untuk diperhatikan bahwa diatas kebenaran dan kebaikan, masih terdapat keindahan.

Apa yang menyebabkan indah bagi seorang manusia? Yang menjadikannya mulia dan kehadirannya mampu menyejukkan suasana? Semua berawal dari segumpal darah yang apabila itu baik, maka baik pulalah seluruh tubuhnya. Baik pula akhlaknya. Bukankah Rasulullah diutus bukan untuk mengajarkan agama Islam, kecuali hanya untuk memberi contok akhlak yang karimah?

Acara dipungkasi dengan doa bersama dipimpin oleh Mas Taufiq, khususnya doa teruntuk Mas Virdhian sebagai tuan rumah Omah Maneges, yang sedang diberkahi dengan rasa sakit pada malam itu.

Magelang, 1 Agustus 2020