Oleh: Sigit Sky Syufa

Kalau anda melihat seorang teman mengendarai motor atau pit ontel,  yang salah satu bannya nggembos, apa yang anda lakukan?

Atau kalo anda mendapati seseorang sedang memompa ban, tapi ia cukupkan memompanya pada kondisi yang tidak full, atau menurut ideal anda ban itu masih nggembos apalagi setelah anda mengeceknya, memencetnya dan ban itu ternyata memang masih nggembos.

Apa yang akan anda lakukan?

Atau ketika anda menumpang/mengendarai sebuah mobil yang anda rasakan dalam perjalanannya mobil itu tak terasa nyaman, padahal kondisi jalan yang dilewati bagus.  Mobil itu terasa sedikit oleng dan ya, anda tau kalau itu karena bannya nggembos. Tapi ternyata hanya anda yang merasakannya, penumpang yang lain sepertinya enjoy-enjoy saja. Sementara perjalanan yang harus ditempuh masih sangat panjang

Lalu apa yang akan anda lakukan?

Rentetan perumpamaan dan pertanyaan itu tiba-tiba berebut memasuki pikiran, itupun masih ditambahi dengan kemelut: tepat atau tidakkah ilustrasi di atas untuk dilekatkan pada suatu peristiwa. Peristiwa apa? Siapakah pemompa, apa pompanya? Siapa pengendara, apakah itu kendaraan? Ban apa sebenarnya yang dimaksud?

Ujungnya, begitu sulitnya ridho dengan kejadian. Merelakan saja apa yang bergulir di depan mata dan yang terasakan. Menikmatinya saja tanpa ada gejolak batin “ah, kalau saja bisa begini..atau begitu..tentu akan lebih… .”

Beruntungnya mereka yang teko ngglundung mengalir menikmati apa saja yang ada tanpa ada pengharapan yang lebih. Bisa menikmati sajian apapun adanya, bahkan yang masih mentah atau setengah matang pun bisa lahap disantap, tetap bersyukur dan kenyang.

Jika memang demikian, adakah tempat yang tepat untuk meletakkan daya kritis? Sementara hal itu terus berulang dan berulang.

Ini seadanya, ataukah apa adanya?

Sik-sik!“. Apa bedanya seadanya dengan apa adanya?

Bahkan, “Sik-sik!“. Apa sebenarnya daya kritis itu?

Seseorang memegang pisau, tidak tajam dan ia tau kalau pisau itu tidak tajam. Pertama,  digunakannya untuk memutus tali, sekali gores tetep “thel!”, talipun putus. Setelahnya untuk mengiris daging, sedikit kesulitan tentunya, meskipun tetap bisa juga. 

Alat Pengasah? Tentu ia punya. Ya, disitu- situ juga letaknya, tak jauh darinya, tapi tidak digunakannya.

Tak berapa lama ia terbesit untuk menggali tanah, karena pisau masih digenggaman, ia gunakan pisau itu juga untuk menggali tanah.

Padahal ia punya cangkul.

Ini seadanya atau apa adanya?

Setiap orang tentu memiliki pisau dan cangkulnya masing-masing. Pisau analisa atau cangkul muhasabah, bahkan ada yang terus berupaya untuk mengasah dan memperbanyak peralatan- perabotannya, karena ia tau terkadang ia butuh palu, kapak, atau gergaji untuk mengatasi bermacam permasalahan hidupnya.

Berduyun-duyun orang mendatangi kerja bakti, membangun rumah: rumah pemikiran, rumah bergembira.

Yang datang, membawa peralatannya masing masing. Lengkap. Bermacam-macam maupun seragam.

Meskipun adapula yang ngglondang  tak berbekal peralatan.

Namun sayang, ketika pembangunan dimulai, alat yang dibawa tak digunakan. Bahkan, belum sempat dicoba, ia sudah tak percaya diri kalau alatnya tak bagus atau tak tajam.

Sebagian besar menunggu bagian, menyaksikan mereka yang menggali pondasi. Menatah kayu dan sebagainya.  Mereka yang tak memegang alat hanya menunggu saat usung-usung. Mengusung pemikiran, mengusung gelak tawa.

Sementara itu Mandor tak ada.

Apakah rumah itu lalu berdiri?

Tentu saja iya!

Sik-sik!” Ini tentang apa sebenarnya?

Apakah pas perumpamaan dengan yang hendak dimaksudkan?

Kenapa tidak langsung pada “apa” inti sebenarnya?

Kenapa seolah hanya tarik-ulur, berputar-putar?

Di halaman luas, ketika angin berhembus kencang, anak-anak berkumpul lalu menyebar. Semua membawa layang-layang.

Salah satunya bertuliskan, “Sungguh sayang kalau ada yang merasa sayang, namun sayangnya tak tersampaikan. Tak terbagikan. Tak terbalaskan.”

Adalagi yang bertuliskan, “Sayang ya kalau hanya sayang- sayangan.”

Karena anginnya kencang, layang- layang itu mudah melayang.

Mereka bersangkutan?

Yang jelas, esok harinya mereka kembali datang, bahkan bertambah banyak. Layang layang yang melayang-layang, yang gambar dan tulisannya makin bermacam-macam.