Langit merona kelabu, terlihat mesra kepada kekasihnya, Bumi, dengan memberikan hujan yang turun merata sedari sore hingga malam hari. Meski sangkaan ataupun celaan tak bisa terelakkan dari dhohir ataupun batin para makhluk yang ditakdirkan mulia.

Namun, ada juga mereka yang terpanggil untuk menghadiri perjumpaan kecil diantara kerumunan riuh mesra ataupun cela kepada semesta. Di salah satu sudut Barat wilayah Magelang, tepatnya di rumah Mas Harjo, Dusun Sadegan, Kecamatan Tempuran. Mereka bisa disebut ‘terpanggil’ karena hanya ada satu alasan mereka sanggup menerjang hujan, meangkas jarak, hingga menuntaskan lelah yang ada pada dirinya, yaitu niat untuk berkumpul menyatu, menyatakan salam rindu kepada kekasih-Nya.

 Basah ataupun hawa dingin sudah pasti menjadi konsekuensi dalam cuaca seperti ini. Namun akibat ainul yakin akan kemesraan yang telah diperjumpakan, pun dengan kepastian sajian dari Tuan rumah membuat suasana menghangat tanpa sekecap cela. Hanya tawa dan bahagia yang mewarnai pandang sembari menunggu acara dimulai. Para pemuda sekitar ikut membersamai, bahkan sedulur maiyah dari Klaten (Triyono), Sidoarjo (Bagas), dan Surabaya (Soni) ikut terpanggil pada kesempatan malam hari ini.

Dan, suasana yang telah tercipta terbukti ketika gerbong wirid dan sholawat ini telah melaju. Ketika telah sampai pada sya’ir “Yaa Thoybah”, energi pun menyeruak ketika melantangkan irama nada tersebut. Terutama pada bait “isytaqnaalik”. Seolah mereka menegaskan, “Kami merindukanmu (Muhammad SAW)”.

Kerinduan yang membawanya berkumpul dan menyatu dalam ruang Selasan. Waktu ataupun jarak bukan lagi sebuah masalah jika rasa rindu ini telah ditanamkan dalam qalbu mereka. Hingga mereka berduyun mendatangi ‘tuk sekedar menyapa. “wal hawa nadaana”, karena mereka telah terpanggil, terhanyut oleh cinta kepadamu (Muhammad SAW).

Sadegan, 18 Februari 2020