Wahai Tuhan Semesta Alam. Raja dari segala Raja. Yang mencipta serta mengasihi segala penciptaanNya. Tidak akan ada yang sanggup membantahNya. Bahkan, makhluk sekelas iblis pun tetap patuh dan tunduk dengan segala ketetapanNya.

Hingga terciptalah manusia, ciptaan yang paling elegan. Yang mampu membuat iblis yang telah beribadah ribuan tahun kepada Tuhan merasa iri dengan diciptakannya makhluk “mulia” ini. Sungguh sangat spesial produk tercanggih dari Tuhan ini.

Akan tetapi, semua pasti ‘ada’ efek samping dari yang terbaik. Yaitu kemungkinan menjadi yang terburuk juga melebihi segala sesuatunya. Power destruction-nya lebih besar daripada apapun. Eksploitasi rahman dan rahim-nya bertumpu kepada egosentris hawa nafsunya. Sehingga apa yang terjadi sekarang adalah hal yang tampak sangat nyata. Ini bukan halusinasi, tapi inilah realita.

Jadi seringkali kita temukan disposisi untuk segala struktur komposisi dalam masyarakat. Manusia yang menjadi kepala tukang perintah dipandang paling terhormat dibanding pedagang bakso keliling pada malam hari. Manusia yang memiliki rumah segedong dilihat lebih kaya dibanding yang tidak punya rumah. Orang merasa memiliki tanah oleh karena ia memiliki selembar kertas dengan cap pemerintah atas sertifikat kepemilikan tanah.

Apa yang hakikatnya menjadi milik Tuhan mulai diakuisisi oleh para makhluk yang mulia. Bahkan parahnya mereka saling berebut, saling menjatuhkan, bahkan tak ragu mereka saling membunuh atas sesuatu yang sama sekali bukan miliknya. Tuhan Yang Maha Sabar atas segala keserakahan, menahan diri untuk segera menyuruh Sang Malaikat Israfil meniup sangkakalanya. Atau mungkin terompetnya sengaja disembunyikan oleh Tuhan karena rasa sayangNya kepada para hambaNya. Seolah Tuhan selalu menyatakan Amhilhum Ruwaydaa.

Mulia bukan berarti ia harus rajin beribadah atau menghafal isi Al-Qur’an ataupun hadits. Tuhan pun Maha Adil, ia memberikan potensi kemuliaan kepada setiap insan, tidak hanya dikhusukan bagi golongan agama tertentu. Tuhan tidak bisa dimonopoli oleh agama atau golongan tertentu saja. Kalaupun Tuhan memposisikan diri pada satu agama atau golongan tertentu, bagaimana mungkin Dia memiliki sifat Al-‘Adl.

Tuhan juga menunjukkan Al-Fattah-Nya bukan hanya kepada agama tertentu saja, tapi bagi setiap manusia. Lantas, seperti apakah mulia yang dimaksud? Apakah hanya dengan merubah penampilan, misalnya jenggot dan cingkrang atau hijab dan cadar, serta dengan segala kebenarannya tentang textbook yang telah dibaca bahkan dihafal sedemikian rupa sehingga seseorang merasa jadi mulia? Karena ke kecerdasannya? Jujur kalau bukan sedikit cipratan sifat Ash-Shabuur yang diberikan, mungkin betapa banyak juga manusia saling mencak-mencak sendiri menghadapi pemahaman mereka yang sangat beragam yang saling berebut kebenaran.

Rabbana zhalamna anfusana wainlam taghfirlana watarhamnaa lanakunana minal khasirin. Kami telah menganiaya diri sendiri, kalau bukan karena ampunan dan rahmat-Mu, maka kami menjadi orang yang sesat. Jangan terjebak kepada kebenaran, karena kebenaran sejati untuk yang hidup hanyalah mati. Selain itu, kebenaran hanya Allah yang mengetahui selama kita di dunia.

Dari sembilan jalan menuju kemuliaan, Rasul pun menyimpulkannya menjadi tiga jalan yang mesti dilalui. Dan sungguh bagi orang yang mengahafal Al-Qur’an dan hadits, jalan ini sangat sulit untuk dilalui, karena kurangnya pemahaman akan hakikat keilmuan pada beberapa konteks pengamalannya. Ketiga jalan tersebut yaitu menyambung hubungan (silaturrahmi) dengan orang yang memutuskan, memberi kepada orang yang kikir, serta memaafkan orang yang berbuat dholim.

Pada poin pertama, kita bisa melihat siapa yang berusaha menyambung hubungan di zaman sekarang dimana manusia suci selalu memutuskan hubungan kepada manusia kafir. Padahal hanya berbeda keyakinan, manusia yang merasa suci selalu membatasi dirinya terhadap manusia yang dikiranya sesat. Termasuk posisi saya disini yang selalu sesat, sehingga selalu saya lafadzkan ihdinash-shiratal mustaqim.

Selanjutnya kita bisa melihat dimana kekikiran akan ilmu yang mereka kuasai. Padahal hakikatnya orang berilmu adalah ia semakin mengecil karena kesadaran akan ilmu yang belum meraka ketahui. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk. Yang terjadi pada zaman now, semakin berisi semakin tegak, semakin keras, kalau tidak bisa menahannya akan mengakibatkan ledakan seperti ‘anu‘-mu itu. Pada saat yang sama manusia yang dibodoh-bodohkan karena amalannya hanya tersenyum membalasnya. Itupun sudah cukup, sembari berbisik,”laa illa haa illa anta subhanaka inni kuntu minazhzholimin.”

Dan yang terakhir adalah memaafkan orang yang berbuat dholim. Dholim itu sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti bengis, tidak menaruh belas kasihan, atau tidak adil, kejam. Sedangkan dalam arti yang luas bisa juga disebut sebagai  perbuatan meletakkan sesuatu/ perkara tidak pada tempatnya.  Atau secara singkat tersusun dari huruf “zha la ma” yang memiliki arti gelap.

Jadi kejadian yang menimpa negara kita ini adalah merasa benar sendiri. Apa yang tidak sesuai harapannya, menjadikannya mudah baper dan merasa terdholimi oleh pemerintah. Entah itu karena pengaruh politik dengan maksud dan tujuan tertentu atau karena hanya ikut-ikutan tanpa mempunyai cakrawala pandangan yang luas. Padahal kalau benar merasa terdholimi justru kita dikasih kesempatan untuk menjadi mulia, dengan cara memaafkan. Kalau kita butuh keadilan karena merasa terdholimi, hal seperti ini menimbulkan pertanyaan apakah ada kepentingan dibalik itu?

Lalu selain kita dikasih ahwal mulia dengan jalan memaafkan, bukankah Tuhan juga memperbesar rasio kemungkinan doa kita dikabulkan jika benar kita merasa terdholimi? Jadi, saya kira kita lebih banyak diberi kesempatan sama Tuhan jika ada yang berbuat dholim kepada kita, biarlah mereka melakukan apa yang mereka suka. Bukankah semua perkara juga terjadi atas ijin Tuhan, sebagai bentuk pembelajaran buat kita. Walaupun itu buruk buat kita, akan tetapi semua itu Tuhan ijinkan demi kebaikan kita dan mningkatkan kadar kemuliaan. Karena guru terbaik adalah pengalaman ketika kita mengimplikasikan ilmu yang telah tercurahkan.

Hasbunallah  wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir . Jadi tidak usah khawatir tentang kerugian yang kita alami, ataupun kekalahan yang akan kita hadapi. Biarkan semesta ini menelantarkan raga kalau hanya kita yang akan disangoni kekuatan untuk menghadapinya. Wahai para manusia yang kiranya selalu meningkatkan kemuliaannya, sebelum kalian menghalalkan darah-darah para saudaraku, lebih baik kalian ambil saja darahku sepuas kalian. Sehingga romantisme keeleganan produk tercanggih Tuhan akan mencapai klimaksnya.

Lantas jika dirasa, masih adakah ruang bagi rasa sedih dan khawatir?