Jejeg Ajeg Tatag Teteg

Sebuah kebiasaan menunda-nunda sebuah pekerjaan sudah menjadi semacam syndrome yang telah menjangkit meski tanpa dirasa. Pengambilan keputusan yang terlalu banyak pertimbangan pada akhirnya hanya menjadi bumerang kepada diri untuk segera menetapkan sesuatu. Hal ini biasanya terjadi karena takut akan sebuah kemungkinan yang belum pasti.

Bagaimana mungkin kita bisa mengamalkan faidza faraghta fanshob? Jika kita masih ragu-ragu dengan innama’al-usri yusro. Masih terjebak dalam kubangan kesusahan, padahal bersamaan dengan itu selalu diberikan jalan kemudahan. Ilmu yang dirasa sudah banyak didapat bukannya menjembatani, namun sekali lagi justru menjadi tendensi-tendensi yang mnghalangi untuk lekas mengambil tanggung jawab dan menuntaskannya.

Dalam khasanah ilmu Jawa terdapat istilah “Jejeg Ajeg, Tatag Teteg”, Siapa yang ingin mendapatkan Jejeg Ajeg atau pendirian yang kuat, maka ia akan dapat memetik buah Tatag Teteg, keberanian dan semangat yang kuat. Tatag memiliki makna waton trabas (berani asal menabrak), tumandhang (lekas mengerjakan), jarang memiliki rasa sumelang atau was-was. Sedangkan Teteg sendiri bermakna kokoh dan tidak mudah tergoyahkan.

Orang yang merasa memiliki banyak ilmu membuatnya terjebak dalam ranah virtual angannya untuk banyak berpikir, sehingga ia terkadang lupa untuk segera mengambil keputusan. Karena ilmu tersebut didapatkannya seolah-olah ia bisa seminimalisir kemungkinan yang membuatnya harus dihadapkan dengan kesalahan. Kalau semua direncana dengan baik dan matang, apakah sudah pasti, semua akan berjalan sesuai dengan rencana kita?

Adakah sekali-kali kita juga mengingat atau mengikutsertakan keterlibatan Allah, kalau semua tetap membutuhkan rahmat-Nya agar semua dapat berjalan sesuai keinginan. Tapi, terkadang Allah sudah menyiapkan kejutan-kejutan kepada para hamba-Nya yang terlalu memberhalakan kebenaran pemikirannya.

Jejeg Ajeg Tatag Teteg sendiri melatih kedisiplinan untuk setia bukan kepada pemikirannya, tetapi lebih kepada rasa setia kepada kalam, bahwa segala sesuatu yang terjadi pada akhirnya terserah pada Yang Maha Memiliki Kehidupan. Sekali lagi, ambillah amanah tugas yang telah telah dipercayakan kepadamu, lalu maukah kita belajar segera menuntaskannya?