Terasing sudah menjadi kebiasaan bagi Jamaah Maiyah. Entah itu atas cara pandang atau alur berpikirnya yang berbeda dengan mayoritas umum atau karena memang karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.

Adat dan budaya manusia memang berbeda-beda di setiap wilayah. Bahkan Antara kota dan pedesaan yang sejatinya berdampingan, selalu ada sekat budaya yang membedakan antara 2 wilayah tersebut. Sehingga batas-batas perlu dipugar atau dibuatkan gapura yang besar hingga menunjukkan kejelasan batas antara 2 sisi yang berbeda.

Bagi Jamaah Maiyah yang sudah biasa terasing, perbedaan-perbedaan yang dibangun tersebut terkesan sama. Dimanapun, kapanpun, selama ia diperjalankan menuju ke suatu tempat. Itu adalah rumah baginya. Meski sedang terisolasi, perjalanan seolah-olah selalu memanggilnya untuk bermesraan dengan semesta raya ataupun sebuah kemesraan yang menantinya yang mewujud dalam sebuah pertemuan.

Orang-orang yang terisolasi tersebut tidak terikat dengan waktu, mereka sudah biasa berjalan di dalam gelap. Mereka terbiasa mencari cahaya di dalam waktu yang baik untuk terlelap. Mereka berjalan melampiaskan rindu tanpa pernah ragu.

Jalan pikirannya sudah biasa dibantah karena selalu bertentangan dengan kesepakatan umum. Cara pandangnya selalu dimentahkan karena terlalu banyak melibatkan Tuhan dengan kacamata yang dipakainya. Meski terkadang tak sadar mereka berlomba-lomba untuk menantang Tuhan berkompetisi dalam menemukan kebenaran. Namun, itulah bagian dari kemesraan yang telah tercipta.

Beruntung jika hanya terasing, bagaimana dengan mereka yang terusir? Atau bahkan diusir? Karena tidak menyepakati kesepakatan mayoritas, sedangkan dirinya tidak menentang hanya tidak menyapakati. Atau lebih sialnya, ketika mesti terusir karena jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan si pemberi pertanyaan, sedang si penanya tersebut memiliki kuasa untuk mengusir.

Alhasil, banyak yang meski menelan ludahnya sendiri. Banyak yang berkhianat kepada keimanannya sendiri karena keadaan-keadaan yang tidak memungkinkan untuk mempertahankan keteguhannya. Banyak yang tidak sesuai dengan kata-kata yang diucapkannya karena takut akan keterasingan atau apapun itu yang membuat dirinya tidak diakui.

Mengapa kita mesti mengambil jalan seperti itu? Terlebih kedewasaan manusia tumbuh di zaman yang penuh dengan tantangan, serba terbalik cara berfikirnya, bahkan menomorduakan Tuhan daripada ilmu akalnya. Sedang diri tak memiliki tameng yang cukup untuk mempertahankan dari bisikan-bisikan nafsu sampai kemuliaan (satu-satunya kepastian dalam hidup) itu datang, kecuali dengan mengandalkan pertolonganNya.

Uniknya, corona membuat banyak orang mengasingkan dirinya dalam gua-gua kebenaran. Dengan beranggapan bahwa jika ada manusia melakukan hal tersebut, seolah ia mendapatkan jaminan keselamatan. Mereka terasing di gua-gua kebenaran dengan keadaan sengaja disadarkan. Sekrang, manusia diberikan kesempatan untuk benar-benar berkhalwat atau lebih mendekatkan diri. Namun, mereka justru merongrong atas keadaan, tak peduli kebenaran ataupun kesalahan. Beda dengan para Askhabul Kahfi yang dibuat mereka tidak menyadari bahwa ketidaksadarannya di gua tersebut ternyata telah memakan waktu 309 tahun.

Padahal, sebenarnya beruntung mereka mendapatkan keadaan sedemikian rupa. Karena lebih banyak mengandung hikmah daripada keadaan seperti biasanya. Seharusnya mereka beruntung mendapatkan pengalaman terasing tanpa harus mencari perhatian selainNya. “Rasulullah Muhammad SAW mengatakan Islam dimulai dari keterasingan dan akan kembali dan kembali lagi ke keterasingan. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing dan kesepian, karena itu pertanda Tuhan dekat di sisi mereka.

Tetapi bagi Jamaah Maiyah yang sudah nampak terbiasa dengan keadaan terasing, ketika mereka keluar dari rumah-rumahnya untuk sekedar mencari penghiburan karena segala yang dilihatnya adalah manifesi akan Sang Rahman Rahim. Atau untuk menyambung tali silaturrahmi, mencari ayat-ayat yang tidak difirmankan, mencoba meneruskan asih yang dititipkan. Namun, yang ditemukan adalah diri mereka sedang bersembunyi. Karena takut akan sesuatu yang tak nampak, yang ghaib, dan tentu takut akan Tuhannya.

Nampaklah Jamaah Maiyah terasing dalam keterasingan. Seolah mereka mengalami isolasi kuadrat, yajni isolasi yang terisolasi. Namun, Kanjeng Rasul seperti memahani mereka dengan memberikan sabda, “Berbahagialah orang orang yang asing (Al-Ghuroba), yaitu orang orang salih yang berada di tengah orang orang yang berperangai buruk, dan orang yang memusuhinya lebih banyak dari pada yang mengikuti mereka.”