Ijazah Ta’dib dan Musik edukasi

Jum’at Pagi 27 Mei 2016 berbarengan dengan hari H Ihtifal Maiyah di malam harinya, acara Ijazah Ta’dib dan Musik Edukasi diadakan tak jauh dari venue Ihtifal Maiyah. Diawali tembang ‘Sampai mati’, Letto membuka Musik edukasi SMK Global. Usai lagu Sabrang langsung berkomentar, “Dalam menghadapi kehidupan kita sehari-hari dan menjadikan alam lingkungan sekitar sebagai pelajaran, kita perlu melakukan tiga langkah yaitu menyerap, meledakkan, lalu menata. Kita tidak bisa mengawali menata jika kita tidak tau yang harus ditata itu apa? Kita dapat menata setelah sesuatu itu tidak beraturan”.

“Kita mulai dengan menyerap. Menyerap sesuatu yang ada di sekitar kita. Perlu diingat bahwasannya menyerap apa saja di sekitar kita adalah baik. Dalam hal ini kita juga tidak atau jangan melepaskan serapan di sekitar kita akan 3 hal yaitu: Tidak meremehkan, Teliti, dan Waspada” Tambah Sabrang lagi.

“Kenapa 3 hal ini? Yaitu untuk mengingatkan diri kita agar tidak mudah dipengaruhi sentimen-sentimen ataupun subjektifitas yang mengarahkan ke hal-hal yang melenceng pada diri kita sendiri. Seperti apa 3 hal itu, tentunya kita tau 3 hal tersebut” Sabrang masih terus memaparkan.

“Meledakkan sebebas-bebasnya contohnya adalah celelek ini atau clangupan-clangupan itu tadi. Kita bawakan lagu gundul-gundul pacul. Bisa tidak jadi dangdutan? Metal?” tanya Sabarang.

Sambil diiringi musik, Sabrang menyanyikan lagu tersebut dengan irama metal, kemudian dangdut, lanjut keroncong. Lalu siswa-siswa meminta dalam versi rap. Sabrang pun meladeni. Terlihat siswa-siswi SMK Global menikmati suguhan pengantar ilmu dengan mudah dan dimengerti. Artinya mereka merespon apa yang ada di sekitar mereka dengan kreatifitas.

Sedikit mengendurkan tensi, Letto melantunkan nomor ‘Ruang Rindu’. Audiens terlihat asyik menikmati. Sabrang lalu melanjutkan hal ketiga yaitu menata.

Sabrang memancing dengan pertanyaan “Berapa menit sih satu lagu itu?”

Audiens menjawab 4 menit.

Sabrang merespon, “Baik 1 lagu 4 menit rata-rata. Bagaimana kalau itu 15 menit?”

Audient menjawab, “Bosan dan terlalu lama”.

Pancingan Sabrang mengerucut hingga Sabrang menerangkan artinya, bahwa kita harus tau kemampuan memahami dan mengetahui batas. “Siapa yang sering dapat hukuman di sekolah ini?” tanya Sabrang. Tidak ada yang menjawab. Maka Sabrang melanjutkan bahwasannya aturan-aturan yang ada itu adalah sebuah batas. Seperti batas waktu, batas sopan, batas nilai dan lain sebagainya. Sabrang menyampaikan perbedaan pintar dan cerdas. Pintar menurut sabrang adalah kemampuan menjawab dan cerdas adalah kemampuan bertanya. Dan dengan cara seperti itu kontribusi pemahaman akan tergali. Belajar banyak adalah piranti atau pelengkap. Maka jika ingin melatih cerdas adalah membuat pertanyaan.

letto

Sejenak kemudian sesi Musik Edukasi di isi dengan sebuah permainan bertanya, namun di jawab dengan bertanya. Karena bertanya adalah sesuatu yang sulit. Sulit dalam kedalaman pertanyaan itu. Dengan debat tanya akan melatih berfikir. Kemampuan bertanya akan mengerti batas itu. Kreatifitas dalam diri pribadi akan membebaskan untuk berkelana di mana saja.

Sekolah yang ada sekarang ini menurut Sabrang masih banyak yang langsung kepada langkah menata, sehingga tahap-tahap meledak sebebas-bebasnya di sekolah menurut mereka adalah mentolelir langkah-langkah kedua yaitu meledak-ledak, merusak tatanan ketertiban di lingkungan sekolah. Hal inilah yang menutup potensi kreatifitas anak-anak sekolah bahkan menumpulkan. Semoga di SMK Global tidak.

Sebelum Cahaya dilantunkan untuk mengendurkan atmosfer berfikir audiens. Sembari menunggu Cak Nun hadir, Sabrang mengisi suasana berpikir audiens dengan permainan berhitung cepat dengan menunjukkan angka-angka yang tertera lalu ditambahkan ke angka selanjutnya terus-menerus. Di Akhir sesion Letto membawakan nomor Sandaran Hati. Disambung kemudian lagu Kutepikan Semua Keraguan Jiwa.

Kemudian Guru pengampu SMK Global dan Penggiat Simpul yang datang diwakili dari simpul Mandar. Penggiat Simpul tersebut memberikan testimoni mengenai adanya inspirasi setelah kegiatan ta’dib ataupun kegiatan di Simpul Mandar yang dulu di Sulawesi Selatan dan sekarang menjadi Propinsi ke-33 Sulawesi Barat. Salah satunya seperti kegiatan literasi yang mulai sejak TH 80an ada lewat Teater Flamboyan.

Guru Pengampu SMK Global juga mengungkapkan bahwa sejak tahun 2008 baru kali ini Cak Nun langsung terjun setiap bulannya. Sebanyak 6 kali berturut-turut menggembleng murid-murid SMK Global. Menurutnya harapan hasil ta’dib ini menyerupai pohon kelapa yang semua di pohon tersebut termanfaatkan. “Kami contohnya. Kini kami memahami kesabaran. Ada metode kreatifitas. Bisa mendengarkan apa yang dikatakan murid. Mendapatkan kesungguhan ta’dib kali ini merupakan puncak kegiatan selama 8 bulan. Membangun kebersamaan. Banyak keistimewaan yang dapat diambil pelajaran” ungkap Guru SMK Global tersebut.

Siswa bernama Nurcholis sebagai contohnya maju ke depan menerangkan bahwasannya dulu ia tak berani bicara. Namun setelah mengikuti program ta’dib ini sekarang berani untuk bicara mencurahkan pikiran atau hati kecilnya. Nampak bagaimana dia berani mengatasi groginya.

Penyerahan ijazah ta’dib langsung diberikan oleh Cak Nun. Tutur Cak Nun, “Ta’dib pada hari ini adalah Syahadat Mas’uliyah Ta’dib Padhang mbulan (sebagai saksi). Bukan ijasah dalam arti tanda kelulusan atau liburan. Sebab jika ijazah akan membuat sombong. Namun ijazah ini adalah sebagai saksi untuk setia dengan nilai. Hidup adalah kesetiaan dan tanggung jawab terhadap diri masing-masing. Nilai akidah, ahklak, kreatifitas, keberadaban tentang tau, ngerti, bisa, gelem” tandas Cak Nun.

Selama 6 pertemuan ta’dib, siswa SMK Global telah memiliki respon dialektika komunikasi. Cewawakan bagus tapi tau penempatannya. “Lulus itu di hatimu,” pesan Cak Nun. “Tapi perlu dibuktikan terhadap nilai kesetiaan itu” tambahnya.

tadib

Di penghujung acara, Siswa-siswi SMK Global memberikan persembahan kado untuk Cak Nun berupa tumpeng hasil buatan mereka sendiri.

Sabrang menambahkan, bahwa Ia sudah menghadapi berbagai sekolah dimana-mana. Tapi terlihat inferioritas yang beda dengan SMK Global. Dia merasakan energi bertahan dan istiqomah lebih penting dari kecerdasan.

Ditutup doa dari Gus Musthofa, Dosen SH dari Universitas Lampung. Beliau mengemukakan sebelum menutup doa bahwa ia telah bersekolah selama 40 tahun di 5 perguruan tinggi dan sedang menunggu untuk dilantik menjadi Guru Besar. Acara selesai setelah itu pembacaan Istighfar dan Doa.

Reporter Maneges Qudroh/ Bond.

Tulisan Terkait