Hijrah

Segera beranjak dari tempat dari tempat pijakmu!

                Kalau kita sedang berada di tanah yang gersang dan tandus ada dua hal prinsip yang bisa kita lakukan, yang pertama kita berupaya dan berusaha agar dengan segala daya fikir dan kreatiitas kita mampu mengolah tanah menjadi subur dan memungkinkan tumbuhnya pepohonan yang akan berbuah manfaat dan tumbuh daun-daun kasih sayang, atau bagi kita yang biasa berselimut kemalasan hanya akan terpaku dan termangu dalam diam yang tak memberi arti apa-apa.

                Sedan perlakuan yang kedua terhadap tanah gersang dan tandus di hadapan kita adalah meninggalkannya, seperti hijrahnya nabi Muhammad SAW dari Makah ke Madinah karena ada sebuah kemungkinan-kemungkinan dan harapan, kita bisa mencangkul dan bercocok tanam menabur benih kebaikan dan menanam pohon-pohon kasih sayang. Tetapi dua hal tersebut akan menjadi sesuatu hal yang delematis ketika kita membahas tanah bumi Indonesia yang kita pijak saat ini, yang subur secara stuktur dan unsur-unsur yang dikandungnya tapi tandus dan penuh hama yang membahayakan bagi tumbuhnya manusia-manusia yang Allah cipta sebagai makhluk paling sempurna.

                Semau ini dikarenakan lembaga-lembaga parlemen dan kenegaraan dan juga birokrasi strukturalnya tidak berdampak positif pada pertumbuhan manusia yang dikehendaki Tuhan. Bahkan menyeret teramat jauh manusia dari jalan-jalan yang Tuhan sudah tentukan.

               Kalau kita bersekolah dan semua ilmu-ilmu yang kita pelajari berasal/bersumber dari Tuhan tetapi kita semakin tidak mengenal Tuhan bahkan karena semua ramuan dan komposisi di dalamnya memang dibuat agar kita semakin jauh dari sang Khaliq, akankah kita kerasan dan tetap akan berproses lebih panjang di dalamnya.

                Kalau kita bekerja mencari uang tetapi di lingkungan tempat kerja kita tidak pernah memberi pelajaran dan peluang kepada kita untuk mengerti bahwa uang hanyalah sekedar kendaraan untuk meraih cintaNya, tetapi hanya semakin memaksa kita untuk merakusinya sehingga jiwa raga, darah nafas, fikir hati,  waktu dan irama hidup kita hanya tercurah untuk bagaimana meraihnya. Akankah kita tetap menghabiskan sisa-sisa usia kita di dalam tempat kerja sehingga semakin dalam kita terkubur olehnya.

                Kalau kemudian kita berpolitik, berekonomi, bertani, berdagang, berkesenian, berkeluaraga, bermasyarakat bahkan bernegara tetapi kita tidak pernah menjumpai Allah atau mungkin Allah tidak ada dalam diri dan kehidupan kita, maka

                Ayolah!

 Segera kita beranjak dari kekotoran diri kita dengan berwudhu, menemukan Allah dalam syahadat, hijrah dengan sholat karena sholat adalah mikraj bagi orang beriman, meraih cintaNya dengan zakat, mengetuk pintu rumahNya dengan puasa, kembali pada Allah dengan berhaji.

Oleh: eko mulyono

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan