Guyub Rukun Ing Desaku

g1

Foto : Manges Qudroh


Guyub Rukun Ing Desaku

Malam yang telah ditunggu segenap warga Dusun Karang Kopek, Ngluwar, Magelang akhirnya tiba juga. Meski sejak sore diguyur hujan gerimis berpayung langit mendung, acara Tadabburan bersama Cak Nun dan Kiaikanjeng (28/4/2016) malam itu tetap dihelat dengan tawajuh. Dibuka oleh grup hadroh Khoirul Jami’ dari Karang Kopek, atmosfer sholawatan dibangun dengan hangat. Disusul kemudian Pakdhe-pakdhe KiaiKanjeng dengan beberapa nomor sebagai penyahdu suasana malam itu.

Di Halaman Masjid Al-Huda yang juga pekarangan rumah warga setempat tersebut, warga sudah memadati setiap sudut-sudut halaman yang ada. Baik di sela-sela pepohonan maupun di jalan-jalan menuju lokasi. Bahkan sebuah rumah di depan masjid yang masih berkonstruksi gebyok lama, harus rela dibongkar bagian depan dan tengahnya agar dapat menampung jamaah yang hadir. Terbukti, tak butuh waktu lama, teras rumah sampai ke dalam segera penuh jamaah ibu-ibu. Hampir di semua sudut mata memandang, hadirin dari yang tua, muda, besar maupun kecil, semua bersemangat hendak mereguk kemesraan bersama sekaligus menuai ilmu dalam peristiwa Tadabburan malam itu.

“Kalau saya pribadi adalah istighfar (mohon ampun) dan Alhamdulillah (syukur). Sebab dua nilai itu efektif dan tinggi nilainya menurut saya. Tapi ini jangan dijadikan kebenaran. Ini menurut saya,”

Cak Nun

Diawali dengan tilawah Al-Qur’an Surat Al-A’raf 64-69 dan tawasul, pukul 20.15 WIB acara dimulai. KiaiKanjeng yang sudah stay di wilayahnya masing-masing, langsung menyambung lewat nomor Pambuko yang dijalin sekaligus dengan tembang Pak Tani. Tembang Koes Plus yang merupakan representasi dari guyub rukunnya masyarakat pedesaan sebagai satuan sosial masyarakat di Indonesia. Jamaah pun tampak semakin meringsek ke tempat-tempat yang dirasa cukup nyaman untuk segera mencecap ilmu. Sisi kanan panggung yang semula cukup leluasapun langsung dipenuhi kebanyakan anak muda. Nampak warga sudah tidak sabar menunggu Simbah Ainun Nadjib.

Dalam tajuk “Guyub Rukun Ing Desaku”, Cak Nun membuka dengan pertanyaan “Desa karo kutho ki apik endi? Supaya jelas kita ini mau kemana.” Sebab hari ini kita tanpa sadar sudah ditipu oleh industri modern. Misalnya saja propaganda iklan bahwa wanita itu cantiknya kalau sudah kulitnya putih. Sehingga diperlukan konsumsi produk-produk pemutih kulit. Dengan kelakar yang khas, Cak Nun berujar bahwa, “kitalah sesungguhnya yang paling pas warna kulitnya. Wong bule-bule yang kulitnya putih saja ingin warna kulitnya jadi coklat kok. Bahkan sampai harus dengan alat open. Jadi kalo orang barat itu keputihan, kalau orang afrika itu kehitaman.” Jamaah pun tertawa gembira mendapat pencerahan.

Cak nun kemudian merangsang pikiran jamaah. Apakah kita ini butuh Allah tidak? Kalau butuh sering minta apa tidak? Mintanya seperti apa? Atau bagus mana minta apa pasrah? Sedang kalau umpamanya kita meminta, bayarnya pakai apa? Dari apologis tersebut Cak Nun kemudian memberi terminologi Da’a, yad’u, Du’a, Da’watan. Yang bermakna mengajak, juga memanggil dan seterusnya. Maka apakah jika berdo’a kepada Allah berarti kita mengajak / memanggil Allah? “akan lebih beradab apabila do’a kepada Allah itu kita maknai menyapa Allah.” Papar Cak Nun.

“Dalam hal berdo’a kepada Allah, kalimat apa yang paling tinggi nilainya?” Simbah lagi-lagi membuka pikiran jamaah. “Kalau saya pribadi adalah istighfar (mohon ampun) dan Alhamdulillah (syukur). Sebab dua nilai itu efektif dan tinggi nilainya menurut saya. Tapi ini jangan dijadikan kebenaran. Ini menurut saya,” lanjut Simbah. Dari dua hal tersebut setidaknya jamaah mendapat pemahaman bahwa dengan sering menyapa Allah, maka kelayakan diberi oleh Allah menjadi keniscayaan.

g2

Foto : Maneges Qudroh


Sementara di radius ratusan meter dari panggung, tim paparazi Maneges Qudroh banyak menemui pemandangan-pemandangan luar biasa seperti seorang berkebutuhan khusus (berkaki buntung) yang khusyuk mendengarkan Tadabburan di salah satu sudut jalan desa. Juga kerumunan orang-orang yang tetap rela menyimak meski hanya dari TV yang ditransmisikan dari operator Adi TV sebagai perekam acara atau melalui layar Proyektor. Nampaknya mereka tetap jenak meski cukup jauh dari panggung utama karena energi momentum malam itu memang jarang mereka temui di forum-forum yang lainnya. Seolah tidak mempedulikan bahwa besok hari adalah hari kerja maupun bersekolah bagi yang masih pelajar.

Malam beranjak larut. Jamaah masih bertahan. Bersama tokoh masyarakat mulai dari Pak Kapolsek, Pak Danramil, Pak Camat, Pak Lurah dan Ketua panitia, Cak Nun bermuwajjahah dengan jamaah dengan memberi banyak pesan diantaranya agar mereka jangan mudah mengeluh, nggresulo. Maka lewat nomor Alhamdulillah, wa syukrulillaah… Cak Nun mengajak semua hadirin untuk bersyukur dan beristighfar. Sembari terus menerus untuk bersholawat kepada Kanjeng Nabi sebagai Mu’alim (guru) kita semua.

Cak Nun yang tidak sendiri di atas panggung mempersilakan Pak Kapolsek dan Pak Danramil untuk memberi himbauan kepada masyarakat yang hadir. Dengan tegas Pak Kapolsek mengajak hadirin untuk semakin waspada terhadap bahaya narkoba khususnya bagi generasi muda-mudi. Hari ini pola peredaran Narkoba sudah sedemikian terorganisir dan canggihnya, sampai-sampai dengan harga sepuluh ribu saja sudah bisa mendapat narkoba dalam bentuk permen dan lain-lain. Cak Nun lalu menambahi, bahwa satu-satunya cara untuk sembuh dari narkoba hanyalah kemauan dan perjuangan pelakunya sendiri untuk sembuh.

 

Tantangan Generasi Muda

g3

Foto : Maneges Qudroh


Agar para kawula muda merasa tersapa, Cak Nun meminta Mas Alay untuk membawakan lagu Ya Thoybah yang sudah diaransemen lebih pop. Cak Nun berpesan pada kawula muda di sini agar sedini mungkin menyadari bahwa tantangan ke depan yang harus mereka hadapi itu tidak ringan. Maka carilah apa yang baik, yang sejati. Juga mana yang sesaat dan temporer. Dalam hal ini Cak Nun memperkenalkan Maneges Qudroh sebagai kumpulan anak-anak muda di Magelang dan sekitarnya yang sedang berupaya untuk mencari, dan berbuat kebaikan.

“Jangan memakai istilah kearifan lokal. Itu cara Barat untuk mengerdilkan Anda. Sebut saja kearifan Jawa, atau kearifan universal. Sebab nilai-nilai jawa itu universal.” (Cak Nun)

Maka untuk sesi tanya jawab, wakil dari Maneges Qudroh didaulat Cak Nun untuk memoderatorinya. Mas Anang sebagai orang MQ yang sedari tadi sudah di atas panggung segera melaksanakan dawuh Simbah dengan memberi kesempatan pada jamaah untuk bertanya. Di antara pertanyaan yang disampaiakan, salah satunya dari jamaah asal Srumbung. Dia merasa khawatir terhadap anak TPA di lingkungannya yang masih kecil, mereka bisa membaca iqro sampai jilid 4, padahal Abjad saja masih kesulitan. Apakah hal tersebut dapat membahayakan kemampuan anak?

Cak Nun segera merespon bahwa, “Anak di bawah usia 5 tahun itu idealnya tidak usah banyak diajari. Bahkan menulis dan membaca. Cukup dikawal saja. Sebab mereka sedang dalam tahap meneliti dan mengenali dirinya ke dalam melalui cerminan dari luar dirinya. Bukankah mereka punya perjanjian dengan Allah. Dan Allah juga punya kehendak kepada mereka. Maka kitalah yang harus banyak belajar mengenali apa kehendak Allah kepada mereka. Melalui pengalaman-pengalaman, hadirkan Allah dan Rasulullah. Aqidah dan Ahklak. Bukan seperti kebanyakan orangtua sekarang yang ‘bernafsu’ kepada anaknya,” jelas Cak Nun.

Simbah juga menandaskan, “Jangan unggul-unggulan! Tidak ada yang unggul. Kan, Fadhdholna ba’dhon ‘ala ba’dh(in). Tuhan sudah memberi kelebihan kepada sebagian atas sebagian yang lain. Saran Simbah untuk menghadapi pendidikan sekarang yang tak ideal ini, cukup jangan terlalu menentang, tapi juga tidak mudah kompromi.

Kemudian dari pertanyaan tentang kearifan lokal yang berkorelasi dengan etos kerja manusia khususnya di jawa ini, Cak Nun berpendapat, “Jangan memakai istilah kearifan lokal. Itu cara Barat untuk mengerdilkan Anda. Sebut saja kearifan Jawa, atau kearifan universal. Sebab nilai-nilai jawa itu universal.”

Sejak awal abad 13 Eropa menyadari akan 2 kekuatan besar di dunia. Yaitu kekuatan Islam dan kekuatan Jawa. Islam sebagai kekuatan nilai, Jawa sebagai kekuatan kebudayaan. Maka mulai datanglah Portugis untuk menghancurkan kombinasi 2 kekuatan tersebut. “Maka untuk mencapai kearifan universal, kawinkanlah islam dengan jawa. Di langgar, di surau atau di manapun asal dalam batas-batas syariat yang dipenuhi,” imbuh Cak Nun.

Behind the venue

Sejak jalan masuk di ujung Desa Karang Kopek, nampak sekali bahwa untuk mengadakan acara Tadabburan CNKK malam itu segenap warga masyarakat begitu solid. Bagaimana tidak? Di semua ruas jalan menuju venue, bahkan di hampir setiap halaman rumah warga terpasang lampu neon berdaya 100 watt. Tak tanggung-tanggung, berdasar data yang dihimpun Tim MQ tidak kurang 250 lampu neon diadakan khusus untuk acara ini. Betapa kerja keras seluruh elemen masyarakat setempat patut di apresiasi.

Belum lagi banyaknya warga yang siap siaga di setiap sudut desa. Baik menjaga parkir maupun berjaga keamanan. Semua tandang gawe di wilayahnya masing-masing. Kabarnya sebelum event malam itu, beberapa waktu lalu warga Karang Kopek sudah banyak mengadakan event-event seperti Pasar Malam dan kesenian Dayakan hingga 6 kali. Menurut Pak Panut (Penggiat setempat), semua kegiatan tersebut untuk menggalang dana yang dimuarakan untuk acara Tadabburan ini.

Di area venue sendiri panitia banyak menyiapkan alas dari karung-karung bekas untuk alas jamaah. Sedang untuk mengakomodasi jamaah yang tidak dapat menyaksikan lebih dekat, panitia telah menyediakan layar-layar besar dengan proyektor di enam titik. Terdapat pula transmitter yang mengambil gambar dari perangkat broadcasting Adi TV yang malam itu merekam seluruh rangkaian acara. Sehingga melalui jalur UHF, acara dapat disaksikan melalui Televisi secara lokal.

Sedang untuk transit, panitia menyiapkan tiga tempat transit yang semuanya menyajikan aneka masakan maupun snack. Menurut keterangan, semua pengadaan ubo rampe di setiap sektor disengkuyung oleh setiap rukun warga setempat. Sementara untuk area parkir, panitia menyediakan dua puluh enam titik parkir. Hingga acara usai, dikabarkan tempat parkir terisi semuanya.

Dari semua hal di atas dapat kita tadabburi, bahwa sejatinya warga Karang Kopek sudah beres. Artinya di saat mereka mengangkat tema “Guyup Rukun Ing Desaku” pada Tadabburan bersama malam itu, pada saat yang sama apa yang telah mereka upayakan sudah cukup untuk merepresentasikan apa itu guyub rukun, gugur gunung, dan gotong royong yang sesungguhnya.

Kembali ke venue, KH. Muzammil yang didaulat memuncaki acara oleh Cak Nun mengajak masyarakat melantunkan sholawat badar. Dimana sholawat badar itu ditulis oleh orang Banyuwangi, yaitu KH. Ali Mansur. Dimana waktu itu KH. Ali Mansur bermimpi didatangi orang-orang berjubah hijau. Sedang istrinya mimpi didatangi Rasululllah. Maka segera disampaikan kepada Habib Hadi. Oleh Habib Hadi dijawab bahwa itu adalah pasukan badar. Maka segeralah KH. Ali Mansur menulis syair yang kini populer dengan nama sholawat badar itu.

Senada yang disampaikan KH. Muzammil, Cak Nun menegaskan bahwa dari semangat sholawat badar kita tanamkan optimisme. Nabi melakuakn tawar menawar kepada Allah atas sedikitnya kekuatan yang dimiliki saat perang Badar. Innama tunshoruna waturhamuna wa turzaquna bi dhuafa’ikum. Ditambah do’a Inlam takun ‘alayya ghodhobun fala ubali. Yang penting adalah Allah tidak marah kepada kita.

Pukul 00.30 WIB KiaiKanjeng menyuguhkan satu rangkaian nomor mulai One More Night-nya Maroon Five, Beban kasih asmara dan Gugur gunung sebagai representasi dari ‘Jawa’ yang bisa memangku berbagai hal. ’Jawa’ yang bisa dibawa kemana-mana.

Di penghujung acara, Cak Nun semakin intensif memberi wejangan. Diantaranya kepada anak-anak muda agar setidak-tidaknya melakukan salah satu dari tiga hal. Pertama, berkarir yang sungguh-sungguh, jika tidak bisa maka jadilah wiraswasta. Jika tidak bisa juga sekurang-kurangnya berbakti kepada orang tua. Buat orang tua bahagia. “Mudah-mudahan sepulang acara ini anak-anak muda di sini diberi hidayah oleh Allah dan diberikan potensi dan kekuatan baru,” Do’a Cak Nun.

g4

Foto : Maneges Qudroh


Acara dipungkasi dengan tembang Tombo Ati yang sudah diminta oleh panitia untuk mengobati hati anak-anak muda setempat agar lebih ‘ndalan’. Selanjutnya ditutup do’a oleh KH. Muzammil dan Cak Nun pun mempersilahkan jamaah untuk bersalaman sebagaimana biasanya. Malam itu anak-anak muda dan segenap warga Karang Kopek berharap besar. Agar esok hari lebih memiliki ketangguhan untuk terus berkarya tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Oleh : Redaksi Maneges Qudroh

 

 

 

 

Tulisan Terkait